Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Beda Tasawuf Falsafi dan Ajaran Jawa Menurut Kiai Said

Beda Tasawuf Falsafi dan Ajaran Jawa Menurut Kiai Said
Buku Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi karya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)
Buku Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi karya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Dalam sesi diskusi peluncurkan buku berjudul Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi, Dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Ngatawi al-Zastrouw mengajukan pertanyaan mengenai relasi ajaran Jawa dengan substansi ajaran tasawuf falsafi.


Ia menyebut sebuah adagium, Sing ketok durung mesti sing nyoto yakni yang terlihat belum tentu yang nyata. "Ini menggambarkan yang ada dan tiada tadi," katanya pada peluncuran buku karya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj ini, Jumat (5/2).


Selain itu, ada pula kalimat yang kerap terdengar, Urip mung mampir ngombe yakni hidup hanya mampir minum.


Zastrouw mengatakan bahwa hal itu sebagai sebuah kearifan orang Jawa dengan melakukan vernakularisasi, menjadikan bahasa yang sedemikian berat itu sederhana.


Substansinya sudah ada, tetapi mereka orang tua dahulu seperti Ronggowirsoto dan Joyoboyo membahasakannya kultur kejawaan dan kenusantaraan.


Merespons pertanyaan tersebut, Kiai Said menegaskan bahwa memang ajaran Jawa itu sama dengan tasawuf falsafi. Namun, satu hal yang menjadi kunci pembeda adalah Tuhan. Di Jawa, ajaran itu tidak menyebutkan Tuhannya secara jelas, sedangkan tasawuf tegas menyebut Allah swt.


"Apa yang kita kenal para leluhur itu kaweruh itu sama dengan tasawuf falsafi. Bedanya satu, Tuhannya gak jelas. Allah jelas. Sang Hyang Widi itu namanya Allah," kata kiai yang menamatkan studinya di Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi itu.


Hal tersebut menunjukkan bahwa Nusantara sudah memiliki peradaban dan spiritualitas yang tinggi. "Di sini sudah ada peradaban sangat tinggi, spiritualitas tinggi. Tinggal satu Allah," jelasnya.


Diskusi tersebut terjadi pada acara yang dimoderatori Rumadi Ahmad dan menghadirkan tiga pembicara, yakni Cendekiawan Fachri Ali, Guru Besar Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kautsar Azhari Noer, dan Pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri.


Sebagai informasi, buku yang akan diluncurkan ini merupakan terjemahan dari karya disertasi Kiai Said yang berjudul asli Shilatul-Lah bil-Kawn fit-Tashawwuf al-Falsafi.


Disertasi tersebut sebagai syarat Kiai Said meraih gelar doktor di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah Filsafat, Universitas Umm Al-Qura, Mekkah, Arab Saudi.


Disertasi tersebut telah diujikan di depan tiga guru besar yakni Prof Dr Mahmud Ahmad Khafaji, Prof Dr Barokat Abdul Fattah Guida, dan Prof Dr Nafi’h Ulayan. Ketika itu, Kiai Said mendapat predikat summa cum laude.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin

Posisi Bawah | Youtube NU Online