Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Mengenang Setahun Wafatnya Gus Sholah, Sosok yang Disiplin

Mengenang Setahun Wafatnya Gus Sholah, Sosok yang Disiplin
Peringatan setahun wafatnya Gus Sholah di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Peringatan setahun wafatnya Gus Sholah di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Jombang, NU Online
Almarhum KH Salahuddin Wahid merupakan sosok kiai yang disiplin dan menghargai setiap waktu yang dilewati. Hal ini diungkapkan oleh staf pribadinya yang bernama Ustadz Amien Zein.
 
Menurut Amien, Kiai Salahuddin atau Gus Sholah memiliki jadwal yang jelas setiap hari. Bahkan putra KH Wachid Hasyim ini memiliki schedule bulanan, mingguan, dan harian. Sehingga apa yang akan dilakukan jelas dan terarah.
 
"Setiap habis subuh saya selalu menerima whatsapp dari beliau atau telfon. Lalu tanya, agenda saya hari ini apa saja? Harus bertemu dengan siapa dan harus ngomong seperti apa saya nanti," kata Amien saat peringatan setahun wafatnya Gus Sholah di Pesantren Tebuireng, Selasa (2/2).
 
Menurutnya, Gus Sholah setiap hari memiliki jadwal membaca Al-Quran bersama istri minimal satu juz. Selanjutnya, Gus Sholah akan membaca buku, koran atau media lainnya.
 
Tak jarang juga, Gus Sholah meminta Amien memberikan sebuah pertimbangan yang objektif. Memberikan sebuah pandangan yang luas. Tidak tendensius dan tidak berat sebelah. Hal ini membuat ia harus kaya akan wawasan dan update informasi terbaru. 
 
Panggilan akrab Amien kepada Gus Sholah yaitu dengan sebutan bapak. Hal ini menandakan kedekatan di antara keduanya.
 
"Kelembutan hati beliau tercermin saat selesai beraktivitas, tidak lupa mengucapkan terima kasih dan mohon maaf. Terimakasih diucapkan atas segala aktivitas beliau. Mohon maaf, barangkali saya ada salah. Lembut hatinya," imbuh dosen Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng ini.
 
Amien menambahkan, dalam sehari Gus Sholah memiliki beberapa jadwal yang kadang cukup padat. Namun, kesemuanya berkaitan dengan Pondok Pesantren Tebuireng, Universitas Hasyim Asy'ari, Nahdlatul Ulama, dan kepentingan umat.
 
"Keikhlasan beliau tercermin dengan pemikiran-pemikiran beliau, bagaimana tidak berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Semua pemikiran dicurahkan untuk pesantren, Universitas Hasyim Asy'ari dan untuk umat hingga akhir hayat," ungkapnya.
 
Senada dengan Amien, putra pertama Gus Sholah, Irfan Asy'ari Sudirman Wahid (Gus Ipang) menambahkan bahwa sosok ayahnya memang yang penuh disiplin dan jujur.
 
"Ciri khas dari beliau adalah berpikir strategis, karena beliau arsitek yang kiai. Makanya disiplin," ungkapnya.
 
Gus Ipang mengatakan dirinya diamanahi untuk meneruskan perjuangan sang ayah. Terutama berkaitan dengan menyebarkan pemikiran Hadratussyekh Hasyim Asy'ari kepada masyarakat Indonesia. 
 
Ia berencana mengajak menteri agama RI untuk terlibat dalam penyebaran pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy'ari agar bisa dipelajari banyak kalangan.
 
"Banyak orang yang merasa kehilangan Gus Sholah, ini menandakan kalau beliau orang baik. Saya belajar banyak dari sosok bapak," tandasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya