Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Penghinaan atas Nabi di Mata Warga Prancis

Penghinaan atas Nabi di Mata Warga Prancis
Agama di mata orang Prancis sangatlah berbeda dengan di mata umat Islam.
Agama di mata orang Prancis sangatlah berbeda dengan di mata umat Islam.

Emmanuel Macron, presiden Prancis, dan Erdogan, presiden Turki, saling serang. Erdogan mengajak untuk memboikot produk Prancis dan menyuruh Macron untuk tes kesehatan mental. Pemerintah Prancis marah atas ucapan itu dan menarik dubesnya di Turki. Para demontran beraksi di beberapa negara Islam: Palestina, Qatar, Iran, Pakistan, dan Bangladesh. Mereka mengecam sikap Macron yang membela majalah Charlie Hebdo yang memuat karikatur yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad. Melihat banyak serangan dari dunia Islam, komunitas Eropa seperti pemimpin Yunani dan Jerman pun tampil membela Macron.


Charlie Hebdo (mingguan Charlie) lagi-lagi membuat kericuhan dengan hal yang sama. Pada 2015 kartun satir Nabi Muhammad telah menyulut amarah umat Islam dan mendorong seseorang untuk menyerang kantor Charlie Hebdo dan memuntahkan peluru hingga 12 nyawa wartawan dan karyawan majalah satir tersebut melayang. Aksi itu tidak membuat kapok. Bahkan Charlie Habdo membuat headline satir: "Shariah Hebdo" yang berisi anekdot Nabi Muhammad berkata: “100 cambukan bagi yang tidak mati tertawa”. 


Yang heboh belakangan adalah tentang seorang guru di Prancis yang mengajarkan kepada muridnya bahwa adalah bagian dari kebebasan berekspresi membuat lelucon figur politik dan agama. Samuel Paty, sang guru, kemudian menunjukkan contoh anekdot Nabi Muhammad. Kejadian itu akhirnya sampai ke telinga salah seorang pemuda Muslim asal Chechnya Rusia yang secara diam-diam melakukan aksi penyerangan terhadap sang guru dan memenggal kepalanya. Usai melakukan itu dia pun diburu polisi dan ditembak mati. 


Kematian Samuel Paty mengundang simpati rakyat Prancis hingga mereka ramai menghadiri pemulasaraannya. Emmanuel Macron sang presiden menganugerahi Paty gelar kehormatan dan menganggapnya sebagai pahlawan kebebasan. Sebaliknya Erdogan mengkritik Macron karena tidak sensitif terhadap perasaan umat Islam. Unjuk rasa dan ajakan boikot Erdogan atas produk Prancis pun dibalas oleh menteri luar negeri Prancis bahwa ini semua adalah perkara penggorokan yang dilakukan oleh teroris Muslim penganut radikalisme. Mengapa umat Islam global menyerang pemerintah Prancis dan mengajak boikot?


Agama di mata orang Prancis sangatlah berbeda dengan di mata umat Islam. Inilah pangkal permasalahannya. Rakyat Prancis dan masyarakat Eropa pada umumnya memandang agama sebagai peradaban lama yang tidak lagi relevan untuk saat ini. Eropa semenjak abad 17 mencanangkan perubahan orientasi hidup dari berpusat kepada Tuhan atau teosentrisme ke berpusat pada manusia atau antroposentrisme. Dengan perubahan ini, masyarakat Eropa tidak lagi berpatron kepada tokoh agama tapi pada ilmuwan. Masa hegemoni agama terhadap kehidupan manusia telah berakhir dan diganti oleh ilmu pengetahuan. Friedrich Nietzsche dengan lantang mengatakan “Tuhan telah Mati”, yang berarti agama tidak lagi eksis di dunia. 


Lebih lanjut mereka mencanangkan sekularisme atau yang orang Prancis sebut dengan Laïcité, yaitu pemisahan antara urusan agama dan negara. Agama wilayahnya ada di rohani dan langit (akhirat), bukan di materi dan bumi. Kebebasan manusia dijunjung tinggi sebagai pelampiasan dari penderitaan hidup di bawah kekuasaan gereja yang memerintah atas nama Tuhan. Semangat kemanusiaan atau humanisme untuk selanjutnya yang menggelora dan bukan kepatuhan kepada Tuhan. Ketaatan kepada perintah demi Tuhan diganti dengan ketaatan kepada perintah demi manusia.


