Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Napak Tilas Muktamar NU 1930 di Pekalongan

Napak Tilas Muktamar NU 1930 di Pekalongan
Peta sekitar area Muktamar NU tahun 1918. (Foto: Perpustakaan Leiden)
Peta sekitar area Muktamar NU tahun 1918. (Foto: Perpustakaan Leiden)

Tahun 1930 silam, Kongres atau Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kembali diselenggarakan di wilayah Jawa Tengah, setelah tahun sebelumnya Muktamar dihelat di Kota Semarang. Kali ini, giliran Pekalongan yang ditunjuk untuk menjadi tuan rumah gelaran Muktamar yang kelima.


90 tahun berselang, di penghujung Oktober 2020 lalu, penulis mencoba untuk menapak tilasi peristiwa tersebut. Berbekal dari tulisan di Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi tahun 1349 H, penulis mengawali kegiatan napak tilas, dengan mendatangi dua tempat yang disebutkan dalam Majalah SNO, yakni Hotel Oranye dan Masjid Jami’ Pekalongan.


Dalam catatan Majalah SNO disebutkan, pelaksanaan Kongres (Muktamar) dimulai sejak Selasa, 15 Rabi’ul Akhir atau 8 September 1930, bertempat di Hotel Oranye dan Masjid Jami’ Pekalongan.


“Kongres Nahdlatul Ulama kang kaping gangsal dhawah tahun 1349 Hijriah. Punika manggen wonten Griya (Oranye Hotel) Kampung Kepatihan Straat Pekalongan. Wiwit malem Selasa (tanggal 15) dumugi dinten Kamis (17) wulan Rabi’uts Tsani 1349 / 8 dumugi 11 September 1930. Salajeng malam Jum’at, tanggal 18 sedaya putusan kadamel Openbaar (ijtima’ umume) wonten Masjid Jami’ Pekalonga.”

 

(Kongres Nahdlatul Ulama yang kelima jatuh (terselenggara) pada tahun 1349 Hijriah. Bertempat di Hotel Oranye Kampung Kepatihan Straat Pekalongan. Dimulai sejak malam Selasa (tanggal 15) hingga Kamis (17) bulan Rabiuts  Tsani 1349 atau bertepatan dengan tanggal 8-11 September 1930 M. Kemudian, pada malam Jumat, tanggal 18 Rabiuts Tsani semua hasil pembahasan diplenokan bersama, bertempat di Masjid Jami' Pekalongan).

 

Untuk Masjid Jami’ yang terletak di daerah Kauman, Kota Pekalongan, penulis tidak banyak menemui kesulitan untuk menemukannya. Sebab sampai sekarang, masjid yang dibangun pada tahun 1852 M itu masih berdiri dengan kokoh, di sebelah Barat Alun-alun Kota Pekalongan.


Sedangkan,ketika mencari keberadaan hotel Oranye Kepatihan, penulis mengalami kesulitan, sebab hotel tersebut kini sudah berganti nama serta keberadannya juga tidak banyak yang tahu. Penulis kemudian mencoba melacak nama kampung Kepatihan, dari sebuah peta Pekalongan tahun 1918, yang ternyata terletak tak jauh dari Masji Jami’ Pekalongan. (lihat peta)


Faktor Penting


Tentu bukan sebuah kebetulan, bila Muktamar yang ke-V ini diselenggarakan di daerah yang terkenal sebagai penghasil kain batik tersebut. Pertama, pada dua tahun sebelumnya atau tepatnya tanggal 9 Rabi’ul Awwal 1347 H /25 Agustus 1928, telah berdiri cabang NU di Pekalongan.


Prosesi pendirian dan pengukuhan pengurus, sebagaimana disebutkan dalam SNO, yang bertempat di Kampung Pesindon, Kergon, Pekalongan, dihadiri langsung rombongan dari Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama’ (HBNO/ kini disebut PBNU) yang diwakili KH Abdul Wahab Chasbullah, yang didampingi KH Bisri Syansuri, yang saat itu masih menjadi Pengurus Cabang NU Jombang.

