Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Pengamat: Teror Bom di Makassar Pola yang Dilakukan ISIS

Pengamat: Teror Bom di Makassar Pola yang Dilakukan ISIS
Ilustrasi terorisme. (NU Online)
Ilustrasi terorisme. (NU Online)

Jakarta, NU Online

Polri mengungkapkan bahwa pelaku bom bunuh diri di Makassar, Sulawesi Selatan pada Ahad (28/3) lalu adalah sepasang suami istri yang baru enam bulan menikah. Melihat hal tersebut, Pemerhati Terorisme Robi Sugara menyampaikan bahwa pola melibatkan istri atau anak, ini pola yang dilakukan oleh ISIS. Di Indonesia, kelompok ini tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD).


Menurut dia, sudah bisa dipastikan pelaku aksi demikian merupakan bagian dari ISIS. Jika pelaku bukan bagian dari afiliasi kelompok ISIS, mereka dipengaruhi oleh cara-cara ISIS dalam melakukan aksinya yang sudah dipraktikkan di konflik Suriah.


“Dan sangat dipengaruhi oleh aksi-aksi ISIS di Irak dan Suriah.” kata Robi kepada NU Online pada Selasa (30/3).


Strategi taktik ini bukan hanya mempengaruhi sebagian kecil masyarakat Indonesia, katanya, tapi warga negara lain yang memiliki simpatik terhadap ISIS.

 

Ia mencontohkan aksi terorisme pada Charlie Hebdo Magazine di Prancis (2015); bom di Boston, Amerika Serikat (2013); serangan di Brussels, Belgia (2016); dan bom Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (2018).


Motif lain kenapa harus keluarga, lanjutnya, jika hanya satu orang dan meninggalkan istri dan anaknya, mereka akan dipaksa atau terpaksa ikut program deradikalisasi sehingga mereka menjadi kafir. “Jadi, lebih baik ikut mati syahid dalam aksi tersebut,” terang dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Dengan melakukan aksi teroris bom bunuh diri bersama keluarga, mereka meyakini akan masuk surga bersamaan. Sebab jika tidak bersamaan, maka istri atau saudaranya masih tetap hidup dan dipastikan akan mendapatkan perlakuan atau ikutserta program deradikalisasi baik dari pemerintah ataupun non pemerintah yang kemudian, keluarganya menjadi kafir.


“Dalam kasus ini, mereka sering merujuk kepada keluarga pelaku bom Bali Mukhlas di Lamongan yang menurut mereka keluarga dari pelaku Bom Bali karena terlibat counter narasi terkait dengan aksi teroris, maka mereka disebut kafir sehingga merusak perjuangan Mukhlas dan kawan-kawan terkait jihad di Indonesia,” jelasnya.


Selain itu, Robi juga menjelaskan bahwa laki-laki dalam mengemban jihad perang melawan orang-orang kafir untuk tujuan menegakkan kerajaan Tuhan telah gagal. Oleh karena itu, mereka harus menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia, apapun itu, termasuk istri dan anak-anak.

 

“Pada 2015, PBB mencatat ada sekitar 270an anak terlibat dalam aksi terorisme,” pungkasnya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online