Dengan posisi agama yang tertuduh sebagai penyebab kesengsaraan, maka menghina agama adalah pemandangan yang umum di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika. Bagi mereka, hal itu merupakan simbol perubahan. Dari sini maka tidak heran kalau simbol agama sering menjadi objek lelucon dan sindiran (satir) media. Sinead O’Connor sang penyanyi tembang "Nothing Compares 2U", kala show di atas panggung menunjukkan foto Paus Yohanes Paulus II, pemimpin Katolik sedunia, dan merobeknya sambil berkata: “Lawan musuh yang sesungguhnya”. Pernyataan semacam itu jamak di dunia Barat. Gambar Jesus dan pemimpin gereja dibuat karikatur lelucon yang selain ekspresi agnostik, ia memiliki daya tarik yang menguntungkan media. Ketika karikatur Muhammad muncul di Charlie Hebdo, oplah majalah naik dari yang biasanya 100.000/hari menjadi 150.000. 


Pandangan terhadap agama yang seperti ini tentu bertolak belakang dengan pandangan umat Islam yang sangat menjunjung tinggi agamanya. Umat Islam tidak mengalami masa kelam (the Dark Age) seperti di Eropa yang berlangsung satu milenium dari abad ke-5 hingga ke-15M. Saat mereka hidup di bawah kekuasaan raja dan gereja yang kejam yang penuh mistik dan takhayul. Hukuman penyiksaan dan pembakaran hidup-hidup dilakukan atas mereka yang menentang perintah gereja. Film "Stealing Heaven" sedikit menggambarkan itu dan banyak film Hollywood tentang itu. Matinya akal dan kejamnya hidup di bawah kekuasaan absolut agama pada akhirnya membangkitkan kesadaran kolektif untuk melawan hingga muncul Revolusi Eropa. Revolusi yang mengubah total seluruh sendi kehidupan dari yang semula berdasarkan kitab suci menjadi berdasarkan akal yang tercerahkan dan rujukan filsafat. Eropa menuai sukses besar dan mencapai keadilan, kemakmuran, dan kemajuan di segala bidang setelah meninggalkan agama dan menyingkirkannya dari urusan duniawi. Orang Arab, khususnya di Afrika Utara, yang terkagum dengan capaian itu memimpikan hidup di sana. Segala cara mereka tempuh hingga menggadaikan nyawa saat perahu imigran gelap menyeberangi laut Mediterania dan tenggelam.


Penghargaan terhadap budaya umat Islam yang menjunjung tinggi Nabi Muhammad haruslah diberikan oleh masyarakat Eropa biarpun mereka anti agama. Pergaulan lintas negara dan budaya menuntut hal itu. Baik Jacques Chirac (Presiden Prancis 1995-2007) mau pun Francois Mitterand (1981-1995) pernah mengingatkan namun tidak diindahkan oleh Charrlie Hebdo demi kebebasan.


Meski demikian, tindakan main hakim sendiri hingga memenggal kepala orang jauh lebih mengerikan. Penghinaan terhadap Nabi masih bisa diperdebatkan terkait respons dan hukuman apa bagi sang pelaku di mata hukum Islam. Tapi tindakan membunuh apalagi dengan cara seperti itu sungguh di luar nalar. Sang penghina berada di lingkungan di mana perbuatan itu adalah legal. Dia tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Dunia Islam tidak boleh berhenti pada kasus penghinaan tapi juga harus mengutuk aksi brutal yang dilakukan oknum Muslim dan berempati terhadap rakyat Prancis. Mencuri dilarang tapi pengeroyokan terhadap pelaku sampai mati lebih dilarang sebab yang kedua lebih parah daripada yang pertama. Di sini keadilan dalam bersikap dituntut dan tidak berpikir sepihak. Seandainya tidak ada aksi brutal itu tidak mungkin Macron bersikap tegas membela pelaku yang oleh Erdogan dianggap dukungan terhadap penghina Nabi Muhammad.


Achmad Murtafi Haris, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

BNI Mobile