Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tahun Lalu Diserang Wereng, Panen Sekarang Harga Gabah Anjlok

Tahun Lalu Diserang Wereng, Panen Sekarang Harga Gabah Anjlok
Jika hasil panen turun apalagi harga ikut anjlok seperti saat ini, tentu sangat merugikan petani.
Jika hasil panen turun apalagi harga ikut anjlok seperti saat ini, tentu sangat merugikan petani.

Tanggamus, NU Online
Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itulah yang menggambarkan nasib petani di Lampung, setelah dua kali musim panen ini harus gigit jari. Seperti para petani di Kabupaten Tanggamus yang pada panen tahun lalu tidak berdaya setelah hama wereng tiba-tiba menyerang padi jelang panen. Akibat serangan tersebut, banyak petani yang gagal panen. Kalau pun bisa diselamatkan, hasil panen mengalami penurunan drastis sampai dengan 80 persen.


“Selama saya di sini, baru kali ini ada serangan wereng. Kami sudah berusaha mengatasinya dengan obat-obatan padi. Ternyata werengnya tidak bisa terkendali. Panen gagal, ditambah lagi biaya untuk beli obat pun tak kembali,” kata Sariyo, petani di Desa Margodadi, Kecamatan Sumberejo kepada NU Online, Ahad (19/4).


Ketidakberuntungan kembali dirasakan para petani di daerah tersebut setelah pada tahun ini, harga gabah turun drastis. Menurut Sariyo, jika biasanya harga gabah basah dari petani mencapai 420 ribu per kwintal, panen kali ini mengalami penurunan Rp 100.000 menjadi Rp 320 ribu per kwintal.


Menghadapi kondisi ini pun, para petani tidak berdaya. Di tengah-tengah belum pulihnya ekonomi petani akibat turunnya hasil panen musim lalu akibat wereng, apalagi di musim pandemi Covid-19 yang mempengaruhi ekonomi, para petani dengan terpaksa menjual panenan tahun ini dengan harga rendah untuk kebutuhan keluarga.


“Musim sulit sekarang, Mas. Para petani tak punya pilihan lagi karena kebutuhan sehari-hari. Apalagi saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, pasti kebutuhan meningkat. Sementara harga gabah anjlok,” ujarnya.


Sariyo mengaku bahwa biaya untuk menggarap sawah saat ini cukup tinggi. Jika hasil panen turun apalagi harga ikut anjlok seperti saat ini, tentu sangat merugikan petani. Terkadang kelangkaan pupuk juga harus dihadapi para petani sehingga untuk musim tanam selanjutnya ia belum memiliki gambaran modal untuk menanam padi.


Ia berharap pemerintah segera mengambil kebijakan untuk mengatasi kondisi ini agar tidak berlarut-larut. Jika hal ini terus dialami para petani, maka akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat dan akan berimbas pada sektor-sektor kehidupan lainnya.


Sementara dalam keterangan persnya yang dimuat di laman Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Lampung Riduan menyatakan memang terjadi penurunan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dan penggilingan. Pada Maret 2021, harga GKP turun 14,39 persen di tingkat petani dan turun 13,82 persen di tingkat penggilingan dibandingkan bulan sebelumnya.


Ia mengatakan, penurunan rata-rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 14,39 persen dari Rp 4.576,09 per kg pada Februari 2021 menjadi Rp 3.917,57 per kg pada Maret 2021. Sedangkan harga GKP di tingkat penggilingan turun 13,82 persen dari Rp 4.672,61 per kg pada Februari 2021 menjadi Rp 4.027,03 per kg pada Maret 2021.


Selain itu, untuk kelompok gabah kualitas gabah kering giling (GKG) di tingkat petani juga turun 6,43 persen dan harga GKG di tingkat penggilingan juga mengalami penurunan sebesar 7,40 persen.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online