Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Harun Yahya dan Perdebatan soal ‘Adam Manusia Pertama’

Harun Yahya dan Perdebatan soal ‘Adam Manusia Pertama’
Setidaknya ada 3 pandangan ulama merespons teori itu: menolak, mendukung dan akomodatif.
Setidaknya ada 3 pandangan ulama merespons teori itu: menolak, mendukung dan akomodatif.

Harun Yahya atau Adnan Oktar menghadapi kasus hukum dan dijatuhi hukuman 1.075 tahun penjara. Tulisan ini tidak ingin membahas delik hukum dan hukuman yang fantastis itu. Tapi hendak membahas pemikiran Harun Yahya yang karenanya dia menjadi sangat terkenal di dunia dan berlimpah harta. Sehingga karenanya, mungkin, pemilik nama asli Adnan Oktar menjadi penakluk banyak wanita yang berujung hukuman penghuni hotel prodeo terlama di dunia.

 

Ketenarannya tidak lepas dari pandangannya yang menentang teori Evolusi Darwin dalam bukunya On the Origin of Species (Asal-muasal Spesies), 1859. Dalam buku itu disebutkan bahwa seleksi alamiah yang menentukan spesies makhluk hidup bisa bertahan. Spesies yang kuat akan bertahan dan menelurkan keturunan. Sementara yang lemah akan punah. Teori Darwin menjadi dasar ilmu biologi dan terus dikembangkan untuk melacak asal-muasal spesies yang ada. Hingga 2016 ahli biologi menemukan 355 genus yang berusia 3,5 juta tahun yang menjadi nenek moyang dari seluruh spesies yang ada di muka bumi. Genus itu disebut dengan nenek moyang terakhir bagi semua/last universal common ancestor (LUCA). Manusia adalah spesies primata cerdas (homo sapiens) bagian dari genus Homo dari keluarga homonidae atau kera besar. Ada 8 hierarki turun-temurun bagi makhluk di bumi. Spesies atau jenis adalah hierarki terakhir (kedelapan), sebelumnya ada genus (ketujuh). Hierarki pertama (teratas) adalah kingdom atau kerajaan. Dalam hal ini manusia masuk di bawah kerajaan animalia atau binatang.

 

Dalam penelitiannya, Harun Yahya menemukan bahwa evolusi yang kemudian mendudukkan manusia ada di bawah keluarga kera besar tidak terbukti secara saintifik. Pelbagai disiplin ilmu: paleontologi, kimia biologis, genetika populasi, biologi molekular, anatomi komparatif, biofisika, tidak mampu menjelaskan misteri kehidupan yang terjadi secara tiba-tiba. Apa yang dikatakan oleh Harun Yahya, jauh hari sudah ada dalam pandangan Barat, yaitu creationism vis a vis evolutionism. Pandangan ini pada dasarnya mempertahankan pandangan gereja yang mengatakan bahwa semua tercipta secara langsung atas kehendak tuhan yang maha kuasa.

 

Pandangan Darwin berpengaruh besar dalam hegemoni ilmu pengetahuan atas pikiran masyarakat Barat. Evolusionisme menguak rahasia penciptaan manusia yang selama ini didominasi pandangan gereja sesuai Kitab Genesis, Perjanjian Lama. Argumen Darwin yang rasional-empiris mampu memuaskan masyarakat Barat hingga berpaling dari doktrin agama tentang penciptaan manusia dan alam semesta.

 

Berbeda dengan di Barat yang mayoritas mendukung teori Darwin, dunia Islam tidaklah demikian. Setidaknya ada 3 pandangan ulama merespons teori itu: menolak, mendukung dan akomodatif. Yang menolak mengaku berpandangan sesuai Al-Qur’an dan hadits yang kurang lebih sejalan pula dengan apa yang ada dalam kisah penciptaan (Genesis) dalam Bibel, kitab suci Yahudi dan Nasrani.

 

Sementara yang mendukung evolusionisme Darwin adalah Gamal al-Banna, adik kandung Hassan al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin. Menurut Gamal, pandangan sains biarlah mandiri dan tidak harus sama dengan pandangan agama. Dalam peradaban Arab, pandangan evolusionisme ada dalam pemikiran Ibn Khaldun yang mengatakan bahwa penciptaan berkembang dari benda (jamad), ke tumbuh-tumbuhan (nabat), ke binatang (hayawan), dan manusia (insan). Pemikiran manusia tidak boleh dikekang. Jika ia benar, maka dia telah sampai pada yang diminta. Jika tidak, maka dia telah melakukan yang seharusnya dalam pemberdayaan akal. Gamal berkata bahwa dirinya mendukung teori evolusi Darwin dan dalam Al-Qur’an terdapat hal itu. (Lihat: Elaph.com)

 

Sementara pandangan akomodatif adalah pandangan imam Masjid Amru bin ‘Ash, masjid tertua di Mesir, Abd al-Sabur Shaheen, yang mengatakan bahwa manusia sebelum Adam telah ada dengan kondisi yang belum cerdas dan cakap atau sub-human. Sedangkan Adam adalah manusia pertama yang oleh Allah dibekali dengan ilmu pengetahuan sehingga menjadi mampu mengolah bumi dan menjadi mandataris bumi (khalifah). Shaheen berpendapat bahwa ketika Allah akan menciptakan Adam, Allah menyampaikan rencananya kepada para malaikat, dan mereka keberatan.

 

Al-Baqarah (2): 30: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalīfah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

 

Keberatan malaikat menurut Shaheen adalah didasarkan pada keberadaan manusia yang ada selama ini yang kerap bertikai satu sama lain, yaitu manusia purbakala (sub-human). Mereka, seperti yang tampak dalam film, menggunakan tombak dan senjata tajam untuk berburu dan bertikai untuk berebut buruan dan bertahan hidup, hingga Adam diciptakan dan menjadi manusia modern pertama.

 

Al-Baqarah (2): 31: Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar!";

 

32: Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana";

 

33: Dia (Allah) berfirman, "Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama (benda) itu!" Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, "Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?"

 

Shaheen mengatakan bahwa Adam adalah bapak manusia modern (abu al-insan/father of mankind) dan bukan bapak genus manusia (abu al-bashar/father of human beings). Sebelum Adam, manusia seperti hewan lalu Allah memilih di antara mereka Adam dan meniupkan ruh kepadanya. Allah lalu memusnahkan yang lainnnya dan menyempurnakan Adam. Al-infitar (82): 7-8: Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang; Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

 

Shaheen merujuk pada banyak ayat Al-Qur’an untuk membuktikan keberadaan manusia sebelum Adam. Hanya saja mereka bukanlah manusia modern yang telah mendapat tiupan ruh Allah yang membuatnya rasional dan berperadaban. Shaheen kemudian berkata bahwa, Adam terlahir dari ibu dan bapak manusia yang berkembang menjadi bapak manusia modern berbekal akal dan syariat. Pandangan Shaheen yang memadukan antara sains dan Al-Qur’an menuai serangan dari banyak ulama meski ada yang mendukungnya.


 

Achmad Murtafi Haris, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Posisi Bawah | Youtube NU Online