Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Harga Gabah Turun, Petani Ponorogo Keluhkan Rencana Pemerintah Impor Beras

Harga Gabah Turun, Petani Ponorogo Keluhkan Rencana Pemerintah Impor Beras
Petani di Ponorogo tengah beristirahat saat memanen padinya, Ahad (14/3). (Foto: istimewa)
Petani di Ponorogo tengah beristirahat saat memanen padinya, Ahad (14/3). (Foto: istimewa)

Ponorogo, NU Online

Rencana pemerintah mengimpor beras, berdampak pada penurunan harga gabah di daerah. Salah satunya di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sejumlah petani pun mengeluh karena di masa panen padi saat ini, harga gabah justru anjlok.

 

Lamuji,  petani Desa Karanglo, Kidul Kecamatan Jambon, mengeluhkan dampak rencana impor itu. "Harga pupuk nonsubsidi mahal, rekoso-nya (penderitaan) petani apa tidak disadari Pemerintah," keluh Lamuji saat ditemui Ahmad, Ketua PC LPPNU Ponorogo.

 

Wakil Rais Syuriyah PCNU Ponorogo, Muhammad Asvin Abdu Rohman menilai rencana pemerintah untuk mengimpor beras di masa panen padi, sangat tidak tepat karena tidak menguntungkan masyarakat.

 

"Kemaslahatan itu sebagai kunci dari kebijakan pemerintah. Kalau kemudian kebijakan itu membuat sulit, melemahkan ekonomi masyarakat, daya beli menjadi turun atau hasil pertanian tidak mengatrol ekonominya maka itu justru kebijakan tidak tepat," katanya usai pengajian zakat pertanian, di Desa Mrican, Kecamatan Jenanga, Kabupaten Ponorogo, Ahad (14/3).

 

Menurut Gus Asvin yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ridlo Siman, Ponorogo itu, pemerintah seharusnya melakukan pengukuran secara konsep umum apakah import beras, penting atau tidak untuk dilakukan.  "Kalau itu memang penting dan diperlukan hal tersebut bisa dibenarkan," ujarnya. 

 

Ia menambahkan segala kebijakan haruslah terukur secara kemaslahatan agar kebijakan menjadi tepat dan tidak merugikan masyarakat.

 

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah memutuskan untuk impor beras sebanyak satu juta ton pada 2021 melalui Bulog. Rinciannya 500 ribu ton sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) dan setengahnya lagi sesuai kebutuhan Bulog.

 

Impor dilakukan dengan alasan stok yang ada sudah digunakan untuk bansos selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di samping itu, Pemerintah juga merasa perlu mengantisipasi dampak banjir dan pandemi Covid-19.

 

Akan tetapi, dampak impor menurunkan harga gabah milik petani yang ada di wilayah Ponorogo. Atas kejadian itu pihak Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Ponorogo melakukan pengawalan. 

 

"Ketika masa tanam, petani kesulitan pupuk. Lha ini di musim panen harga turun," kata Ahmad, Ketua LPPNU Ponorogo.

 

Kontributor: Zen Ahmad
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online