Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Mengingat Kembali Pesan Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus: Jadi Orang Jangan Takjuban

Mengingat Kembali Pesan Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus: Jadi Orang Jangan Takjuban
Temu alumni dan haul KH Ma'ruf Irsyad Kudus, Selasa (23/3) malam. (Foto: M Asna)
Temu alumni dan haul KH Ma'ruf Irsyad Kudus, Selasa (23/3) malam. (Foto: M Asna)

Kudus, NU Online

Para alumni dan santri Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM) Kudus mengadakan peringatan haul ke-11 KH Ma’ruf Irsyad beserta masyayikh Raudlatul Muta’allimin, Selasa (23/3) malam.

 

Dalam sambutannya, pihak keluarga KH EM Masyfu'i mengutip perkataan KH Ma’ruf Irsyad yang sangat populer di kalangan santri Kudus. Perkataan itu berbunyi "Ojo gumunan lan ojo gampang kepincut. Kabeh kudu ditimbang karo timbangan syara." 

 

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya "Jjangan mudah takjub dan jangan mudah tertarik. Semua harus ditimbang dengan hukum agama."

 

Kiai Fu'i menafsirkan bahwa orang itu tidak boleh mudah takjuban. Pasalnya orang yang mudah takjub selain kepada Allah Ta’ala itu bisa menghilangkan sifat agungnya Allah Ta’ala.

 

"Sedangkankan maksud dari jangan mudah tertarik adalah orang yang mudah tertarik itu menandakan orang tersebut ilmunya pendek. Semua yang dilakukan harus didasari dengan agama," kata Kiai Fu'i.

 

Selain Kiai Fu'i, KH Jazuli Basyir juga turut memberikan sambutan. Ia mengatakan orang tua itu ada dua, yaitu orang tua yang melahirkan dan orang tua yang memintarkan. Inti dari perkataan ini adalah santri jangan melupakan gurunya, sebab guru adalah orang tua yang mendidik agar anak bisa pintar.

 

"Maka dari itu, meskipun gurunya sudah wafat, santri tidak boleh melupakan gurunya dan harus mendoakannya," pesan Kiai Jazuli.


Sementara Gus Nuruddin menyampaikan sepeninggal KH Ali Fikri, ia mengajak para alumni untuk saling bersinergi dalam memajukan pondok. Setelah wafatnya KH Ali Fikri, keluarga ndalem juga mengajak para alumni untuk ikut serta dalam memajukan pondok, baik secara materil atau non materil. Hal itu bertujuan agar pondok tetap eksis untuk kedepannya. Keluarga ndalem juga berpesan untuk didoakan, agar bisa mengurus pondok dengan baik.

 

Peringatan haul ke-11 ini berbeda dari tahun sebelumnya. Agenda yang dilaksanakan pada tahun ini lebih variatif seperti khotmil Qur’an bil ghaib yang dibacakan oleh mutakharijin per angkatan, ziarah ke makam masyayikh, dan malam harinya ditutup dengan temu alumni PPRM lintas angkatan di aula PPRM 2. Agenda-agenda yang bersidat pertemuan langsung, hanya boleh dihadiri oleh santri dan alumni. Karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19, hadirin juga harus mematuhi protokol kesehatan.

 

Hal yang membedakan haul tahun ini juga adalah tanpa kehadiran KH Ali Fikri, yang wafat pada 26 November 2020. Ia adalah menantu KH Ma’ruf Irsyad sekaligus pengasuh PPRM setelah wafatnya oleh KH Ma’ruf Irsyad.

 

Kontributor: M Asna Maulana
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online