Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tradisi Islam Nusantara Bentuk Sentuhan Walisongo di Hati Warga

Tradisi Islam Nusantara Bentuk Sentuhan Walisongo di Hati Warga
Strategi Walisongo menggunakan tradisi yang sudah ada, salah satunya wayang kulit, sebagai instrumen untuk menjalankan ajaran Islam dan mengajarkan ajaran Islam.
Strategi Walisongo menggunakan tradisi yang sudah ada, salah satunya wayang kulit, sebagai instrumen untuk menjalankan ajaran Islam dan mengajarkan ajaran Islam.

Jakarta, NU Online

Masyarakat Nusantara di masa awal kedatangan Islam tentu tidak secara tiba-tiba tersentuh dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an dan kalimat-kalimat tayibah. Walisongo menggunakan perangkat budaya sebagai instrumen guna menyentuh mereka. Tak ayal, tahlil dibacakan dalam sebuah momentum upacara.

 

"Maka tahlilan dibikin suatu bentuk upacara yang bisa menyentuh. Akhirnya orang bisa mengucapkan kalimat tahlil melalui ritual acara yang sudah terbiasa terjadi," kata Ngatawi al-Zastrouw, pengajar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dalam sebuah perbincangan bersama Pemimpin Redaksi Historia.id Bonny Triana pada Jumat (17/4).

 

Menurutnya, hal tersebut berangkat dari kaidah fiqih, al-'adah muhakkamah, adat bisa menjadi suatu konstruksi dalam penetapan suatu hukum.

 

Demikian juga soal perintah sedekah yang tidak dibarengi dengan penjelasan mengenai waktunya, tidak ada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya sehingga momentum kematian menjadi sarana untuk bersedekah bagi mayit. Lagi pula, katanya, hal demikian juga pernah ditanyakan sahabat kepada Nabi dan diperbolehkan.

 

Selain itu, Zastrouw juga menjelaskan bahwa perintah melaksanakan shalat tahajud memang termaktub dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Namun, jika ayat itu yang dibacakan kepada warga Nusantara di masa awal Islam, tentu mereka belum bisa menerima dan memahaminya dengan betul. Hal tersebut menginspirasi wali membuat syair berbahasa Jawa yang kandungan isinya sesuai dengan ayat tersebut.

 

"Para wali berpikir supaya ayat ini bisa tertanam kuat di hati masyarakat. Mereka senang dengan syair mocopat, ya sudah ayat ini divernakularisasi. Spirit ayat ini kita vernakularisasi jadi Kidung Rumekso. Orang Jawa jadi terketuk hatinya," terang Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia itu.

 

Hal serupa dilakukan Sunan Bonang yang menggubah syair tembang Tombo Ati. Syair itu terinspirasi dari syair Ilahi Lastu Abu Nawas, juga intisari dari Suluk Wuragil.

 

Para anggota Walisongo lain memiliki spesifikasi bidangnya masing-masing. Sunan Ampel, misalnya, yang membuat peninggalan konsep pendidikan pesantren dengan metode dan sistem pengajarannya yang khas. Sunan Kalijaga menggubah wayang dengan pembaharuan bentuk manifestasi dan rekonstruksinya. Sementara Sunan Kudus pernah berfatwa melarang menyembelih sapi guna menjaga hati warga Hindu Buddha yang memuliakan binatang tersebut.

 

"Strategi Walisongo menggunakan tradisi yang sudah ada sebagai instrumen untuk menjalankan ajaran Islam dan mengajarkan ajaran Islam," terang Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2004-2010 itu.

 

Prinsipnya, terang Zastrouw, cara berdakwah Walisongo ini dilakukan dengan memberikan penjelasan sesuai kadar kemampuan, pemikiran, dan konstruksi sosialnya.

 

Terkadang, orang salah dalam menerapkan dalil sehingga bisa berakibat pada kekacauan sosial. "Bukan dalilnya yang salah, tapi penggunaannya yang salah. Ibaratnya potong ayam yang diambil granat. Akhirnya ayamnya mati, yang nyembelih mati juga," katanya.

 

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa praktik sinkretisme atau akulturasi itu hanya terjadi pada level tradisi dan ekspresi keberagamaan. Sementara pada level aqidah atau teologis, menurutnya, itu tidak bisa disinkretikkan. "Allah itu esa itu tidak bisa disinkretikan dengan yang lain. Yang bisa disinkretikkan itu ekspresinya," terangnya.

 

Orang menuduh bahwa Islam Nusantara ini tidak murni. Menurutnya, bukan Islamnya yang tidak murni, melainkan tradisinya yang tidak murni. Namun, selagi dia masih mengakui keesaan Tuhan dan percaya pada rukun iman dan rukun Islam, menurutnya, itulah Islam yang murni.

 

"Jadi, akidahnya tetap kepada Allah, cuma ekspresinya lebih kultural sehingga orang lebih mudah menerima dan orang lebih senang untuk berislam karena dengan cara seperti itu," pungkasnya.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online