Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Baha: Lebih Kuat Mana, Besi sama Kertas?

Gus Baha: Lebih Kuat Mana, Besi sama Kertas?
KH Bahaudin Nursalim (Gus Baha). (Foto: Dok. NU Online)
KH Bahaudin Nursalim (Gus Baha). (Foto: Dok. NU Online)

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Bahaudin Nursalim (Gus Baha) menganalogikan hubungan manusia dengan Allah SWT yang maha kuasa seperti memahami kekuatan antara besi dan kertas. Ketika ditanya lebih kuat mana besi dan kertas, maka pasti banyak yang menjawab, besi tentu lebih kuat karena secara materi pun besi yang lebih kuat.


Walaupun secara materi besi lebih kuat, namun menurut Gus Baha, secara hakiki semua tergantung kepada pemilik besi atau kertas tersebut. Karena bisa jadi sang pemilik kedua benda tersebut ingin berencana menghancurkan besi dan kemudian mengabadikan kertas.


“Kira-kira itu hubungan manusia dengan Allah SWT. Jadi, hal yang kita kira abadi karena materinya kuat, ternyata Allah mempunyai rencana menghancurkan. Sementara yang kita kira lemah, ternyata Allah mempunyai rencana mengabadikan,” jelasnya.


Oleh karena itu, lanjut Gus Baha, sudah seharusnya manusia menyerahkan semua urusan kepada yang punya atau yang mengaturnya. Bukan hak dan wilayah manusia untuk menentukan karena Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir: “Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami”.


“Sehingga tentang pandemi, tragedi sosial, tentang apa saja kita nggak pernah tahu rencana Allah itu mana yang lebih awet. Jangan-jangan kita takut pandemi, (ternyata) kita mati kecelakaan. Jangan-jangan takut kecelakaan, mati kita karena nglindur. Tidur keblabasan nggak bangun-bangun,” jelasnya.


Hal ini, menurut Gus Baha, harus menjadikan manusia berfikir dan sadar bahwa Allah lah yang paling kuasa terhadap segala hal di muka bumi. Seluruh manusia di muka bumi ini adalah makhluk yang lemah dan tidak ada manusia yang kuat. Walaupun banyak orang yang bisa menguasai dunia, namun sebenarnya sangat lemah karena ketika tidak makan mereka pasti tidak bisa. 


“Makanya ketika ada orang yang mempertuhankan manusia, cara Allah menafikan itu hanya bilang kana ya’kulani tha’am: yang kamu tuhankan itu makan. Kalau nggak makan lemes,” jelasnya saat menjadi pemateri pada Peringatan Isra’ Mi’raj yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan RI, Rabu (17/3).


Sementara menghadapi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum mereda, Gus Baha mengajak semua masyarakat untuk senantiasa meningkatkan keimanan pada Allah SWT dan melakukan tawakkal serta ikhtiar. 


“Kalau nuruti takut ya kita takut. Tapi cobalah kita iman lagi. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Indonesia pasti akan baik-baik saja dan kita selalu berharap dengan ikhtiar dan doa pada Allah SWT,” pungkasnya.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori
 

Posisi Bawah | Youtube NU Online