Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Belajar dari Kesederhanaan Gus Dur

Belajar dari Kesederhanaan Gus Dur
Ketika menemui seseorang yang dianggap penting, atau saat sowan ke para kiai, bisa saja Gus Dur sebagai presiden membawa iring-iringan para pengawal, dengan bunyi sirine mobil vooridjer yang memekakkan telinga, disambut dengan upacara resmi layaknya pejabat negara. (Foto: dok NU Online)
Ketika menemui seseorang yang dianggap penting, atau saat sowan ke para kiai, bisa saja Gus Dur sebagai presiden membawa iring-iringan para pengawal, dengan bunyi sirine mobil vooridjer yang memekakkan telinga, disambut dengan upacara resmi layaknya pejabat negara. (Foto: dok NU Online)

Oleh: Muhammad Makhdum
Pantas kiranya jika menyebut Gus Dur sebagai teladan dalam kesederhanaan. Ya, kesederhanaan Gus Dur asli bukan buatan, bukan pula untuk keperluan pencitraan. Tidak hanya saat masih muda, ketika menjadi presiden dan setelah lengser sekalipun, Gus Dur tidak pernah kehilangan kesederhanaannya. Padahal, jangankan jadi presiden, orang awam seperti kita saja seringkali memiliki perilaku dan gaya hidup yang jauh dari sederhana.

 

Gus Mus, sahabat dekat Gus Dur sering berpesan bahwa hidup sederhana itu seharusnya mudah, karena tidak membutuhkan banyak biaya atau energi. Dengan hidup sederhana, orang bisa menjalani kehidupannya dengan ringan, santai, apa adanya, dan tidak ngoyo, apalagi banyak gaya.

 

Tetapi rupanya, kebanyakan manusia kurang suka hidup sederhana. Bisa jadi karena hidup sederhana itu terkesan kampungan, kurang bergengsi, dan nggak keren. Akibat menuruti gengsi dan agar terlihat keren itulah, orang akhirnya banyak gaya dan memaksa diri di luar batas kewajarannya. Baik dalam makanan, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, kendaraan, atau gaya hidup lainnya. Kesimpulannya, hidup sederhana itu ternyata tidak sederhana. 

 

Kesederhanaan merupakan perwujudan dari sifat rendah hati atau tawadlu, yang merupakan salah satu poin penting dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, para kiai pesantren senantiasa memberikan teladan kesederhanaan kepada semua santrinya. Tidak mengherakan jika para kiai dan santri pesantren, seberapa pun tinggi kedudukannya di masyarakat, sepenting apa pun jabatannya di mata publik, mereka semua tetap sederhana.

 

Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabatnya dulu juga menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan? Bukankah para tokoh Republik dan founding fathers bangsa ini juga ditempa oleh kesederhanaan? Mereka semua dilahirkan, hidup, berjuang, dan mati dalam kesederhanaan. 


***
Teladan kesederhanaan hidup Gus Dur memang nyata. Ketika menemui seseorang yang dianggap penting, atau saat sowan kepada para kiai, bisa saja Gus Dur sebagai presiden membawa iring-iringan para pengawal, dengan bunyi sirine mobil vooridjer yang memekakkan telinga, disambut dengan upacara resmi layaknya pejabat negara.

 

Tapi Gus Dur malah tidak menyukai protokoler seperti itu. Bahkan saat Gus Dur sowan ke ulama kharismatik Mbah Abdullah Salam Kajen, Gus Dur malah datang hanya ditemani beberapa orang, dan bahkan nyelonong lewat pintu belakang pesantren, menyibak di antara pakaian yang tergantung di kawat jemuran para santri. 

 

Suatu ketika Romo Franz Magnis-Suseno pernah terkejut manakala mendapati tumpukan kardus mie instan berisi pakaian yang diikat tali rafia di salah satu sudut kamar Istana negara.

 

"tu pakaian punya siapa sih, kok ditumpuk kayak gitu?"  tanya Romo Magnis kepada staf presiden. "Oh, itu baju-baju Presiden Gus Dur untuk kunjungan kenegaraan ke Tiongkok," jawab staf presiden santai. Lha, ini mau kunjungan resmi kenegaraan atau mau mudik lebaran, sih? 

 

Sebagai orang nomor satu di Republik, Gus Dur juga tidak pernah memberikan fasilitas mewah pada anak-anaknya, apalagi diam-diam memintakan saham perusahaan atau bagi hasil dari lelang proyek besar pada zamannya. Jangankan aji mumpung memanfaatkan jabatan di Istana, semua anak dan menantunya malah dibiarkan mencari penghidupan sendiri, bahkan terkesan cenderung 'tidak diurusi'. 

