Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARLAH KE-66 IPPNU

Menjadi Pengurus IPPNU, Sebuah Panggilan Kepemimpinan

Menjadi Pengurus IPPNU, Sebuah Panggilan Kepemimpinan
etua Umum Pimpinan Pusat IPPNU 2000-2003 Ratu Dian Hatifah menyampaikan bahwa menjadi pengurus IPPNU merupakan panggilan jiwa kepemimpinan. (Foto: IPPNU)
etua Umum Pimpinan Pusat IPPNU 2000-2003 Ratu Dian Hatifah menyampaikan bahwa menjadi pengurus IPPNU merupakan panggilan jiwa kepemimpinan. (Foto: IPPNU)

Jakarta, NU Online

Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) genap berusia 66 tahun pada 2 Maret 2021. Dalam peringatan hari lahirnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU 2000-2003 Ratu Dian Hatifah menyampaikan bahwa menjadi pengurus IPPNU merupakan panggilan jiwa kepemimpinan. 

 

Pasalnya, ia melihat tak banyak orang yang berkeinginan melibatkan diri dalam kepengurusan IPPNU adalah orang terpanggil yang memiliki kepemimpinan. "Kalaupun ada itu karena terpanggil, jiwa kepemimpinannya ada," ujarnya saat memberikan sambutan pada Peringatan Harlah Ke-66 IPPNU di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (2/3).

 

Karenanya, Ratu bangga melihat kader-kader IPPNU yang mau terlibat dalam kepengurusan dan menjalankan organisasi yang didirikan Nyai Hj Umroh Machfudzoh ini. Pasalnya, tidak banyak orang yang berkeinginan melibatkan diri dalam kepengurusan ini.

 

"Itu wajib disampaikan harus disampaikan kepada orang lain sehingga orang lain mau terlibat dan contoh dari perbuatan amal baik yang dilakukan oleh pelajar-pelajar di seluruh Indonesia. Tidak banyak anak-anak pelajar NU yang mau terlibat secara fisik membesarkan sebuah organisasi yang bernama IPPNU," katanya.

 

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa anggota dan kader IPPNU harus berbangga dan bersyukur karena berkah dari Nahdlatul Ulama. Ia mengaku bukan terlahir dari keluarga kiai dan lingkungan pesantren, tetapi ibadah yang dijalani keluarganya selaras dengan NU.

 

"Saya, keluarga saya, bukan dari keluarga kiai, bukan dari pondok pesantren. Bapak saya seorang polisi, ibu saya ibu rumah tangga biasa, tapi kehidupannya sama seperti ulama-ulama, kiai yang pakai qunut sama dan itu saya merasa nyaman di hati saya dan saya terlibat di IPPNU," cerita perempuan kelahiran Jakarta 51 tahun yang lalu itu.

 

Ratu merasa dengan hadirnya di IPPNU menjadikannya manusia yang berguna. Karenanya, ia meminta agar seluruh anggota dan kader tetap semangat di usia 66 tahun. "Tetaplah berbuat meskipun pandemi mendera kita bersama kita harus berdoa membangkitkan pelajar-pelajar di seluruh Indonesia agar coba memberikan sesuatu untuk Pandemi ini," katanya.

 

Peringatan Harlah Ke-66 IPPNU ini juga dihadiri Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini, Ketua Umum PP IPPNU 1996-2000 Safira Machrusah, dan Ketua Umum PP IPPNU 2009-2012 Margareth Aliyatul Maimunah. Hadir juga anggota dan kader IPPNU dari berbagai penjuru di Indonesia secara virtual.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online