Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Menyimpan Gawai di Saku Celana Berpotensi Merusak Kualitas Sperma

Menyimpan Gawai di Saku Celana Berpotensi Merusak Kualitas Sperma
Para pria sebaiknya tidak menyimpan gawai di saku celana karena dapat mempengaruhi kesuburan.
Para pria sebaiknya tidak menyimpan gawai di saku celana karena dapat mempengaruhi kesuburan.

Jakarta, NU Online

Dokter dari Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr Hj Citra Fitri Agustina mengingatkan kaum pria sebaiknya tidak menyimpan gawai di saku celana. Pasalnya hal itu dapat mempengaruhi kesuburan.

 

Mengutip beberapa dokter yang sempat berdiskusi dengannya yang mengungkapkan sperma anak muda saat ini tidak semuanya baik. Banyak remaja saat ini yang mengalami vertilitas atau kemandulan karena faktor gadget.

 

"Beberapa dokter menyarankan jangan taruh gadget di saku celana," kata Dokter Civi, Kamis (18/2) di Jakarta.

 

Menyimpan gawai atau gadget di dalam saku celana dinilai mengganggu kesuburan pria, karena gadget dapat memunculkan paparan radiasi jangka panjang dari gadget atau ponsel yang diletakkan dekat dengan alat kelamin pria ternyata menurunkan kuantitas sel sperma pria.

 

Kemampuan berenang sperma pun menjadi lebih lambat yang dapat mengambat proses bertemunya sperma dengan sel telur saat penetrasi pada proses hubungan suami istri. 

 

Gangguan gadget pada kesuburan pria berhubungan dengan frekuensi elektromagnetik yang dipancarkan gadget. Sel tubuh atau ponsel memancarkan frekuensi elektromagnetik dan radiasi frekuensi yang tinggi diserap tubuh hingga ke jaringan. Hal ini memicu peningkatan gerakan molekuler di dalam sel tubuh. Apabila hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengganggu kesuburan pria.

 

Selain itu faktor nutrisi makanan juga mempengaruhi kualitas sprema. Karenanya Dokter Civi menilai adanya pemantauan calon pengantin termasuk pria sebagai calon ayah, sebagai hal yang baik dalam pencegahan stunting.

 

"Masalah stunting ini masalah lama dan bersifat dari hilir yakni sejak ibu hamil, dari bibit yang dikelola," imbuhnya.

 

Pihaknya mengungkapkan berbicara pencegahan stunting tidak bisa hanya menyudutkan perempuan. Untuk mencegah lahirnya anak stunting memang dimulai dari proses pertumbuhan anak dari dalam kandungan. Namun, itu juga didukung oleh kualitas bibit yang dalam hal ini dipengaruhi oleh kualitas sperma. 

 

Sebelumnya, dr Ahmad Fariz Malvi Zamzam Zein mengatakan penyiapan kualitas sperma calon pengantin berpengaruh dalam konteks jangka panjang untuk pencegahan stunting.

 

"Bicara terkait sperma laki-laki untuk calon keturunan yang bebas stunting berarti bicara dari faktor kesehatan. Perencanaan jangka panjang dari sisi premarital sebelum pernikahan, ini upaya melestarikan keturunan," kata dokter Fariz dalam wawancara dengan NU Online, Rabu (17/2).   

 

Pihaknya juga mengingatkan, persoalan pencegahan stunting tidak tidak hanya melihat dari kualitas sperma calon ayah, tapi juga kondisi kesiapan dan kondisi kesehatan manusia dewasa secara umum, dalam hal ini kebutuhan nutrisi yang tidak kekurangan ataupun kelebihan.

 

Sebelumnya diberitakan, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mewacanakan pencegahan stunting dari penyiapan kualitas sperma calon ayah. Penyiapan kualitas sperma ini ini dilakukan selama 75 hari sebelum hari perkawinan.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Alhafiz Kurniawan

 

 

 

Posisi Bawah | Youtube NU Online