Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Cerita Rif’at Raih Terbaik Pertama MTQ Nasional Cabang Tahfiz 30 Juz

Cerita Rif’at Raih Terbaik Pertama MTQ Nasional Cabang Tahfiz 30 Juz
Muhammad Rif'at Al-Banna. (Foto: dok. pribadi)
Muhammad Rif'at Al-Banna. (Foto: dok. pribadi)

Jakarta, NU Online

Muhammad Rif'at Al-Banna meraih terbaik pertama pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-28 di Padang, Sumatera Barat. Ia mendapatkan nilai hampir sempurna, yakni 96,58.


Ditemui NU Online di penginapannya di daerah Olo, Padang, Sumatera Barat, pada Rabu (19/11) malam, Rif’at yang terlihat masih lemas karena sedang kurang sehat memang mengaku tidak mendapat teguran dari dewan hakim saat ia tampil. Artinya, ia memang tampil dengan performa terbaiknya. Tak ayal, ia berhasil meraih penghargaan tersebut.


Sebetulnya, keikutsertaannya pada MTQ dibayang-bayangi dengan nasihat gurunya, yakni niatkan MTQ sebagai media untuk melancarkan hafalannya. Dengan begitu, menang atau pun kalah bukanlah masalah.


“Boleh (ikut MTQ) asal niatnya buat ngelancarin hafalan Qur’an. Kalau hilang niat buat ngelancarin hafalan Qur’an, mending gak usah ikutan,” katanya mengutip pernyataan kiainya.


Dengan niat demi melancarkan hafalan Al-Qur’annya, saat menang tidak akan jumawa, pun ketika kalah tidak akan kecewa. Karenanya, mengutip pernyataan Kiai Syahrir Ali Basya, “Jadikan MTQ untuk Al-Qur’an, bukan Al-Qur’an untuk MTQ.”


Karenanya, sebelum tampil, ia hanya di kamarnya saja dan menuntaskan hafalannya 30 juz, selain memang karena sedang kurang sehat. Rif’at mengaku kalah ataupun menang, ia tetap bahagia sebab telah menuntaskan murajaahnya.


Tak ayal, hal ini menjadi kekuatannya untuk tampil secara maksimal sehingga tidak mendapatkan satu teguran pun dari dewan hakim. Artinya, saat meneruskan ayat yang dibacakan dewan hakim, ia tidak salah satupun.


Keikutsertaannya dalam setiap ajang MTQ memang tidak memasang target apapun, kecual satu hal, yakni tetap menjaga kelancaran hafalannya. Sebab, kelancaran hafalan itu sudah dapat mencakup semua hal, termasuk juara.


“Kalau nyarinya juara, ketika kalah kita kecewa. Tapi kalau nyarinya buat ngafal, buat ngelancarin, terus-terusan ngaji, jadikan momentum karena saya rasa tidak ikut MTQ tidak ada pendorong lebih,” kata Ketua Program Tahfiz di Pondok Pesantren Ulumul Qur’an Al-Mustofa, Sumedang, Jawa Barat itu.


Ketika sudah ada kabar kapan digelar MTQ, ia terus memperkuat hafalannya dibantu keluarga dan teman-temannya untuk menyimak dan mengetesnya.


Memang sudah cita-cita Rif'at Al-Banna untuk menjadi penghafal Al-Qur'an. Tekadnya yang kuat dan bulat membuatnya begitu cepat menghafalnya. Rif'at bercerita bahwa ia mulai menghafal Al-Qur'an sejak kelas 3 SMP menjelang ujian nasional. Sampai tamat SMP, ia berhasil menyelesaikan hafalannya dua juz.


Lalu, ia hanya butuh waktu 10 bulan tambahan untuk menyelesaikan hafalannya sampai 30 juz. Hal itu ia lakukan di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana, ia sekaligus menuntaskan studi aliyahnya.


Meski sudah hafal dan tamat aliyah, ia tidak langsung pulang. Ia melanjutkan pendalaman keilmuannya di bidang Al-Qur'an dengan takhassus mengambil ijazah pada salah seorang kiai di Tebuireng sembari belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri.


Jalan Keikutsertaan di MTQ


Pertama kali ikut MTQ 2006 murotal. Saat itu, ia menyabet peringkat kedua di tingkat Kabupaten Bandung.


Kemudian, ia kembali mengikuti MTQ pada tahun 2014. Saat itu, ia menjadi peserta pada cabang tahfiz 10 juz. Di tingkat Provinsi Jabar, ia baru mendapat harapan pertama. "Di situ sudah ada pengalaman. Semangat untuk tahun berikutnya," katanya.


Tahun berikutnya, ia juga meraih harapan pertama di cabang yang sama, tahfiz 10 juz. Bedanya, tahun 2015 itu ia meraihnya di tingkat nasional, yakni pada perhelatan Seleksi Tilawatil Qur'an (STQ) di Pondok Gede.


Tahun 2016, prestasinya semakin meningkat. Pria kelahiran Oktober 1997 itu berhasil menyabet terbaik pertama pada MTQ Nasional Ke-26 di Nusa Tenggara Barat. Tidak lagi di cabang tahfiz 10 juz, kala itu, ia ikut serta pada cabang tahfiz 20 juz.


Rif'at pun meraih terbaik kedua tingkat Asia Pasifik pada MTQ yang digelar Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia.

 

Tidak berhenti di situ. Ia pun melanjutkan di cabang 30 juz. Tahun 2017, ia hanya berada pada terbaik ketiga di tingkat provinsi. Setahun berikutnya, 2018, pada MTQ Nasional Ke-27 di Medan, Sumatera Utara, ia meraih terbaik kedua. Rif'at diutus menjadi perwakilan Indonesia untuk MTQ internasional di Turki pada tahun 2019 dan meraih terbaik kelima.


"Alhamdulillah kelima juga bangga karena tingkat internasional," ujar pria 23 tahun itu.


Menularkan dan Menelurkan


Tekadnya sekarang bukan lagi ikut serta dalam MTQ mengingat sudah serangkaian prestasi diraihnya. Lebih berat dari itu, ia memiliki beban untuk menularkan dan menelurkan prestasinya ke anak didiknya di pesantren yang dibangun ayahnya.

 

“Percuma kamu juara kalau belum bisa nularin dan nelurin, hanya untuk kamu saja,” katanya mengutip pernyataan kiainya di Madrasatul Qur’an Tebuireng.


Sebab, jika tidak dapat menularkan dan menelurkan prestasi yang pernah diraihnya ke anak didiknya, artinya tidak bermanfaat. “Di mata saya walaupun kamu juara internasional tapi belum ada santri-santrimu yang kamu orbitkan menjadi penerus kamu, belum sukses kamu,” katanya kembali mengutip pernyataan kiainya.


Nasihat tersebut menjadi motivasi lebih baginya untuk menggalakkan bimbingan kepada para santrinya. Bahkan, mereka yang memiliki kemampuan lebih ia kirim khusus untuk langsung mengaji kepada gurunya di Madrasatul Qur’an Tebuireng. “Beberapa santri ada yang saya titipkan di guru saya di Jombang supaya lebih matang lagi,” katanya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile