Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Innalillahi, KHR Muhaimin Asnawi Salamkanci Magelang Berpulang

Innalillahi, KHR Muhaimin Asnawi Salamkanci Magelang Berpulang
Dari kiri ke kanan KHR Muhaimin Asnawi, Habib Abbas bin Abu Bakar al-Haddad Pekalongan, KHR Mu'tiqun Asnawi. Foto diambil ketika Haflah PP Al-Anwar Jawar Wonosobo pada 2015. (Foto: Istimewa)
Dari kiri ke kanan KHR Muhaimin Asnawi, Habib Abbas bin Abu Bakar al-Haddad Pekalongan, KHR Mu'tiqun Asnawi. Foto diambil ketika Haflah PP Al-Anwar Jawar Wonosobo pada 2015. (Foto: Istimewa)

Magelang, NU Online
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Di awal tahun ini, kabar duka kembali datang dari Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Magelang. KHR Muhaimin Asnawi, Pengasuh Pesantren Al-Asnawi Salamkanci, Bandongan, Magelang, berpulang pada Jumat (1/1) pagi.


“Pakdhe wafat pada Jumat pagi bakda Subuh, kurang lebih pukul 04.30 WIB. Rencananya akan dimakamkan sore ini sekitar jam 15.00 WIB di kompleks makam Pesantren Al-Asnawi Salamkanci Bandongan Magelang,” kata salah satu keponakan Kiai Muhaimin, Gus M Hamam Rozin, kepada NU Online.


“Pakdhe menyusul Abah saya, KHR Mu'tiqun Asnawi, yang wafat pada 27 Muharram lalu,” imbuh Gus Rozin.


Almarhum Kiai Muhaimin yang wafat pada usia 69 tahun ini merupakan putra keempat dari lima bersaudara dari pasangan KHR Asnawi dan Simbah Nyai Hj Maimunah Salamkanci, Bandongan, Magelang.


“Jarak usia pakdhe dengan Abah saya, hanya terpaut satu tahun saja. Pakdhe dilahirkan pada tahun 1952. Sedangkan abah saya setahun setelahnya,” jelas Gus Rozin.


“Pakdhe meninggalkan seorang istri, lima orang anak (awalnya enam, namun sudah meninggal satu, -red), dan tiga orang menantu,” tambahnya.


Santri kelana
Semasa hidupnya, Kiai Muhaimin pernah mondok di beberapa pesantren yang semuanya berada di Jawa Tengah. Ibarat ‘santri kelana’, almarhum ngaji di Pesantren Al-Anwar Maron Loano Purworejo kepada Almukarram Simbah Kiai Zain, kemudian di Lasem Rembang kepada Syekh Masduqi Lasem, Mbah Ma'sum Lasem, dan Mbah Baidlawi Lasem.


“Selain itu, beliau juga pernah mondok di Kajen, Pati kepada Mbah Sahal Mahfudh. Pernah di Tegalrejo Magelang kepada Almukarram Kiai Chudlori, serta tabarukan mondok di Poncol Semarang,” ungkap Gus Rozin.


Tak hanya itu saja, Kiai Muhaimin tercatat merupakan salah satu Mustasyar dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hal ini dibenarkan oleh salah satu Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jateng, Ahmad Fahrurrozi.


“Ya, beliau merupakan Mustasyar PCNU Kabupaten Magelang,” ujarnya.


“Beliau merupakan sosok pengasuh teladan dan dikenal sebagai sosok yang penyabar. Selain sebagai pengasuh pesantren, beliau juga dikenal sebagai macan panggung,” lanjutnya.


Ia menambahkan, salah satu pesan beliau kepada santri jika ingin sukses dalam mengaji adalah agar bisa prihatin sebagaimana keprihatinan kedua orang tua.


“Santri yang mengaji atau mondok harus prihatin, sebab kedua orang tuanya juga prihatin. Agar hasil dan maksud bisa terwujud, kedua orang tuanya harus mau bermujahadah, terutama ibu santri itu,” pungkasnya.


Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Musthofa Asrori

 


 

Posisi Bawah | Youtube NU Online