 

Selain itu juga turut Kiai Abdullah Ubaid, tokoh muda NU dari Surabaya. Adapula KH Faqih Maskumambang dari Gresik dan seorang rekannya yang menjadi pengurus Nahdlatul Wathan Cabang Gresik, KH Dlofier Muhammad Rofi'i.

 

Masjid Jami' Pekalongan (Foto: infosekitarpekalongan)

 

Setelah disepakati berdirinya NU Cabang Pekalongan, kemudian disusun pengurus syuriah dan tanfidziah. Adapun susunan pengurus NU Cabang Pekalongan periode pertama, adalah sebagai berikut:


Syuriah: Kiai Abbas Medelan (Rais), Kiai Zuhdi Kergon (Naib Rais), Kiai Ismail Kergon (Katib), Kiai Ma’shum Kergon, Kiai Dahlan Krapyak (A‘wan), dan Kiai Amir Banyuurip (Mustaysar).


Tanfidziyah: Haji Ambari Ismail Pesindon (Presiden/Ketua), Haji Ahmad Pesindon (Wakil Presiden), Abdullah Pesindon (Sekretaris), Nahrowi Pesindon (Bendahara), Masyhuri Pejagalan, Ambari Kurdi Pesindon, Fadoli Kauman, Muhammad Hadi Pesindon, dan Abdul Latif (Komisaris).


Tak hanya berhasil menyusun kepengurusan cabang pertama, pada pertemuan itu juga disepakati program kerja pertama yang akan dilaksanakan oleh NU Pekalongan. Programnya adalah menggelar pendidikan keagamaan setiap hari Senin dan Kamis di Masjid Jami’ Kauman Pekalongan.


Kedua, wilayah Karesidenan Pekalongan ini menjadi jalur penting yang menghubungkan antara Kota Semarang, sebagai pusat daerah Jawa Tengah dengan daerah Cirebon, kemudian Jawa Barat dan Batavia, yang menjadi wilayah sasaran pengembangan NU di tahun-tahun berikutnya.


Hasil Kongres


Antusiasme masyarakat Pekalongan terhadap penyelenggaraan ini cukup besar, terbukti ketika diadakan kegiatan pengajian umum di Masjid Jami’ Pekalongan, dihadiri sekitar 5000 orang. Sedangkan dari catatan buku tamu yang dimiliki panitia, tercatat ada 2222 orang yang ikut terlibat atau menghadiri acara muktamar di Pekalongan, mulai dari awal hingga akhir.


Para kiai yang hadir, selain dari pengurus pusat, juga dari Pekalongan sendiri di antaranya Kiai Zuhdi, Kiai Munawwir, Kiai Amir, Kiai Abu Bakar, Kiai Mr. Usman, Kiai Mr. Ahmad, Kiai Mahfudh, Kiai Mawardi, Kiai Dimyati, Kiai Subki, Kiai Raden Abdul Qadir, dan lain sebagainya.


Sedangkan dari luar Pekalongan, seperti Semarang diwakili Kiai Usman, Kiai Hamim, beserta rombongan. Dari Solo diwakili Kiai Kholil. Kemudian dari wilayah luar Jawa Tengah, ada dari Cirebon yang diwakili Kiai Abbas dan rombongan. Lalu Kiai Ridwan dari Surabaya.


Termasuk yang tidak kalah penting dari Muktamar ini, yakni kehadiran dan pernyataan dukungan dari KH Dimyati Tremas kepada NU, yang semakin menggugah semangat para kiai lainnya, khususnya para kiai dan santri alumni Tremas yang sudah tersebar ke berbagai penjuru untuk semakin mantap berkhidmat bersama NU.


Beberapa persoalan yang dibahas dalam Kongres atau Muktamar ke-5 ini, antara lain macam-macam kafir, membeli emas dengan uang kertas, memakai sandal yang diketemukan di masjid, anak yang lahir sesudah ibunya di-talaq, perayaan untuk memperingati jin penjaga desa/sedekah bumi, melempar kendi yang penuh air pada upacara ketujuh dari umur kandungan (tingkeban), berdiri ketika memperingati maulud nabi, dan lain sebagainya.


Penulis: Ajie Najmuddin

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile