Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tradisi Ramadhan di Gresik Cermin Perkembangan Islam Diterima Masyarakat

Tradisi Ramadhan di Gresik Cermin Perkembangan Islam Diterima Masyarakat
Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH Agus Sunyoto. (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH Agus Sunyoto. (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)

Jakarta, NU Online
Sejarawan yang juga Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PP Lesbumi NU), KH Agus Sunyoto, mengatakan dalam bulan Ramadhan di Indonesia dikenal dengan banyak tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan yang dimulai pada 21 Ramadhan. Sebelum tanggal tersebut, hampir tidak ada kemeriahan Ramadhan yang bersifat tradisi.


"Tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan tradisi yang dilakukan sejak zaman Walisongo. Contoh tradisi di Gresik ada malam selikur atau malam ke-21. Orang-orang bikin lampion-lampoion atau damar kurung sepanjang jalan ke makam Sunan Giri," katanya saat mengisi Pesantren Ramadhan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis (15/4).


Kiai Agus mengatakan, orang biasanya mengenal lampion-lampion sebagai bagian dari tradisi bangsa Tiongkok. Adanya pemasangan lampion ini bukan saja untuk kegiatan ziarah. Tetapi, juga saat khataman Al-Qur’an dan lainnya. Karena, sejak zaman dulu dilakukan bangsa Tiongkok yang beragama Islam.

 

Selain itu, kata dia, pada malam ke-23 ada tradisi kolak ayam. Ayam dimasak dengan santan, kemudian dicampur dengan daun bawang dan gula merah. Setelah itu, masakan dibagikan. Penyelenggara meminta santri untuk membagikan, kadang jumlahnya mencapai 2000 untuk berbuka puasa. Ada lagi pada malam ke-25 atau selawe, yakni tradisi di daerah Giri.

 

Tradisi ini dimulai untuk menghormati Raden Ali Murtadho, kakak dari Sunan Ampel. Saat pelaksanaan tradisi ini, orang beramai-ramai datang. Sampai tiba puncaknya ada peringatan pasar bandeng. Peringatan ini seperti lomba siapa yang bisa menyajikan bandeng yang terbesar, akan keluar sebagai pemenang. 


Hasil dari pemeliharaan bandeng yang mencapai berat 12-15 kilogram itu dilelang. Orang berebut untuk membeli bandeng terbesar, sebagai penghargaan dengan membeli harga yang sangat tinggi. "Ini ada kaitannya dengan produk mayoritas di Gresik itu petambak," kata penulis Atlas Walisongo ini.

 

Kiai Agus menceritakan, peringatan itu terjadi kerena adanya rangkaian pengembangan Islam di Giri. Berdasarkan Babad Gresik, pada saat Sunan Giri kedua yakni Zaenal Abidin atau Sunan Dalem menggantikan ayahnya, Giri diserang Adipati Raden Pramana, dengan  membawa ribuan pasukan bergerak dari pedalaman ke Gresik untuk menyerang Giri.


Semua penduduk melarikan diri karena ketakutan. Namun ada pasukan yang membela Sunan Giri, jumlahnya 40-an, dipimpin Panjilaras dan Panjiliris. Keempatpuluh orang itu adalah orang-orang China Muslim yang bersenjatakan bedil. Mereka menghadang pasukan Sengguru di daerah Lamongan. 

 

"Tetapi mereka tetap kalah jumlah kemudian mundur lalu mengungsikan Sunan Giri 2 ke pedalaman, daerah Kidang Palih. Merasakan bahwa desa tersebut kehadiran Sunan Giri, penduduk dengan seadanya memberikan sambutan hidangan yang bisa dimakan oleh Sunan Giri dan pengawal-pengawalnya. Mereka rata-rata membawa ayam dan kemudian gula Jawa dan kelapa kemudian yang dimasak menjadi kolak ayam," tutur Kiai Agus Sunyoto.

 

Tradisi yang dilakukan pada 23 Ramadhan setiap tahun ini tidak banyak diketahui, sebagai salah satu tradisi islamisasi, betapa dulu menyebarkan Islam tidakla mudah. Demikian juga peringtan malam ke-25 Ramadhan, sejatinya untuk memperingati Raden Ali Murtadho, seorang pejabat pertama Majapahit yang keduduknnya sebagai raja Pandita, atau hakim tinggi merangkap urusan Islam. 

 

"Ini tradisi yang menandakan Islam masuk di Indonesia kemudian diterima masyarakat," tegas Kiai Agus Sunyoto.

 

Pada kesempatan itu, Kiai Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadhan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf. Sejak awal puasa Ramadhan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

 

Namun tidak semua orang berhasil meraih Adam makrifat terlebih masyarakat sekarang yang untuk berbuka puasa menyiapkan berbagai makanan bahkan saat acara buka bersama.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori

Posisi Bawah | Youtube NU Online