Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Keluarga Gus Dur Terima Penghargaan dari Universitas Malikussaleh Aceh

Keluarga Gus Dur Terima Penghargaan dari Universitas Malikussaleh Aceh
Pemberian penghargaan dari Universitas Malikussaleh Aceh kepada keluarga KH Abdurrahman Wahid. (Foto: Unimal)
Pemberian penghargaan dari Universitas Malikussaleh Aceh kepada keluarga KH Abdurrahman Wahid. (Foto: Unimal)

Jakarta, NU Online
Keluarga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima penghargaan yang diberikan oleh Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh. Hal itu diterima lantaran sosok Presiden keempat Republik Indonesia itu memiliki peran besar dalam proses penegerian Unimal. 

 

"Ketika itu, sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Aceh meminta penegerian Universitas Malikussaleh sebagai bagian dari proses penyelesaian konflik Aceh," ungkap Rektor Unimal Herman Fithra, melalui rilis yang diterima NU Online, Jumat (26/2) sore. Pernyataan tersebut diungkap langsung oleh Herman saat bertemu dengan putri Gus Dur yakni Alissa Wahid, Anita Wahid, dan Inaya Wahid di Jakarta, pagi hari ini.

 

Pada kesempatan itu, ia mengisahkan secara singkat perjuangan penegerian Unimal selama Gus Dur menjadi presiden dan secara resmi ditandatangani di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, pada 1 Agustus 2001 lalu. 

 

"Dari silaturahim kami ke para ulama di Aceh yang membantu penegerian Unimal, nama Gus Dur selalu disebut sebagai salah satu orang yang paling berjasa dalam penegerian Unimal,” terang Herman. 

 

Ia menuturkan bahwa sebenarnya pihak Unimal sudah ingin berjumpa dengan keluarga Gus Dur tahun lalu, bertepatan dengan acara peringatan Dies Natalis ke-52 Unimal pada 12 Juni 2020 lalu. “Tapi karena masih dalam suasana pandemi, pertemuan baru bisa terlaksana tahun ini,” jelasnya. 

 

Selanjutnya, Herman menceritakan secara singkat profil Unimal yang disebut sebagai Kampus Bhinneka Tunggal Ika. Sebab sebanyak 20.300 mahasiswa datang dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Sekalipun di Aceh berlaku syariat Islam, tetapi banyak mahasiwa non-Muslim dan diberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinannya.

 

Selain itu, Herman mengungkapkan pula bahwa Unimal memiliki program untuk menghimpun anak-anak di daerah tertinggal untuk mengenyam pendidikan di sana. “Program ini sesuai dengan cita-cita almarhum Gus Dur untuk membangun kesetaraan pendidikan,” ujar Herman yang memaparkan sejumlah capaian Unimal dalam beberapa tahun terakhir.

 

Sementara itu, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid mengatakan bahwa penyerahan penghargaan itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Sebab di tengah pandemi Covid-19 ini, masih diupayakan untuk melakukan pertemuan dengan keluarga Gus Dur. 

 

“Kisah penegerian Unimal Aceh dan Kampus Trunojoyo Madura, tidak lepas dari prinsip Gus Dur yaitu perdamaian tanpa keadilan ilusi. Ketika konflik Aceh-Jakarta, saya ingat, rombongan yang paling sering datang ke Istana dari Aceh. Termasuk ketika Gus Dur mengalami stroke berat. Banyak tamu di Istana meski Gus Dur sedang dirawat,” ungkap Alissa.

 

Ia menegaskan, penegerian Unimal dan berbagai keputusan yang diambil Presiden Gus Dur bukan hanya sekadar gestur politik. Namun merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk menjaga martabat rakyatnya. 

 

“Prinsip itu juga yang dipegang teguh Gus Dur dalam menyelesaikan konflik di Papua dan Timor Leste,” tegas putri sulung Gus Dur ini. 

 

Kemudian, Anggota Ombudsman RI 2016-2021 Ahmad Suaedy mengatakan, segala yang dilakukan Gus Dur di Aceh dan beberapa daerah lain di negeri ini adalah bentuk penyelesaian konflik secara damai dengan penguatan masyarakat sipil.

 

“Gus Dur tahu persis kedalaman masyarakat Aceh. Gus Dur banyak menyerap aspirasi ulama,” ungkap Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta ini.

 

Selanjutnya, putri kedua Gus Dur Anita Hayatunnufus Wahid berharap agar kerja sama antara Unimal dengan keluarga Gus Dur bisa berlanjut di masa mendatang. Sebab sejarah antara Gus Dur dengan Aceh terjadi sudah sejak lama. Salah satunya jejak yang ditinggalkan dalam proses penegerian Unimal. 

 

“Pertanyaannya, setelah ini mau ke mana? Kami siap membantu Unimal, misalnya memberikan workshop dan sebagainya,” ucap Anita.

 

Untuk diketahui, dalam pertemuan tersebut Rektor Unimal didampingi oleh Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Baidhawi, Pembantu Rektor IV Bidang Kerja Sama Azhari, dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Teuku Kemal Fasya. Sedangkan dari tim keluarga Gus Dur, hadir tiga orang putri Gus Dur bersama Ahmad Suaedy dan Suraji dari Yayasan Bani Abdurrahman Wahid.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya