Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Bahaya Stigma Covid-19

Bahaya Stigma Covid-19
Ilustrasi pandemi Covid-19. (NU Online)
Ilustrasi pandemi Covid-19. (NU Online)

Oleh Andi Andrianto

 

Memasuki bulan ke-10 (sepuluh) pandemi Covid-19 di Indonesia berbagai tantangan serius masih dihadapi salah satunya stigmatisasi. Stigma terjadi pada korban Covid-19 yang dinyatakan positif corona. Fakta sosial ini seperti sebuah peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Divonis positif Covid-19 bukan kenyataan yang mudah diterima baik oleh diri sendiri apalagi lingkungan. Bayangan tentang hal-hal buruk bahkan stigma mengendap dalam pikiran seseorang meskipun tidak sedikit yang berpandangan positif.


Seperti dialami Inriaty Karawaheni (54) perempuan asal Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah—setelah kehilangan dua anggota keluarga yang sangat dicintai akibat corona, ia bersama anak bungsunya diusir dari lingkungan setelah 20 tahun tinggal di rumah itu. Sebelum terusir dari lingkungan tempat tinggal, pada 27 April 2020, anak sulungnya bernama Berkatnu Indrawan (28) meninggal akibat Covid-19.

 

Dua bulan kemudian, tepatnya pada 27 Juni 2020, suami Inriaty, Suriawan Pribandi, meninggal akibat Covid-19. Belum terhapus duka itu, pada Senin 29 Juni 2020 ibu Inriaty bersama anak bungsunya Andika (18) diusir dari lingkungan akibat dinyatakan positif corona. (Kompas, 13 Oktober 2020).


Kejadian miris menimpa ibu Inriaty hanya bagian kecil dari fenomena stigma corona di negeri ini. Perlakukan diskriminatif, streotipe negatif, labeling, dan jauh dari rasa keadilan ini yang sejak awal terjadi bahkan hingga sepuluh bulan pandemi seharusnya diminimalisir. Sebab stigma menghambat percepatan penanganan pandemi di Indonesia.


Akar Masalah


Apa penyebab stigma atau pandangan negatif secara sosial terhadap korban Covid-19. KBBI mengartikan stigma  sebagai ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. J. Crocker dalam Mayor dan O’Brien (2005) mengatakan stigma terjadi ketika individu mendapat beberapa atribut atau karakteristik yang dapat membuat kehilangan identitas sosial dari individu tersebut.

 

Ketika individu mengalami kehilangan identitas sosialnya maka akan berpengaruh pada self esteem. Self esteem merupakan evaluasi atau penilaian yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya baik secara positif maupun negatif tentang keterampilan, kemampuan, hubungan sosial, dan masa depan.


Stigma sungguh berbahaya karena dapat menurunkan self esteem karena di dalam stigma terdapat komponen yang mengkhawatirkan yakni labeling, separation, stereotip, dan diskriminasi. Situasi mengerikan itu terjadi akibat lingkungan sosial yang membentuk prasangka korban Covid-19 dengan berbagai labelisasi maupun stigma negatif diperoleh dari informasi atau media komunikasi yang disebarkan ke publik secara tidak holistik, tidak tepat bahkan berbau hoaks.


Dalam perspektif penulis terdapat beberapa faktor penyebab stigma korban Covid-19. Pertama, publik kurang mendapat penjelasan informasi akurat dan utuh mengenai Covid-19. Makhluk apa corona itu, bagaimana pola penyebarannya. Bila ada yang positif corona bagaimana dengan mudah dideteksi riwayat bepergiannya, seperti apa isolasi korban Covid-19. Selain itu bagaimana perlakukan dan proses pemakaman mereka yang meninggal karena Covid-19 sesuai dengan protokol pemakaman korban Covid-19, apakah mereka yang meninggal akibat Covid-19 dimakamkan dapat membahayakan lingkungan sekitar atau tidak.


Kebijakan apa yang tepat dilakukan pemerintah menanggulangi corona, serta bagaimana masyarakat secara individu maupun kolektif harus menyikapi atau bahkan terhindar dari Covid-19. Bagaimana masyarakat berpartisipasi melawan Covid-19, seperti apa penerapan disiplin terhadap protokol kesehatan sebagai kunci menekan penyebaran corona, bagaimana skema bantuan bagi korban atau mereka terpapar Covid-19.

 
Kedua, kurangnya informasi Covid-19 yang benar dan holistik terutama dari otoritas maupun sumber media kredibel di tengah gencarnya informasi lewat media sosial pada masyarakat sejak awal sehingga publik kurang teredukasi akibat tidak banyak mengetahui informasi corona apalagi memahami cara menghadapi Covid-19 yang baik. Akibat minimnya informasi Covid-19 yang benar mengakibatkan publik tidak sempat memperoleh edukasi informasi yang tepat dalam memahami corona sehingga berpikir dan mengambil keputusan diliputi kegamangan serius.


Ketiga, banjirnya informasi hoaks melalui media sosial. Hoaks merupakan problem global di era masyarakat internet. Indonesia mengalami hal serupa dengan negara lain selama pandemi, yakni dihadapkan realitas hoaks pandemi corona. Data hoaks corona menunjukkan trend yang terus naik. Sebelum diumumkan adanya 2 warga negara Indonesia positif corona pada 2 Maret, menurut Kominfo jumlah hoaks corona 144 hoaks dari 23 Januari-1 Maret. Hingga 14 Januari 2021 data Kominfo menunjukkan hoaks corona sudah mencapai 1349 hoaks.


Akibat stigma selain prasangka negatif, pengucilan diperoleh korban Covid-19 dalam pikiran maupun kehidupan sosial. Kita tidak pernah bayangkan sebelumnya orang dinyatakan positif corona yang seharusnya mendapat perawatan baik, ditolong dan bahkan layak mendapat dukungan besar dari lingkungan sosial malah dijauhi masyarakat bahkan diberi label-label buruk. Parahnya lagi ada yang mengusik naluri kemanusian seperti penolakan pemakaman korban covid-19.


Alternatif Solusi


Stigma korban corona seharusnya diatasi dengan berbagai pendekatan termasuk memperbaiki aspek informasi pandemi yang mempengaruhi munculnya stigma. Untuk menangkal stigma corona Indonesia sudah melakukan cara salah satunya dengan melibatkan publik dalam pemberian apresiasi terhadap penyintas Covid-19 termasuk kepada tenaga medis yang terpapar corona.


Langkah lain dapat ditempuh dengan mengejar ketertinggalan edukasi informasi masyarakat atas informasi Covid-19 yang benar, lebih masif, dan menyeluruh. Memperkuat data Covid-19 yang akurat, dikomunikasi secara terbuka kepada publik dengan model komunikasi persuasif yang menyentuk pada aspek kesadaran dan perilaku masyarakat, dilakukan secara masif dan pesan komunikasi mudah dipahami masyarakat.


Melibatkan masyarakat secara luas akan peran strategisnya dalam mengatasi stigma dengan edukasi informasi pandemi yang tepat melalui berbagai kanal informasi termasuk media sosial serta memberi perlindungan penuh bagi warga negara yang menjadi korban stigma seperti dilakukan Jepang—menjadi pilihan-pilihan strategis untuk menghindari atau bahkan memutus stigma terhadap korban Covid-19.

 


Penulis adalah penganggit Buku Problematika Komunikasi Pandemi Covid-19

Posisi Bawah | Youtube NU Online