Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Berdayakan Petani, Tokoh NU Jember Luncurkan Produksi Beras Lokal

Berdayakan Petani, Tokoh NU Jember Luncurkan Produksi Beras Lokal
Pengasuh Yayasan Pesantren Raudlah Darus Salam, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Jember, HM Misbahus Salam (kiri) bersama KH Agoes Ali Mashuri saat peluncuran beras Bintang Songo. (Foto: NU Online/Misbah)
Pengasuh Yayasan Pesantren Raudlah Darus Salam, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Jember, HM Misbahus Salam (kiri) bersama KH Agoes Ali Mashuri saat peluncuran beras Bintang Songo. (Foto: NU Online/Misbah)

Jember, NU Online
Pengasuh Yayasan Pesantren Raudlah Darus Salam, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, HM Misbahus Salam menekankan pentingnya santri untuk belajar dan menekuni pertanian. Sebab, semakin lama pertanian semakin terdesak. Bahkan produk pertanian Indonesia cenderung tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri.


“Buktinya, banyak produk pertanian yang masih impor, bahkan beras sekalipun juga masih impor,” ujarnya saat meluncurkan beras Bintang Songo di kediamannya, Sabtu (13/3).


Menurutnya, Indonesia yang merupakan negara agraris, sangat tidak masuk akal masih mengimpor beras. Tanah Indonesia sangat subur. Bahkan saking suburnya, lanjut H Misbah, penyanyi Koes Plus dalam lagunya menyebut ‘tanah kita, tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman’.   


“Itu gambaran yang riil bahwa betapa suburnya tanah Indonesia,” jelasnya.


Namun kenyataan di lapangan cukup mencengangkan. Betapa tidak, selain mengimpor beras, Indonesa juga mengimpor produk pertanian lainnya seperti bawang putih, bawang merah, kedelai dan sebagainya.


“Herannya lagi, Indonesia mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand, dua negara yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian Indonesia,” jelasnya.


Karena itu, ia mendorong agar santri yang sudah terjun di masyarakat menekuni pertanian agar Indonesia bisa swasembada beras. Kerangka berdirinya NU, katanya, juga dibangun untuk membangkitkan ekonomi. Nahdlatut Tujjar yang merupakan organisasi ekonomi NU, akhirnya berproses dan melebur dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU).


“Nahdlatul Tujjar atau  kebangkitan pedagang bertujuan untuk memperbaiki ekonomi warga kecil yang banyak hidup di pedesaan, dari hasil pertanian,” urainya.


Karena itu, A’wan PCNU Jember tersebut mengapresiasi hadirnya beras Bintang Songo, yang  diproduksi oleh perusahaan milik Nyai Hj Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid). Katanya, kehadiran produk beras tersebut merupakan jawaban atas kegelisahan petani akibat kebijakan pemerintah membuka kran impor beras.


“Bagaimanapun beras impor tetap berimbas pada harga beras lokal. Dan Bintang Songo hadir juga untuk memberdayakan petani karena padinya terdesak oleh beras impor,” ungkapnya.


Ke depan, H Misbah bertekad untuk menjalin sinergi dengan petani dan pondok pesantren guna pengembangan Bintang Songo. Ia yakin gabah Jember dan sekitarnya tak kalah kualitas dibanding gabah di luar negeri.


“Selaku orang yang dipasrahi Gus Dhohir Farisi (suami Yenny Wahid) untuk menata sirkulasi Bintang Songo di Jawa Timur, saya tentu akan bersinergi dengan masyarakat (petani) untuk pemberdayaan dan swasembada,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya