Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kiai Miftach: Tidak Semua Musibah adalah Azab

Kiai Miftach: Tidak Semua Musibah adalah Azab
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar (Foto: NU Online/Suwitno)
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar (Foto: NU Online/Suwitno)

Surabaya, NU Online
Tidak semua musibah yang diberikan kepada manusia adalah azab. Terkadang ada sebuah musibah yang justru adalah kenikmatan. 

 

Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar menyampaikan hal itu saat pengajian rutin kitab syarah Al-Hikam karya Ibnu Athoillah al-Askandari di aula Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, Jumat (8/1).


Kiai Miftach mengisahkan, ada salah seorang wali yang diberikan kelebihan bisa menyembuhkan orang banyak dari berbagai macam penyakit dan doanya mustajab. Tetapi, anehnya wali tersebut mempunyai penyakit sendiri, yakni lepra.

 

"Ada kejadian seorang wali yang memiliki penyakit lepra, tangannya ini mrotoli, tetapi ketika mendoakan orang itu mustajab, langsung dikabulkan, bahkan orang sakit didoakan beliau langsung sembuh," jelasnya.

 

Ia meneruskan, suatu ketika, ada orang yang memberikan saran kepada wali tersebut untuk mendoakan dirinya sendiri agar penyakit lepranya itu sembuh. Kemudian wali tersebut menanggapi dengan menceritakan kejadian yang pernah dialaminya, sebelum mendapatkan kelebihan berupa doa yang mustajab itu. 

 

Wali tersebut dalam mimpi pernah bertemu dengan Allah, dan mendapatkan tawaran memperoleh derajat yang tinggi dan bisa bermanfaat bagi orang banyak. Diterimalah tawaran yang diberikan oleh Allah kepada wali tersebut. Ketika wali tersebut mengiyakan tawaran yang diberikan Allah, seketika itu ia diberikan penyakit lepra. 

 

Setelah wali tersebut diberikan penyakit lepra, ia diberikan juga derajat yang tinggi, yakni doa yang mustajab, bisa menyembuhkan banyak orang dari berbagai penyakit, dan hal itu menjadi bermanfaat bagi orang banyak. 

 

"Nah, penyakit lepra yang dialami itulah adalah bagian dari nikmat, sebab dengan lepranya itulah ia bisa mendoakan orang banyak dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Seandainya ia berdoa agar lepranya sembuh, mungkin ya kelebihan memiliki doa yang mustajab akan hilang, hilanglah derajat tinggi seperti itu," jelas Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini. 

 

Selalu ada hikmah

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) beberapa waktu lalu mengingatkan bahwa segala yang diciptakan Allah Swt tidak bernilai sia-sia. Bahkan selalu selalu ada hikmah di balik musibah atau bencana. Tinggal sekuat apa manusia bisa menggali hikmah yang terpendam di balik bencana tersebut.  

 

Manusia, lanjut Gus Kikin, memang cenderung memiliki pemahaman yang beragam tatkala melihat peristiwa luar biasa di muka bumi ini. Terlebih kejadian itu kemudian memberi efek pada ketidakstabilan berbagai sektor seperti ekonomi tidak stabil, runtuhnya tatanan sosial, sampai bahkan harus menelan korban jiwa yang tidak sedikit, sebagaimana corona misalnya.  

 

Cara terbaik saat menyikapi situasi ini adalah dengan mengembalikan seutuhnya kepada Allah SWT. Dialah Dzat yang menghendaki semua peristiwa terjadi dan yakin bahwa di balik semua itu ada maksud yang sesungguhnya jauh lebih besar dibandingkan besarnya suatu peristiwa.

 

Penulis: Muhammad Alvin Jauhari 
Editor: Kendi Setiawan
 

BNI Mobile