Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Sejarah Jebolnya Tanggul Sungai Citarum Harus Jadi Evaluasi Banjir Bekasi

Sejarah Jebolnya Tanggul Sungai Citarum Harus Jadi Evaluasi Banjir Bekasi
Banjir di beberapa titik Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Harun Al Rasyid)
Banjir di beberapa titik Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Harun Al Rasyid)

Bekasi, NU Online 
Ketua Cabang PMII Kabupaten Bekasi, M Harun Al Rasyid berharap agar pemerintah daerah hingga nasional mengevaluasi fenomena jebolnya tanggul Sungai Citarum. Tujuannya agar ke depan tidak terdengar lagi jebolnya tanggul sungai terpanjang di Jawa Barat ini yang berdampak pada keselamatan jiwa manusia yang tinggal di dekat daerah tersebut.


"Pada tahun 2007, tepatnya tanggal 5 Februari terjadi tanggul jebol sungai Citarum di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang yang mengakibatkan beberapa desa terendam hingga dua meter. Mestinya ini menjadi evaluasi," kata Harun, Rabu (24/2).

 

Kemudian, lanjut Harun, pada 20 Februari 2021 terjadi kembali tanggul jebol Sungai Citarum tepatnya pada pukul 23.30 WIB. "Mestinya hal ini tidak terjadi lagi karena menjadi evaluasi sejak 2007 silam. Waktu 13 tahun bukan waktu yang sebentar untuk memikirkan dan mengonsep sebuah ide dan gagasan sehingga dapat meminimalisasi terjadinya jebolnya tanggul sungai citarum," ujarnya.


Harun juga menyampaikan harapannya kepada Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) agar menjadikan isu jebolnya tanggul Sungai Citarum sebagai isu strategis nasional. Pasalnya bukan hanya Kabupaten Bekasi, namun dampaknya bisa melintasi beberapa cabang di Jawa Barat.

 
"Apalagi dalam waktu dekat PB PMII akan menyelenggarakan kongres dan ini sebuah momentum untuk konsolidasi isu, ide, dan gagasan. Kongres bukan hanya dijadikan sebagai ajang kontestasi, tapi di dalamnya melahirkan sebuah ide cemerlang jangka panjang," pinta Harun.


Sejarah jebolnya tanggul Sungai Citarum 
Sungai Citarum sudah ada sejak abad kelima Masehi saat kerajaan tertua di Nusantara yaitu Kerajaan Tarumanegara. Harun meniai, mestinya Sungai Citarum menjadi prasasti dan aset negara karena sangat sarat akan sejarah dan juga sebagai sumber kehidupan masyarakat yang di dekatnya.

 

"Bukan menjadi momok yang menakutkan karena banyak pencemaran dan jebolnya tanggul di mana-mana karena melintasi banyak daerah. Ini sudah terjadi pergeseran nilai jika dilihat dari sejarah dan kegunaannya," imbuhnya. 


Di tengah-tengah zaman kemajuan teknologi sekarang yang semakin pesat dan massif, tidak menutup kemungkinan untuk menanggulangi terjadinya tanggul jebol atau penanggulangan banjir dengan alat yang semakin canggih. "Seperti Dinding Anti Banjir di Austria, Tube Wall di Swedia, Great Wall of Louisiana di Amerika Serikat dan lainnya," kata Harun.

 
Lebih jauh ia mengatakan di Indonesia khususnya di Kabupaten Bekasi terlihat bersifat status quo. "Apa ini ada pembiaran atau lainnya? Ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Jangan sampai bencana ini menjadi keuntungan bagi pemerintah dalam meraup untung dari proyek yang berkelanjutan," lanjutnya.


Harun yang juga ikut dalam mengevakuasi warga saat terjadinya tanggul jebol Sungai Citarum diDesa Sumber Urip menambahkan, Pemerintah harus lebih memikirkan, meriset dan mengkaji secara ilmiah berbasis teknologi juga memaksimalkan anggaran daerah atau negara. "Untuk alokasinya diprioritaskan pada hal yang bersifat preventif, agar ke depan tidak terjadi lagi hal yang sama," imbuhnya.


Presiden instrusikan percepatan perbaikan 

Dikutip dari website www.presidenri.go.id, Presiden Joko Widodo saat meninjau langsung tanggul Sungai Citarum yang terletak di Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (24/2). Pada hari Sabtu  malam pukul 22.00 WIB tanggal 20 Februari yang lalu, tanggul Citarum ini jebol. Ada tiga titik yang mengalami jebol tanggul seperti ini. 


Menurut Presiden, perbaikan tanggul yang jebol tersebut dimulai sejak dua hari yang lalu. Presiden berharap kepada jajaran terkait agar menyelesaikan perbaikan tanggul tersebut secepatnya. 


"Insyaallah saya memberi target maksimal dua hari lagi sudah harus selesai tanggulnya sehingga semuanya berfungsi normal kembali," ujarnya. 


"Kemudian masyarakat yang terkena dampak, tadi di sini ada 30 juga perumahannya akan segera diselesaikan dalam waktu yang secepat-cepatnya," tandas Jokowi.

 

Kontributor: Suci Amaliyah 
Editor: Kendi Setiawan

 

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya