Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

PBB Sebut Konflik di Suriah Lebih Lama dari Dua Perang Dunia

PBB Sebut Konflik di Suriah Lebih Lama dari Dua Perang Dunia
Ilustrasi: salah satu pos militer di Kota Idlib, Suriah. (Foto: AFP)
Ilustrasi: salah satu pos militer di Kota Idlib, Suriah. (Foto: AFP)

Jakarta, NU Online

Utusan khusus PBB untuk Suriah, Geir Pederson mengatakan bahwa konflik brutal yang telah menyelimuti Suriah telah berlangsung lebih lama dari pada gabungan kedua perang dunia.


Hal itu disampaikan Geir Pederson pada Senin (15/3) pada peringatan 10 tahun perang saudara, dilansir Middle East Monitor, Selasa (16/3).

 

Geir Pedersen mengatakan sebagian besar wilayah di Suriah tetap stabil selama setahun terakhir. Ia juga menekankan situasi harus digunakan untuk membuat kemajuan pada penyelesaian politik.

 

"Bahaya terbesar dari semuanya adalah bahwa ketenangan yang rapuh terurai, yang mengarah ke badai baru konflik habis-habisan dan semua itu akan berarti bagi warga Suriah, wilayah tersebut dan sekitarnya," katanya kepada Dewan Keamanan.

 


"Itulah mengapa saya akan selalu menekankan, pertama dan terutama, pentingnya mengonsolidasikan ketenangan yang rapuh ini ke dalam gencatan senjata di seluruh negeri."


Pedersen meminta anggota dewan untuk tidak melupakan pentingnya resolusi damai.


"Solusi politik adalah satu-satunya jalan keluar, dan saya yakin itu mungkin. Dalam beberapa hal, sekarang lebih mungkin daripada sebelumnya, tetapi untuk mengubah kemungkinan itu menjadi kenyataan, keterlibatan kreatif dan tingkat tinggi dari pemain internasional utama dengan taruhan dalam konflik ini akan dibutuhkan," katanya.


Awal munculnya konflik dan perang saudara di Suriah


Konflik yang terjadi di Suriah tidak dapat terlepas dari fenomena Arab Spring yang mulai muncul pada 2010. Arab Spring merupakan gelombang gerakan revolusioner yang disebabkan oleh banyaknya rezim otoriter yang berkuasa di kawasan Timur Tengah. 

 

 

Pada 2011, gelombang fenomena Arab Spring mulai menjalar di Suriah. Hal ini menjadi penyebab bangkitnya gerakan revolusioner Suriah melawan pemerintahan otoriter Bashar al-Assad.


Akar konflik Suriah berawal dari ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Bashar al-Assad. Bashar al-Assad adalah penerus rezim Assad sekaligus keturunan dari Hefedz al-Assad.


Konflik Suriah berawal pada 11 Maret 2011 ketika kelompok remaja menggambar slogan anti pemerintahan di Kota Daraa. Slogan tersebut berisi ajakan untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad. Pemerintah Suriah menanggapi peristiwa tersebut dengan kekerasan.


Kepolisian Suriah memenjarakan dan menyiksa seluruh pemuda yang dianggap terlibat dalam penyebaran slogan anti pemerintah. Tindakan represif kepolisian mengakibatkan aksi protes tambah meluas hingga ke kota-kota lain di Suriah.

 


Selain itu, terjadi pula perang saudara antara masyarakat pro-pemerintah dan golongan revolusioner di berbagai kota Suriah. Pada 2014, muncul kelompok oposisi baru yaitu ISIS dan Jabhat al-Nushra.


Mereka berupaya mendirikan negara Islam di Suriah dengan melakukan teror kepada masyarakat dan pemerintahan Suriah. Di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, ISIS mampu menguasai sebagian besar wilayah Suriah dalam rentang waktu 2015 hingga 2017.


Eksistensi ISIS di Suriah mengakibatkan kekhawatiran dunia Internasional. PBB dan negara-negara besar dunia ikut turut campur dalam membasmi keberadaan ISIS pada akhir 2015. Pada Maret 2019, ISIS berhasil dikalahkan dan wilayah Suriah berada dalam pengawasan Dewan Keamanan PBB.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Posisi Bawah | Youtube NU Online