Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Silaturahim ke PBNU, Menkes Budi Bahas Vaksin Covid-19

Silaturahim ke PBNU, Menkes Budi Bahas Vaksin Covid-19
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin bersilaturahim ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). (Foto: NU Online/Suwitno)
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin bersilaturahim ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin bersilaturahim ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, pada Kamis (7/1). Kunjungannya setelah tujuh hari kerja setelah serah terima jabatan ini, bertujuan untuk meminta dukungan mengenai sosialisasi vaksinasi Covid-19. 


“Vaksinasi ini sesudah saya lihat memang perlu dukungan dari organisasi sosial,” kata Menkes Budi di hadapan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa jajaran pengurus harian lainnya. Dalam pertemuan itu, Menkes didampingi Sekretaris Jenderal Kemenkes dr Oscar Primadi. 


Menkes Budi menjelaskan bahwa vaksinasi yang rencananya akan dimulai pada 13 Januari 2021 ini, bertujuan agar 70 persen dari seluruh penduduk Indonesia bisa divaksin sehingga menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. Hal tersebut supaya dapat mencegah penularan dan menekan angka kasus positif Covid-19.


“Nah untuk mencapai 70 persen ini kan susah. Setelah saya lihat, kami membutuhkan dukungan minimal dari tokoh-tokoh agama untuk bisa membantu meyakinkan rakyat bahwa divaksin itu aman,” harap Menkes pertama RI yang bukan dari kalangan dokter ini.


Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tujuan vaksinasi bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Namun setelah seseorang divaksin maka sesungguhnya dapat menjaga keluarga dan melindungi rakyat banyak.


“Karena kalau kita vaksinasi tidak sampai 70 persen, semua rakyat tidak mendapat manfaatnya. Jadi orang yang divaksin bukan hanya melindungi dirinya sendiri tapi juga melindungi keluarganya dan rakyat. Maka itu kami butuh dukungan,” harapnya, sekali lagi.


Ia juga menyampaikan bahwa pada Rabu, 13 Januari 2021 nanti, rencananya Presiden Joko Widodo akan memulai vaksinasi. Jokowi bakal menjadi orang pertama di negeri ini yang divaksin. Tujuannya agar masyarakat percaya bahwa vaksin aman.


Dalam agenda pada pekan depan di Istana Negara itu, Menkes Budi menyampaikan keinginan Presiden Jokowi agar ada pula perwakilan dari beberapa tokoh organisasi masyarakat yang membersamainya untuk sama-sama divaksin. 


Syarat prioritas vaksinasi, kata Menkes, adalah orang di bawah usia 60 tahun dan belum pernah terkena Covid-19. Ia kemudian meminta nama dari PBNU agar ikut bersama presiden dalam agenda vaksinasi pertama di Istana Negara, Rabu pekan depan. 


“Jadi memang aturannya diberikan terlebih dulu kepada yang belum. Ini yang (Rabu pekan depan) disuntiknya bersama Presiden. Saya disuruh presiden buat nanya ke kiai. Siapa kira-kira dari NU yang masih muda berusia di bawah 60 tahun dan belum pernah kena (Covid-19)?” tanya Menkes. 


Setelah pertanyaan tersebut diberikan, lalu muncul satu nama pengurus harian PBNU yang rencananya akan membersamai presiden untuk divaksin pertama kali di Istana Negara. Nama itu adalah Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin atau Gus Ishom. 


Pada kesempatan itu, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj mengucapkan terima kasih kepada Menkes Budi atas kedatangannya. Ia pun sepakat bahwa mengenai sosialisasi vaksin Covid-19 ini harus bersama-sama dilakukan dengan melibatkan organisasi masyarakat seperti NU. 


Kiai Said menyebut bahwa hingga kini, masih juga terdapat banyak masyarakat terutama di lingkungan NU sendiri yang belum percaya terhadap adanya virus mematikan ini. Terlebih banyak pula beredar kabar bohong mengenai efek samping yang ditimbulkan dari vaksin Covid-19.


“Banyak yang masih tidak percaya Covid-19 dengan beberapa alasan. Banyak juga yang tidak percaya dengan vaksin. Bahkan ada isu akan ada efek samping nanti mulutnya jadi miring dan tangannya lumpuh. Saya pikir itu hoaks, bohong itu,” tegas Kiai Said. 


Selain itu, Kiai Said pun menyampaikan bahwa selama masa pandemi hingga akhir tahun lalu, ada 234 kiai NU yang wafat. Jumlah tersebut diambil dari data yang dihimpun dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU.


Sekadar informasi, pada kesempatan itu hadir pula beberapa jajaran pengurus harian PBNU. Di antaranya Ketua PBNU dr Syahrizal Syarif dan KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Wasekjen PBNU Andi Najmi.


Selain itu, nampak hadir pula Ketua Pagar Nusa HM Nabil Haroen, Ketua Fatayat NU Anggia Ermarini, Ketua Asosiasi Rumah Sakit NU (Arsinu) HM Zulfikar As’ad, dan Ketua Satgas Covid-19 PBNU dr Makky Zamzami.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online