Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Naik-Turun Hubungan Iran dan Israel Hingga Saling Ancam Perang

Naik-Turun Hubungan Iran dan Israel Hingga Saling Ancam Perang
Ilustrasi Iran dan Israel. (Foto: Reuters)
Ilustrasi Iran dan Israel. (Foto: Reuters)

Jakarta, NU Online

Tensi panas hubungan Iran dan Israel memuncak belakangan ini. Bahkan kedua negara tersebut secara terbuka mengancam bakal saling serang. Dikutip dari CNN, awalnya hubungan Iran dengan Israel tidak begitu rumit. Setelah Israel merdeka pada 1948, kedua negara sempat mengembangkan hubungan karena alasan strategis dan ekonomi.


Pada 1950-an, sebagai bagian dari "doktrin pinggiran (periphery doctrine)" Perdana Menteri David Ben-Gurion, Israel mulai membina hubungan dengan negara-negara non-Arab dan etnis minoritas.


Kedua negara juga memiliki hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat dan menentang upaya Soviet untuk mendapatkan pengaruh di wilayah tersebut.


Iran menjadi importir terbesar senjata Israel sekaligus mengekspor minyak ke negara tersebut. Israel pun memiliki misi diplomatik di Teheran.

 


Selama tiga dekade, antara 1948-1978, hubungan mereka terjalin baik. Tapi hubungan tiba-tiba pecah setelah monarki digulingkan pada 1979. Rezim teokratis baru Iran memberi AS label sebagai "Setan Besar" dan melabeli Israel sebagai "Setan Kecil".


Rezim Iran juga meninggalkan Israel dan mendukung perjuangan Palestina. Ketegangan semakin terasa setelah Israel menginvasi Lebanon pada 1982. Saat itu, Operasi Perdamaian untuk Galilea berusaha memaksa sekutu Iran, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), keluar dari Lebanon.


Teheran lalu mengirim sekitar 1.500 penasihat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke Lembah Beka bagian timur Lebanon. Mereka tidak menghadapi Israel, tapi justru memobilisasi, melatih, dan melengkapi milisi bawah tanah yang berkembang menjadi Hizbullah.


Hizbullah telah melambangkan strategi besar Iran untuk menciptakan kekuatan proksi di seluruh Timur Tengah guna mempromosikan kepentingan dan ideologi Iran.

 


Setelah PLO dipaksa menarik diri dari Beirut pada 1982, Hizbullah secara bertahap mengambil peran sebagai kekuatan utama untuk melawan Israel.


Pada 1983, Hizbullah memelopori penggunaan bom bunuh diri untuk mengusir pasukan Barat dan Israel dari Lebanon.


Pengeboman pertama terhadap Israel terjadi pada 4 November 1983, ketika sebuah mobil yang membawa 600 kilogram bahan peledak memasuki markas Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di selatan Tyre dan menewaskan 28 orang Israel. Sepanjang 1990-an, Hizbullah terus terlibat dalam peperangan intensitas rendah dengan IDF dan Tentara Lebanon Selatan.


Pada tahun 2000, lebih dari 900 tentara Israel tewas di Lebanon. Kemudian pada Mei 2000, Israel secara sukarela menarik diri dari Lebanon selatan. Ini adalah pertama kalinya Israel menyerahkan wilayah Arab tanpa perjanjian damai.

 

​​​​​​​Baca juga: Fakta-fakta Baru Ketegangan Iran-AS


Iran menghindari perang


Selama empat dekade terakhir, Iran menghindari perang besar-besaran dengan Israel atas Palestina, tapi pihaknya juga berulang kali memperingatkan konsekuensi serius jika Israel menyerang Republik Islam.


Setiap dekade pula, permusuhan antara Iran dan Israel kian meningkat. Iran mengumpulkan semakin banyak mitra atau proksi dengan senjata yang semakin canggih. Titik nyala konflik juga kian bertambah dari segi volume dan skala.


Israel khawatir nuklir Iran


Israel, sekutu dekat Amerika Serikat, menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, tuduhan yang dibantah Teheran. Iran menyetujui perjanjian nuklir dengan Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat pada 2015.

 

​​​​​​​Baca juga: Tit for Tat Amerika-Iran


Kesepakatan itu menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan ambisi nuklir Teheran dan jaminan tidak akan membuat bom atom. Iran sendiri berkeras bahwa pihaknya hanya mengejar program energi nuklir sipil.


Israel selalu menentang kesepakatan tersebut. Bagi Israel, Iran harus terus ditekan agar tidak memiliki ruang untuk mengembangkan nuklir.


Namun penarikan Presiden AS Donald Trump secara sepihak pada Mei 2018 dari kesepakatan nuklir Iran 2015 telah memantik ketidakstabilan di kawasan tersebut.


Konflik Suriah


Israel secara tegas menentang kehadiran militer Iran di Suriah. Dalam konflik Suriah sendiri, Rusia dan Iran membantu rezim pemerintah Presiden Bashar Al Assad. Israel mengatakan kehadiran Iran dalam mendukung Assad adalah ancaman bagi negara Yahudi.

 

​​​​​​​Baca juga: Tahun Baru Persia, Iran Bebaskan 10 Ribu Tahanan


Israel telah melancarkan ratusan serangan ke Suriah sejak perang saudara pecah pada 2011 dengan target utama pasukan pemerintah dan Iran, juga kelompok Hizbullah.


Ancaman baru


Ancaman ketegangan antara Iran-Israel kembali muncul pertama kali pada Februari 2020 lalu. Saat itu Iran mengancam akan menghancurkan Israel jika mereka terus-menerus mengganggu kepentingan Teheran di Suriah dan kawasan Timur Tengah.


Ancaman itu muncul menyusul serangan yang diluncurkan pesawat tempur Israel ke sejumlah basis pasukan dan kelompok milisi pendukung Iran di Suriah hingga mengakibatkan 12 orang tewas.

 


Ancaman tersebut lantas langsung disahuti oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dia menyatakan Israel bisa bertindak langsung melawan Iran, bukan hanya para sekutunya di Timur Tengah.


Kematian ilmuwan nuklir Iran

 

Kematian ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh kembali menyulut ketegangan antara Teheran dan Israel. Republik Islam menuduh rezim Zionis Israel berada di balik pembunuhan tersebut, sementara Israel menolak berkomentar.

 

Mohsen adalah sosok ilmuwan nuklir sekaligus Kepala Organisasi Penelitian dan Inovasi Kementerian Pertahanan Iran yang tewas pada November lalu.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Posisi Bawah | Youtube NU Online