 

Ustadz Tengku Zulkarnain, mantan Wasekjen MUI yang populer di jagat twitter itu bahkan menangis ketika melihat pengakuan Ibu Shinta Nuriyah tentang kesederhanaan Gus Dur sehari-hari. Saat menunggu di bandara, ustadz Tengku tanpa sengaja mendapati wawancara istri Gus Dur di stasiun televisi swasta. Ibu Shinta bertutur bahwa Gus Dur tidak pernah sekalipun protes dengan apa pun yang dimasak olehnya.

 

Apalagi ditayangkan pula saat Gus Dur sedang makan dengan lahap, menyantap nasi putih cuma dengan sepotong ayam goreng saja, tanpa sambal, tanpa sayur, dan semacamnya. Sebaliknya, Ustadz Tengku mengaku sering memarahi istrinya jika memasak masakan yang itu-itu saja atau tidak sesuai dengan seleranya. Seketika, Ustadz Tengku menangis dan menelepon istrinya untuk meminta maaf atas perilakunya itu. 


Cerita berbeda datang dari Priyo Sambadha Wirowijoyo, staf kepresidenan sejak era Pak Harto. Dalam buku Presiden Gus Dur: The Untold Stories, Mas Priyo menceritakan kisah yang luar biasa. Setiap kali terpilih Presiden atau Wapres baru, pastilah ada sesi foto resmi kepresidenan yang akan diedarkan ke seluruh masyarakat. Foto itu nantinya akan dipasang di instansi pemerintah, kantor, lembaga pendidikan, dan sebagainya, menggantung di dinding sebelah kiri kanan lambang negara, Garuda Pancasila. 


Foto kepresidenan ada dua jenis. Pertama adalah foto dengan posisi berdiri, menggunakan jas gelap yang ditempeli berbagai jenis emblem berkilauan yang menunjukkan kepala negara sebagai Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dilengkapi dengan selempang warna kuning emas dengan garis merah menyala, menempel di bahu kanan dan menyilang ke pinggang sebelah kiri. Foto kedua lebih sederhana, yaitu berupa pas foto yang hanya dihiasi emblem kecil kepresidenan di dada kiri yang menggantung pada pita merah putih. 


Meskipun kelihatannya cuma urusan jepret-jepret kamera, ternyata sesi foto kepresidenan sangat rumit, terutama dari sisi teknis. Semua harus dilakukan agar mendapatkan hasil foto dengan kualitas prima. Mulai dari persiapan alat-alat fotografi, tata lampu atau pencahayaan, pemilihan lokasi, pemilihan model sementara untuk uji coba, teknik pengambilan gambar, durasi waktu, hingga kesesuaian jadwal antara Presiden dan Wapres. 


Singkatnya, hari H pemotretan itu telah tiba dan presiden Gus Dur telah sampai di lokasi ditemani Ning Yenny Wahid, memakai jas lengkap dengan dasinya. Segera para staf dan juru foto sibuk memasangkan berbagai atribut di jas yang dikenakan presiden, berbagai emblem logam dilap ulang untuk menghilangkan bekas sidik jari para kru foto, memasang selempang agar tidak terlihat miring, menyesuaikan dengan bentuk tubuh presiden. 


Setelah semua siap, foto diambil puluhan kali untuk diambil hasil gambar yang paling bagus. Rupanya, tidak ada satupun foto yang memenuhi kriteria. Setelah difoto ulang, hasilnya tetap sama. Usut punya usut, ternyata biang keroknya terletak pada jas presiden yang kurang prima alias kucel. Perlu ganti jas yang lebih rapi. 


Segera Ning Yenny meminta asistennya untuk mengambil jas lain di dalam mobil. Setelah diberikan pada kru foto, ternyata jas penggantinya malah jauh lebih jelek. "Apa nggak ada jas lainnya yang lebih bagus?" tanya Ning Yenny pada asistennya. "Mboten wonten,, Mbak. Jase Gus Dur nggih namung kalih niki." (Nggak ada, Mbak. Jas yang dimiliki Gus Dur ya cuma dua ini). 


Seorang presiden, ketua PBNU, tokoh besar, berkawan akrab dengan para pemimpin dunia, ternyata hanya punya dua potong jas, bukan jas bermerek lagi. Sepertinya tidak bisa dipercaya, tapi memang demikianlah kenyataannya. Padahal beberapa presiden RI sebelumnya dan sesudahnya, setiap sesi foto selalu menyiapkan jas yang paling istimewa yang sudah pasti sangat mahal harganya. Jangankan presiden, harga setelan jas para menteri dan pejabat di era Gus Dur sendiri, konon mencapai puluhan juta. 


Itulah Gus Dur. Presiden yang lebih suka memakai sandal, karena jika memakai sepatu kakinya justru terasa gatal. Itulah Gus Dur, sosok manusia yang sederhana, tetapi luar biasa pengabdian dan perjuangannya bagi umat manusia. Lahul faatihah.

 

Penulis adalah Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, anggota LTN PCNU Kabupaten Tuban.

Posisi Bawah | Youtube NU Online