Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Wali Songo Buat Nyaman Warga Nusantara dengan Sentuhan Kebudayaan

Wali Songo Buat Nyaman Warga Nusantara dengan Sentuhan Kebudayaan
Ngatawi al-Zastrouw, pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). (Foto: dok. istimewa)
Ngatawi al-Zastrouw, pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia). (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Dalam tempo kurang dari 50 tahun, Wali Songo sukses menyebarkan dakwah Islam di Bumi Nusantara. Masyarakat pribumi menerimanya dengan penuh suka cita, tanpa ada satu tempat ibadah agama sebelumnya yang rusak. Hal itu tidak lain karena mereka dapat membuat nyaman warga Nusantara dengan sentuhannya tepat pada hati melalui revolusi kebudayaan yang diusung sebagai strategi dakwahnya.


“Wali Songo memang sesuatu yang monumental, unik, karena Wali Songo ini menyebarkan mengajarkan dan memahami Islam dalam konteks konstruksi budaya setempat. Islam sebagai ajaran universal diekspresikan dengan memanfaatkan konstruksi tradisi sistem nilai dan budaya yang ada di masyarakat itu,” kata Ngatawi al-Zastrouw, pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dalam sebuah perbincangan bersama Pemimpin Redaksi Historia.id Bonny Triana pada Jumat (17/4).


Setidaknya, Zastrouw melihat tiga revolusi kebudayaan yang diusung sebagai sebuah strategi dakwah Wali Songo, yakni cara mengajarkan, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam yang universal itu berbeda sehingga menjadi spesifik dan khas Nusantara. 

“Akhirnya Islam warnanya, ekspresinya itu menjadi berbeda dan spesifik. Kalau ajarannya tetap sama, tetapi ekspresi keislamannya menjadi berbeda,” ujarnya.


Pengajaran Islam ala Wali Songo merupakan sebuah koreksi atas dakwah yang pernah dilakukan sebelumnya. Sebagaimana diketahui, Islam masuk ke Nusantara sejak akhir abad 7 atau awal abad 8. Namun, perkembangan pesatnya terjadi saat era Wali Songo di abad ke-15. Hal itu terjadi karena strategi dakwah sebelum Wali Songo tidak cocok dengan Nusantara.


Contoh kecil saja, jelasnya, penyebar dakwah sebelumnya hanyalah pedagang, sementara konstruksi kebudayaan Nusantara dipengaruhi Hindu Buddha yang berkasta itu. Penyebar agama, menurut kepercayaan tersebut, ada di tangan Brahmana, sementara penyebar agamanya merupakan pedagang yang berkasta Waisa.


“Wali Songo melakukan koreksi sehingga menggunakan kebudayaan sebagai cara untuk menyebarkan agama,” terang Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia itu.


Lebih lanjut, Zastrouw menjelaskan bahwa kitab-kitab pendidikan lama seperti Silakrama tetap digunakan dan dipadukan dengan kitab-kitab Islam yang bicara tentang Pendidikan Islam, seperti Ta'limul Muta'alim, Adabud Dunia wad Din.


“Nilai-nilai yang sama. Misalnya, penghormatan terhadap guru, akhlak guru kepada murid, tanggung jawab guru kepada siswa, itu yang sama, tidak dilakukan perubahan. Dia mengambil etik-etik di silakrama itu dikolaborasikan dengan Ta'limul Muta'alim dan sebagainya,” katanya.


Perangkat kebudayaan yang digunakan sebagai media dakwah ini, menurutnya, menyentuh hati masyarakat Nusantara. Dari hal itu, ia menegaskan bahwa Wali Songo melakukan sentuhan afektif lebih dahulu, bukan aspek kognitifnya.


“Maka yang diberikan kepada masyarakat Jawa, terutama itu terkait etik, moral, terus spiritualitas, sementara hal-hal syariah yang sifatnya simbolik, ibadah mahdhoh, itu belum diberikan dulu, Mas. Itu belakangan. Yang penting hatinya diambil dulu, dibikin rasa senang, rasa enjoy, rasa tidak terancam, rasa tidak terpinggirkan dengan ajaran-ajaran baru ini,” pungkas 


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya