Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Shahnaz Haque Resah karena Guru Agama Banyak Iklankan Ketakutan

Shahnaz Haque Resah karena Guru Agama Banyak Iklankan Ketakutan
Menurut Shahnaz, Tuhan di agama apa pun selalu memberikan sisi feminin sebagai Sang Pencipta, bukan hanya sisi maskulin. Namun ia menjadi resah karena guru-guru agama sering berbicara tentang sesuatu yang bernuansa hukuman sehingga membuat banyak orang ketakutan. (Foto: istimewa)
Menurut Shahnaz, Tuhan di agama apa pun selalu memberikan sisi feminin sebagai Sang Pencipta, bukan hanya sisi maskulin. Namun ia menjadi resah karena guru-guru agama sering berbicara tentang sesuatu yang bernuansa hukuman sehingga membuat banyak orang ketakutan. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online
Artis dan presenter televisi Shahnaz Natashya Haque merasa resah lantaran banyak ustadz dan guru ngaji yang kerap mengiklankan neraka. Menurutnya, iklan tersebut sangat seram dan menyebabkan ketakutan. Sebagian para ahli agama itu, kata Shahnaz, lebih sering bicara tentang neraka daripada membahas surga. 

 

"Jadi kan siapa yang menanam akan menuai badai. Kalau memang dalam kehidupan hanya sedikit hal baik yang bisa menjadi catatan di alam penantian di barzah, akan sibuk untuk menuai yang sudah dilakukan," urainya dalam tayangan galawicara Shahnaz Haque Ngaji ke Kiai NU di TV NU, pada Kamis (11/3) malam. 

 

"Nah, ini pertanyaan saya mengapa (sebagian) para ustadz, ahli dan guru agama, guru ngaji di TPA, selalu iklan mengenai alam sesudah kehidupan, iklannya itu seram?" tanya Shahnaz kepada Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) KH Taufik Damas, sosok kiai yang akan menjawab berbagai pertanyaan keagamaan dari kalangan artis di program terbaru TV NU itu.

 

Padahal menurut Shahnaz, Tuhan di agama apa pun selalu memberikan sisi feminin sebagai Sang Pencipta, bukan hanya sisi maskulin. Namun ia menjadi resah karena guru-guru agama sering berbicara tentang sesuatu yang bernuansa hukuman sehingga membuat banyak orang ketakutan. 

 

"Kalau buat saya, agama yang benar adalah agama yang selalu dekat dengan kemanusiaan dan memahami psikologi manusia untuk menyongsong kematian. Karena kalau ditakuti hanya soal neraka untuk membuat manusia berkarakter baik, nggak terbukti tuh. Banyak yang korupsi, banyak yang berzina. Itu sudah tidak bisa dihitung. Silakan Pak Kiai (menjawab)," tutur Shahnaz. 

 

Keresahan dan pertanyaan itu, dijawab Kiai Taufik Damas dengan mengutip firman Allah dalam hadits qudsi. Sebelumnya, kepada Shahnaz, ia menjelaskan bahwa hadits qudsi merupakan firman Allah yang tidak ada di Al-Qur'an tapi disampaikan oleh Nabi Muhammad. Allah berfirman, anaa inda dzanni abdi bi (Aku tergantung persepsi hamba-Ku terhadap Aku).

 

"Nah, orang yang sering kali menceritakan sesuatu yang seram setelah kematian dengan ancaman, atau cara pandang keagamaannya tidak lembut, itu karena dia salah persepsi terhadap Allah. Dia mempersepsikan Allah itu, mungkin, sebagai dzat yang bengis dan pendendam," tutur Kiai Taufik.

 

Padahal, lanjut Kiai Taufik, Allah pernah berfirman, ‘Rahmat-Ku lebih besar dari murka-Ku’. Bahkan Islam mengajarkan, jika orang berniat baik tapi tidak jadi berbuat maka mendapatkan pahala. Sedangkan kalau berniat kemudian berbuat baik maka mendapat pahala ganda. 

 

"Sementara kalau kita niat jahat dan niat jelek tapi tidak jadi, ya tidak mendapat dosa. Kalaupun kita jadi melakukan kejelekan itu dosanya cuma satu. Itu menunjukkan betapa rahmat Allah (lebih besar dari murka-Nya)," jelasnya. 

 

Menurutnya, banyak yang salah memahami tentang rahmat Allah karena tidak didukung oleh literasi yang baik. Kiai Taufik menyebut, orang-orang yang berpersepsi bahwa Allah jahat dan menyeramkan itu hanya berdasar pada khayalan serta hawa nafsu belaka. 

 

"Itu hal wajar. Karena banyak manusia itu beragama dengan nafsu. Bahkan dia mempersepsikan Tuhan dengan nafsu. (Dan) itu kita nggak kaget karena di Al-Quran itu ada orang-orang yang dikatakan, dia itu bukan bertuhan kepada Allah tapi hawa nafsunya yang dijadikan Tuhan (Al-Furqan ayat 43)," jelas Kiai Taufik. 

 

"Jadi kalau dia benci sama orang dan orang itu kena musibah, dia bilang itulah azab. Tapi kalau dia sayang sama orang dan orang itu kena musibah, dia bilang sabar, kamu sedang diuji. Jadi pilih kasih. Padahal Allah tidak pilih kasih, yang pilih kasih itu nafsu manusia," pungkasnya.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan


Instal sekarang NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.
Posisi Bawah | Youtube NU Online