Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Kiai Said Bekali Dosen Alumni PMII Songsong Indonesia Emas

Kiai Said Bekali Dosen Alumni PMII Songsong Indonesia Emas
Kiai Said menginginkan selain mengusai ilmu agama, para dosen alumni PMII bisa menguasai teknologi dalam menyongsong Indonesia emas 2045. (Foto: NU Online)
Kiai Said menginginkan selain mengusai ilmu agama, para dosen alumni PMII bisa menguasai teknologi dalam menyongsong Indonesia emas 2045. (Foto: NU Online)

Tulungagung, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj meminta kepada para tenaga pendidik khususnya dosen di Perguruan Tinggi agar tidak hanya mengajar di dalam kelas dengan seadanya, tetapi harus lebih aktif dan kreatif.


Hal itu sebagaimana disampaikan dalam sharing sassion I dengan tema Indonesia Emas: Isu dan Tantangan Masa kini pada rangkaian Muktamar Pemikiran Dosen PMII di UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (5/4) pagi.

 

"Dosen itu mempunyai otoritas keilmuan yang tinggi. Meski cukup menantang dan berat tetapi hal itu adalah tugas yang mulia," ujar Kiai Said di hadapan para dosen alumni PMII seluruh Indonesia melalui virtual. 

 

Kita semua, lanjut Kiai Said, menginginkan para dosen agar mengajar dengan penuh inovasi dan mampu mengkondisikan ajaran-ajaran Islam untuk menghadapi tantangan zaman saat ini. Dengan itu pemikiran para dosen juga bisa disebut sebagai ilmu ahwal yaitu memahami situasi.

 

"Nah, para dosen harus seperti itu. Dia harus selalu berkembang, inovatif, kreatif, dan ijtihad dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan yang ia miliki," tambah Kiai Said.

 

Menurutnya bagi Nadhliyin persoalan akidah dan syariah sudah selesai. Yakni, dengan mengikuti akidah ajaran Imam Asy'ari dan syariah ajaran Imam Syafi'i. Oleh karena itu, dirinya meminta agar para dosen ilmu agama yang mengajar di kelas jurusan bukan ilmu agama, seperti jurusan teknik dan lainnya, agar tidak usah berbelit-belit dalam membincang ilmu syariah. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menghindari munculnya paham radikalisme.


"(Mengaggap) Dua kali pertemuan saja cukup. Jika diperbanyak nanti isinya bisa tentang surga, neraka, Islam, kafir, sesat. Jika terus seperti ini radikal jadinya. Kecuali jurusan agama seperti jurusan ushuluddin, syariah dan seterusnya, itu perlu kajian yang mendalam," tegas Kiai Said Alumnus Ummul Qurra, Arab ini.

 

Lebih lanjut, Kiai Said mengatakan harapannya agar para dosen alumni PMII bisa menguasai teknologi dalam menyongsong Indonesia emas 2045.

 

"Jangan sampai kita ketinggalan dengan alumni ormas yang lain. Alumni PMII juga harus menguasai teknologi," ujar pengasuh Pesantren Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

 

Kiai Said mencontohkan di saat Islam selama delapan abad mampu memegang dan menjadi kiblatnya peradaban di dunia melalui teknologi. Sementara ketika Spanyol tengah bersaing dengan Baghdad dalam membangun peradaban.

 

"Pada masa itu, Eropa masih tidur, China masih tradisional, seluruh dunia masih tradisional. Hanya Islam yang maju melalui munculnya para ilmuwan dan tokoh ulama dengan teknologinya yang luar biasa," jelasnya.

 

Menurut Kiai Said, akan sangat bagus jika para dosen alumni PMII hafal Al-Qur'an. Atau pandai membaca dengan benar. Tetapi, sangat memalukan jika membacanya 'blepotan'.

 

"Sangat menjijikkan, memalukan, jika dosen alumni PMII tidak bisa baca Al-Qur'an. Kalau dosen alumni ormas lain ya terserah. 'Karepo kono'," kata Buya Aqil Siroj.

 

Bagi Kiai Said membangun karakter adalah bagian dari hal penting. Saat ini Indonesia hampir kehilangan karakter, mengingat derasnya arus paham sekuler, liberal termasuk juga paham Arab yang radikal, tekstual dan harfiah.

 

"Percuma kita beragama, jika tidak berkarakter. Percuma berteknologi, jika tidak berkarakter. Percuma jika berilmu, jika tidak berkarakter," tegasnya lagi.

 

"Sudah wataknya kepribadian Indonesia itu menjadi orang yang penengah. Sebagaimana Pancasila yang diambil dari budaya Indonesia yang menunjukkan sebagai bangsa yang tawasuth, seperti NU dengan sikap tawasuth-nya," pungkasnya.

 

Kontributor: M Irwan Zamroni Ali
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya