Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Abu Nawas dan Nazar Sembelih Kambing Bertanduk Besar

Abu Nawas dan Nazar Sembelih Kambing Bertanduk Besar
Esok pagi, Hamid menjumpai Abu Nawas dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi, beserta istrinya.
Esok pagi, Hamid menjumpai Abu Nawas dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi, beserta istrinya.

Di sebuah negeri, hidup seorang saudagar kaya raya bernama Abdul Hamid. Di usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun, Hamid dan istrinya belum juga dikarunia momongan atau anak.


Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di masjid Hamid bernazar, "Ya Allah, jika engkau mengaruniai aku seorang anak, maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia".


Nazar yang disampaikan Hamid tidak mudah, bahkan sulit karena di zamannya sangat jarang terdapat kambing bertanduk sebesar jengkal manusia atau bertanduk besar itu.


Dengan kehendak Allah, doa Hamid terkabul. Dia dan istri bahagia bukan kepalang. Singkat cerita bayinya pun telah lahir. Hamid segera mengadakan sayembara kambing dengan tanduk sebesar yang diinginkannya itu.


Hari berganti hari, Hamid dan istrinya tidak juga mendapatkan kambing yang dimaksud. Akhirnya ia mengirim utusannya bernama Shabur untuk meminta tolong kepada Abu Nawas.


Hamid si kaya raya berharap bisa menemukan kambing dimaksud atau minimal Abu Nawas bisa memberikan solusi atas nazarnya itu.


“Ya sudah, katakan kepada tuan kamu, bawa seekor kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke masjid,” ucap Abu Nawas kepada Shabur.


Esok pagi, Hamid menjumpai Abu Nawas dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi, beserta istrinya.


"Baiklah tuan Hamid, jika nazarmu kepada Allah SWT menyembelih kambing yang punya tanduk sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu?" tanya Abu Nawas.


"Ini kambing dan anak saya,” jawab Hamid.


Abu Nawas kemudian mengukur tanduk kambing dengan jengkal anak bayi. "Sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah SWT karena sudah dapat kambing yang pas,” kata Abu Nawas. (Ahmad F)

Posisi Bawah | Youtube NU Online