Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Peringati Harlah Ke-95, NU Australia Potong Tumpeng

Peringati Harlah Ke-95, NU Australia Potong Tumpeng
Suasana Harlah ke-95 NU di Western Australia. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)
Suasana Harlah ke-95 NU di Western Australia. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)

Perth, NU Online
Semarak Harlah ke-95 NU tidak hanya ada di Indonesia. Kegiatan tahunan ini juga menggema di Australia. Namun berhubung masih adanya ancaman bahaya Covid-19, peringatan Harlah NU di negeri Kanguru itu dilaksanakan sederhana dengan pemotongan tumpeng pada Ahad (31/1).


Acara yang digelar di rumah Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Western Australia, Dody Adibrata itu berlangsung khidmah. Yang hadirpun hanya pengurus teras saja bersama keluarganya, dan sejumlah ustadz. Jumlahnya sekitar 50 orang.


“Kami membatasi diri karena Covid-19 masih mengancam,” ujar Koordinator Kajian dan Diskusi NU Western Australia,  Ridwan al-Makassary  di sela-sela acara.


Acara dimulai dengan pembacaan surat al-Fatihah untuk kejayaan NU, dilanjutkan pembacaan  Shalawat, pemotongan tumpeng, dan diakhiri dengan santap makan bersama. Menunya adalah menu khas Indonesia yang  disiapkan oleh tuan rumah, dan sebagian makanan juga dibawa oleh pengurus NU lainnya.


“Indonesia banget, makanannya dan semuanya. Kami bersyukur dan berdoa agar NU semakin jaya,” ucapnya.


Sebelum makan bersama, ada tausiyah yang disampaikan oleh  seorang intelektual NU Perth, Nanda Avalist. Pak Nanda, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa NU didirikan sebagai gerakan tradisional yang membuka diri pada keragaman budaya. NU tidak eksklusif tapi terbuka.

 

Dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk masalah budaya, NU selalu menempuh jalan tengah (wasathiyah). Selama persoalan tersebut tidak menyangkut prinsip, maka NU selalu mengedepankan sikap wasathiyah. Tidak berat ke kanan dan tidak berat ke kiri. Tidak ekstrem tapi juga tidak vulgar.


“Prinsip wasathiyah penting, apalagi untuk Indonesia yang  terdiri dari beragam suku, budaya dan agama. Sikap itulah yang menjadi salah satu penyebab  NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)  utuh, bahkan NU juga berkontribusi bagi perdamaian dunia,” jelasnya.


Di bagian lain, Pak Nanda juga menyinggung soal konflik antar golongan Islam. Menurutnya, konflik tersebut bisa jadi penyulutnya adalah pihak ketiga yang memang ingin memecah belah umat Islam. Pihak ketiga tersebut tentu mempunyai agenda besar, yakni ingin melemahkan kekuatan Islam, sehingga kaum Muslimin tidak berdaya meskipun jumlahnya mayoritas.


“Kita harus mewaspadai gerakan pemecah belah, tidak boleh lalai,” ungkap pria yang bekerja di Konsulat Jenderal Republik Indonesia Western Australia itu.  


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya