Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Nyai Sinta Nuriyah: Penerimaan terhadap Perempuan di Bidang Politik dan Ekonomi Belum Maksimal

Nyai Sinta Nuriyah: Penerimaan terhadap Perempuan di Bidang Politik dan Ekonomi Belum Maksimal
Mengutip data Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Nyai Sinta Nuriyah mengatakan, pada Pemilu 2019, jumlah anggota parlemen perempuan hanya 20,5 persen. (Foto: dok NU Online)
Mengutip data Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Nyai Sinta Nuriyah mengatakan, pada Pemilu 2019, jumlah anggota parlemen perempuan hanya 20,5 persen. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online
Ibu Negara keempat Republik Indonesia Ny Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa afirmasi atau penerimaan perempuan di ranah politik serta kesetaraan di bidang ekonomi masih belum maksimal.

 

“Secara faktual, afirmasi bidang politik dan kesetaraan di bidang ekonomi belum mencerminkan hasil maksimal terhadap upaya penguatan peran perempuan. Hal ini dibuktikan dengan jumlah perempuan yang masuk menjadi anggota parlemen,” ungkap Nyai Sinta dalam webinar Peringatan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, pada Senin (8/3).

 

Ia mengutip data Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) bahwa pada Pemilu 2019, jumlah anggota parlemen perempuan hanya 20,5 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Pemilu 2014 yang hanya sekitar 14 persen. 

 

“Namun hasil ini belum menjadi angka ideal keterwakilan perempuan di parlemen, yaitu 30 persen. Hal ini menjadi kecil di wilayah eksekutif,” tutur istri dari Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini. 

 

Lebih lanjut, Nyai Sinta mengutip data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bahwa pada Pilkada serentak 2018, hanya ada delapan persen perempuan yang menjadi bupati dan walikota. Sementara dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, hanya ada satu gubernur dan wakil gubernur yang perempuan.

 

“Hal yang sama juga terjadi di sektor ekonomi. Jumlah perempuan yang menjadi pengusaha besar, tidak lebih dari hitungan jari tangan,” jelas Nyai Sinta.

 

Ia menyebut beberapa perempuan yang menjadi pengusaha besar di Indonesia. Di antaranya adalah Martha Tilaar dengan produk Sariayu, Mooryati Soedibyo yang memiliki produk Mustika Ratu, Nurhayati Subakat (Wardah), dan Siti Hartati Murdaya. 

 

“Selebihnya mayoritas pengusaha perempuan ada di level usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” lanjut peraih gelar Doktor Honoris Causa Bidang Sosiologi Agama dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

 

Advokasi perempuan

Nyai Sinta melanjutkan bahwa pada 2018 terdapat 37 juta pengusaha UMKM perempuan di Indonesia. Jumlah tersebut merupakan 60 persen dari 50 juta UMKM di Indonesia.

 

"Meski jumlah perempuan mayoritas, namun mereka hanya pada usaha mikro dan kecil. Sementara perusahaan yang besar masih didominasi kaum lelaki,” ucap Nyai Sinta.

 

Artinya, lanjut Nyai Sinta, kaum perempuan masih tertinggal di sektor ekonomi. Ia mengingatkan agar perlu ada advokasi lantaran peran kaum perempuan sangat penting di tengah kehidupan masyarakat. 

 

“Maka perlu ada advokasi untuk memperkuat peran perempuan di masyarakat. Terutama advokasi sosial yang perlu dilakukan secara positif dan negatif,” katanya.

 

Ia menjelaskan bahwa advokasi sosial positif merupakan upaya sosialisasi dan publikasi terhadap berbagai prestasi yang dicapai kaum perempuan. Sementara advokasi sosial negatif adalah ikhtiar untuk membangkitkan semangat perempuan agar memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas di hadapan publik.

 

“Hal ini dimaksudkan, untuk membuktikan bahwa kaum perempuan memiliki kualitas, kapasitas, dan kemampuan skill yang sama dengan kaum lelaki. Kepada perempuan, kita perlu memberikan dorongan, akses, dan pendampingan agar kemampuan mereka bisa teraktualisasikan secara maksimal,” pungkas Nyai Sinta.

 

Untuk diketahui, sesaat sebelum Nyai Sinta memaparkan pemikiran tentang peran perempuan, disisipkan tayangan video ucapan Hari Ulang Tahun ke-73 untuknya. Ucapan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dan Pedangdut Cici Paramida. 

 

Webinar peringatan Hari Perempuan Internasional ini juga dihadiri oleh dua pembicara lain yakni Jamshed M Kazi dari UN Women Representative Indonesia Liasion ASEAN dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar. Selain itu, hadir pula kader serta anggota Muslimat NU di tingkat wilayah dan cabang seluruh Indonesia.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online