Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Pusat Keuangan Syariah UNU Yogyakarta Jadi Titik Temu Kiai dan Kalangan Industri

Pusat Keuangan Syariah UNU Yogyakarta Jadi Titik Temu Kiai dan Kalangan Industri
Rektor UNU Yogyakarta, Prof Purwo Santoso. (Foto: Tangkapan layar TVNU)
Rektor UNU Yogyakarta, Prof Purwo Santoso. (Foto: Tangkapan layar TVNU)

Jakarta, NU Online

Centre for Sharia Finance and Digital Economy (Shafiec), sebuah pusat lembaga keuangan syariah di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta diharapkan menjadi titik temu para kiai dengan kekuatan kitab kuningnya dan kalangan profesional yang menekuni Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).


Demikian disampaikan Rektor UNU Yogyakarta Purwo Santoso saat sambutan dalam peringatan Hari Lahir keempat UNU Yogyakarta sekaligus peluncuran Shafiec di hari ketiga dengan mengangkat tema Pesantren Ber-Karya (Kreatif dan Berdaya), pada Ahad (14/3) pagi.


“(Shafiec) UNU Yogyakarta adalah titik temu dari kalangan profesional dan kalangan industri DUDI dengan kekuatan ngajinya para kiai. (Yaitu) kekuatan kontekstualisasi ajaran, kekuatan membaca kitab, kekuatan literature review yang ada pada kiai dan selama ini masih belum saling bersambung,” tutur Purwo.


UNU Yogyakarta berusaha menjembatani semua kalangan. Secara inovatif melakukan upaya kontekstualisasi ajaran. Karena itu, Shafiec yang diluncurkan pada Jumat lalu itu adalah bentuk invovasi dari upaya sivitas akademika UNU Yogyakarta yang sudah menekuni dunia industri, perbankan, dan digital.


“Dengan itu kami yakin, kelak NU akan punya outlet besar. UNU Yogyakarta ini bergerak sebagai simpul. Kami juga mengundang jajaran NU, baik kalangan muda maupun sepuh, untuk mendukung kegiatan inovatif sebagai upaya menjembatani dunia sehingga tidak terbelah menjadi hanya sekadar halal-haram,” ucapnya.


Tetapi, lanjut Purwo, halal-haram itu mampu lebih diperjelas sesuai dengan konteks kekinian yang sedang terjadi. Karena kelenturan melakukan kontekstualisasi itulah, menurutnya, kalangan profesional lebih merasa nyaman bersama kalangan komunitas santri.


“Karena kalau tidak disapa dan tidak dikontekstualisasikan, mereka tidak akan merasa bagian dari NU. Pada saat yang sama, kontekstualisasi ajaran kiai yang merupakan kekuatan kita untuk berbangsa dan bernegara bisa diwujudkan,” tegasnya.


“Saya sangat bersyukur (atas) dukungan para kiai yang sangat luar biasa dan kami bersyukur karena peluncuran Shafiec merupakan tanda bergerak majunya serta semakin dominan peranan pendidikan tinggi di dalam upaya mengembangkan transformasi di bidang keuangan syariah,” lanjutnya.


Untuk mendukung pergerakan kemajuan tersebut, UNU Yogyakarta kemudian mengajak semua pihak, baik sivitas akademika maupun para jamaah dan jamiyah NU untuk bersama-sama melakukan lompatan besar.


Sebab diharapkan, Shafiec dapat mengakar kuat ke jamaah dan menjulang tinggi berbagai ajaran agama yang dilakukan oleh para kiai melalui literatur kitab kuningnya. Selain itu, UNU Yogyakarta terus melakukan upaya untuk bisa menjangkau dunia industri dan digital yang dipastikan berbasis syariah dan akidah sesuai dengan yang digariskan para kiai NU.


“Dalam merancang Shafiec ini, kita telah berusaha untuk mengumpulkan berbagai macam para ahli di lingkungan NU, ada yang di Jeddah, ada yang di dunia perbankan, dan industri, yang selama ini tidak terlihat karena tidak memakai bendera NU,” katanya.


PBNU apresiasi Shafiec UNU Yogyakarta


Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengapresiasi UNU Yogyakarta yang telah meluncurkan Shafiec. Diharapkan, lembaga pusat keuangan syariah ini mampu berperan sebagai subjek perubahan. Tujuannya untuk membangun keterhubungan pondok pesantren dengan layanan keuangan syariah.


“Kami menyambut baik hadirnya Shafiec sebagai bagian dari katalisator di dalam konteks membangun linkage pondok pesantren dengan layanan keuangan, terutama keuangan syariah. Mudah-mudahan Shafiec menjadi upaya penting melakukan transformasi terutama pemberdayaan ekonomi keumatan melalui basis layanan di pondok pesantren,” ungkap Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online