Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Yahya: Artikulasi NU Disambut Baik Masyarakat Dunia

Gus Yahya: Artikulasi NU Disambut Baik Masyarakat Dunia
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)

Jakarta, NU Online

Dunia internasional terus mengalami pergolakan dan perubahan besar untuk menemukan peradaban baru. Nahdlatul Ulama pun terus bergerak dalam mewarnai perubahan-perubahan tersebut. Pemikiran ulama NU pun disambut baik dunia internasional sebagai sebuah jawaban atas beragam problematika yang ada.

 

"Saya bukan hanya menghipotesiskan, tetapi sudah membuktikan, bahwa artikulasi yang sudah dilahirkan NU ternyata diterima sebagai tawaran yang menarik bagi masyarakat global," kata Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat memberikan Khutbah Iftitah pada Forum Afkar 2021 Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, Rabu (7/4).

 

Gus Yahya, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa  artikulasi NU selama ini sudah terbukti mendapatkan perhatian dan diterima antusias oleh masyarakat internasional. Ia mencontohkan pemikiran mengenai persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyah) yang sudah dicetuskan sejak tahun 1984. Pada 2019, hal serupa dideklarasikan oleh Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad al-Tayeb.

 

Pemikiran tersebut merupakan perubahan besar sebagai buah dari gerakan intelektual. Ia menyampaikan bahwa NU lahir sebagai gerakan para intelektual. Pun dengan lahirnya Republik Indonesia juga buah gerakan intelektual. "Ujung dari kebangkitan intelektualisme itu gerakan untuk menawarkan satu jalan keluar dari masalah masyarakat, termasuk di dalam soal populisme global," katanya.

 

Gus Yahya berharap para sarjana NU tidak hanya mengutak-atik khazanah akademis, tetapi sungguh-sungguh berpikir berdasarkan ilmu spesialisasi masing-masing untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang nyata. "Intelektualisme apabila dikembangkan dengan semestinya, pada akhirnya akan berujung menjadi Gerakan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu.

 

Semangat konsensus

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya menyampaikan bahwa NU memiliki semangat konsensus dalam menyelesaikan problematika masyarakat global. Hal ini dilandasi pada Rasulullah saw yang mengajak pada sebuah kesepakatan bersama, ta’alaw ila kalimatin sawa’. Ia menyebut bahwa Ahlussunnah wal Jamaah sendiri juga merupakan upaya konsensus dari pertarungan politik dan liarnya pergulatan wacana keagamaan.

 

"Kalau kita lihat, yang dibutuhkan adalah upaya untuk membangun konsensus. Kalau sekularisme memandang agama sebagai masalah maka respons kita adalah seharusnya respons untuk menemukan titik temu, bukan untuk menghancurkan, bukan untuk mengalahkan," tegas Gus Yahya.

 

Oleh karena itu, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) 2017-2019 itu mengatakan bahwa NU harus menjawab agama sebagai sebuah jalan keluar, bukan sebagai sumber masalah yang menjadi anggapan masyarakat sekular. NU dengan keberagamaannya yang tradisional harus bisa sekaligus menjadi jalan keluar dari kemelut peradaban.

 

"Ini panggilan sejarah. Kebutuhan besar dari peradaban dunia masa depan yang saya kira kita harus mulai menjawab, bukan hanya dalam bentuk ruang abstrak, seruan untuk toleran dan sebagainya. Tetapi kita harus membangun strategi gerakan untuk mewujudkan satu visi yang konkret tentang masa depan yang lebih baik untuk semua umat manusia," pungkasnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutannya menyampaikan bahwa Forum Afkar 2021 setidaknya dapat membangkitkan gerakan intelektual kaum muda NU yang belakangan terkesan vakum. "(Forum Afkar) ini paling tidak, minimal, bisa membangkitkan kembali gerakan intelektual kaum muda NU. Saya rasa belakangan ini sunyi, sepi, dan ada kevakuman dari gerakan intelektual NU ini. Paling tidak, ada degradasi," katanya.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online