Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ketua BWI Sebut Indonesia Masuk 10 Besar dalam Hal Kedermawanan

Ketua BWI Sebut Indonesia Masuk 10 Besar dalam Hal Kedermawanan
Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) M Nuh. (Foto: Istimewa)
Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) M Nuh. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) M Nuh menyebut bahwa berdasarkan survei, dalam sepuluh tahun terakhir, bangsa Indonesia berada pada posisi ke-10 terkait dengan kedermawanan. Sikap dermawan dapat mendorong kemaslahatan umat sebab dari sikap tersebut kelompok masyarakat dapat terbantu.


“Hasil survei sepuluh tahun terakhir Indonesia termasuk nomor 10 kedermawanannya, sehingga bukan bangsa Indonesia kalau tidak dermawan,” kata M Nuh saat memberikan kata sambutan di Wakaf Goes to Campus Virtual 2020, Selasa (24/11).


Potensi ini terus dimaksimalkan BWI untuk dengan mendorong para generasi muda untuk lebih meningkatkan sikap dermawan melalui wakaf. BWI menginginkan wakaf menjadi gaya hidup bagi anak-anak muda untuk mendorong kesejahteraan umat. Kalangan anak muda harus menjauhi sikap pelit demi terwujudnya kehidupan yang lebih harmonis.


Untuk memaksimalkannya, BWI melibatkan sejumlah perguruan tinggi di berbagai daerah untuk memaksimalkan sosialisasi wakaf kepada kelompok milenial diantaranya adalah para mahasiswa.


Sementara itu, Menteri Agama RI,  Jendral (Purn) Facrul Razi, menegaskan, literasi perwakafan di kalangan perguruan tinggi perlu diperkuat. Pemerintah bersama BWI telah melakukan pemetaan untuk memperkuat literasi wakaf tersebut.


Meski begitu, Menag optimis program perwakafan yang dimotori oleh BWI dapat berkembang menjadi pilar pembangunan nasional. Menurutnya, sikap optimis itu didasari dari pengamatannya pada sepuluh tahun terakhir, dimana gerakan perwakafan di Indoenesia terus mengalami kemajuan.


“Ini dapat dilihat dengan banyaknya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan produk perwakafan, jika dulu wakaf identik dengan tanah kuburan dan Masjid, kini wakaf dapat dijumpai dalam produk keuangan syariah,” tuturnya.


Selanjutnya, Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Kalimantan Timur, Prof Masjaya, mengungkapkan, pemberian tanggung jawab kepada perguruan tinggi untuk memperkuat literasi wakaf oleh BWI merupakan hal yang positif. Kata dia, manfaat wakaf jelas memberikan dampak yang positif untuk kehidupan umat.


Misalnya saja terkait wakaf yang bisa dijadikan sebagai investasi jangka panjang oleh masyarakat terutama kalangan anak muda seperti mahasiswa. Persoalan ini, lanjutnya, dapat mendorong terwujudnya kesejahteraan bangsa sebab konsep yang diperkuat oleh BWI yakni pengelolaan wakaf produktif.


“Tidak hanya itu ternyata selain di dunia memberikan manfaat, ternyata amal jariah dalam bentuk wakaf akan memberikan pahala yang terus mengalir walaupun kita sudah berada di alam kubur,” ujarnya.


Unmul, kata Prof Masjaya, telah berkomitmen mendukung sikap BWI untuk memperkuat literasi wakaf di perguruan tinggi. Langkah itu dapat dilakukannya dengan menjadikan masyarakat kampus sebagai pemberi wakaf berdasarkan kemampuannya.


“Selanjutnya, masyarakat kampus harus mampu memberi meneruskan informasi kepada seluruh elemen masyarakat tentu termasuk yang di luar kampus,” pungkas dia.


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile