Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Pembatasan Pupuk Bersubsidi Makin Sengsarakan Petani

Pembatasan Pupuk Bersubsidi Makin Sengsarakan Petani
Heru, petani asal Desa Pace, Kecamatan Silo Kabupaten Jember Jawa Timur. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq )
Heru, petani asal Desa Pace, Kecamatan Silo Kabupaten Jember Jawa Timur. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq )

Jember, NU Online
Pembatasan kuota pupuk bersubsidi, menjadi pukulan berat bagi petani. Sebab, petani harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli pupuk non subsidi. Atau jika tidak, petani harus rela tanaman padinya dipupuk seadanya yang tentu berdampak pada pertumbuhan padi berikut hasil panennya.


Hari-hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi petani karena memasuki masa panen. Namun kebahagiaan itu sepertinya makin jauh dari kehidupan petani. Paling tidak, inilah yang dirasakan oleh Rasyid. Petani asal Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember Jawa Timur ini, merasakan bahwa panen saat ini betul-betul memprihatinkan. Sebab, harga gabah tidak kunjung naik meski biaya produksinya semakin mahal.


“Seharusnya dengan biaya produksi (padi) yang semakin mahal karena menggunakan pupuk non subsidi, harga gabah naik. Tapi ini tidak, sejak tiga tahun lalu, harga gabah tetap saja. Heran,” jelasnya kepada NU Online di kediamannya, Sabtu (20/3).


Menurut Rasyid, semua komponen biaya produksi padi sangat mahal, dan semakin lama semakin naik. Misalnya, ongkos bajak sawah, upah pekerja, harga benih padi,  dan harga pupuk bersubsidi, semuanya naik. Katanya, kenaikan komponen biaya tanaman padi naik karena biaya hidup semakin mahal.


“Yang bekerja di sawah juga manusia, sementara di sisi lain biaya hidup manusia juga terus naik. Saat ini, harga gabah di sawah sekitar Rp3.600 perkilogram. Harga pupuk non subsidi Rp600.000 perkwintal. Tapi anehnya, harga gabah tidak naik-naik,” urainya.


Hal tersebut juga dibenarkan oleh Heru. Menurut petani asal Desa Pace, Kecamatan Silo Kabupaten Jember ini, selain harga gabah yang murah, pembatasan kuota pupuk bersubsidi juga menjadi persoalan krusial, bahkan jelas-jelas merugikan petani.

 

Bagi petani yang punya sawah luas, mungkin tidak begitu terasa. Tapi mereka yang memiliki lahan pas-pasan, yang hasil panennya hanya cukup untuk dimakan, pembatasan kuota pupuk bersubsidi yang tidak diiringi dengan naiknya harga gabah, jelas membuat hidup petani semakin sengsara.   


“Panen kita susah dua kali. Pertama susah karena harga gabah murah. Susah karena pupuk bersubsidi kita hanya dapat sepertiga dari biasanya. Itu pun tidak gampang. Terus ini gimana, apa kita yang sudah sengsara, apa mau ditambah sengsara,” paparnya.


Dihubungi terpisah Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Jember, Ovi Faisol Arief mengatakan,  kesusahan petani terkait pembatasan kuota pupuk bersubsidi dan murahnya harga gabah, adalah hal yang dimaklumi. Sebab, dengan kondisi demikian, petani kian terjepit.


“Kami sudah berusaha terus mendesak pihak-pihak terkait agar harga gabah dinaikkan, namun tak ada yang peduli. Sekarang kita berdoa kepada Allah agar pemimpin di negeri ini masih memikirkan nasib petani,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya