Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Pesantren di Jember ini Bantah Santrinya Jadi Korban Vaksin Covid-19

Pesantren di Jember ini Bantah Santrinya Jadi Korban Vaksin Covid-19
Suasana Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Desa Cangkring Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)
Suasana Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Desa Cangkring Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)

Jember, NU Online
Video pemberitaan tentang puluhan santri Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Desa Cangkring Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember Jawa Timur, yang bergelimpangan dan sebagian tampak digotong sedang viral di media sosial sejak dua hari terakhir ini.


Video tersebut adalah berita yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Jember. Dalam berita berdurasi 2.04 menit itu diinformasikan bahwa puluhan santri di pesantren tersebut mengalami kejang-kejang, pusing, mual setelah disuntik vaksin difteri.


Masyarakat menjadi heboh karena kasus tersebut dihubung-hubungkan dengan vaksin anti virus Corona yang saat ini sedang gencar-gencarnya disosialisasikan oleh pemerintah. Masyarakat yakin berita tersebut ada kaitannya dengan vaksin anti Corona karena semua santri yang disuntik vaksin itu menggunakan masker.


Namun hal tersebut dibantah oleh Pengasuh  Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Desa Cangkring Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember,  KH Lutfi Ahmad. Menurutnya, video itu adalah vaksinasi difteri yang dilakukan oleh petugas medis Puskesmas Jenggawah, Kabupaten Jember di pesantren yang diasuhnya pada tanggal 28 Februari 2018.


“Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan vaksin Covid-19 yang lagi marak saat ini,” ujarnya kepada NU Online di Jember,  Ahad (10/1) malam.


Menurutnya, ide penyuntikan vaksin difteri untuk santrinya itu berasal dari Puskesmas Jenggawah. Kata Kiai Lutfi, sapaan akrabnya, santrinya sehat-sehat selalu waktu itu, tidak terindikasi penyakit apapun. Karena itu, awalnya ia mengaku kurang setuju meski akhirnya mengiyakan tawaran Puskesmas Jenggawah tersebut.


“Tidak apa-apa, cuma ini ada program dari pemerintah, gratis,” kata Kiai Lutfi menirukan ucapan petugas Puskesmas Jenggawah waktu itu.


Setelah itu lalu dilakukan penyuntikan vaksin difteri. Jumlah santri yang rencananya bakal divaksin adalah 400 orang.  Namun hari itu petugas Puskesmas hanya mampu menvaksin  200 santri, itu pun hingga petang. Setelah semua santri shalat isya berjamaah, tiba-tiba 72 dari 200 santri itu, mengalami kejang-kejang, muntah-muntah, pusing, dan sering buang air besar.


Sebagian dari mereka langsung dibawa ke Puskesmas dan sebagian lagi di klinik pesantren. Namun kapasitas Puskesmas tidak mampu menampung semua santri yang kejang-kejang itu. Akhirnya semuanya dibawa ke rumah sakit dr. Soebandi, Patrang Jember.


“Setelah 3 hari dirawat, sebagian besar sembuh. Di hari ke empat dan ke lima, yang lain menyusul sembuh, tapi ada juga yang sampai lebih enam hari tidak sembuh-sembuh, masih muntah dan kejang-kejang,” urainya.


Setelah itu, Kiai Lutfi memutuskan untuk tidak melanjutkan vaksinasi itu guna menjaga kemungkinan munculnya korban lagi di kalangan santrinya.


“Akhirnya saya batalkan vaksinasi itu,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile