Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Suara Meriam Penanda Waktu Sahur-Buka di Makkah Itu Tak Lagi Terdengar

Suara Meriam Penanda Waktu Sahur-Buka di Makkah Itu Tak Lagi Terdengar
Suara meriam penanda waktu sahur dan buka di Makkah tidak lagi terdengar sejak enam tahun terakhir karena kalah dengan teknologi modern, terutama speaker Masjidil Haram. (Foto: Arab News)
Suara meriam penanda waktu sahur dan buka di Makkah tidak lagi terdengar sejak enam tahun terakhir karena kalah dengan teknologi modern, terutama speaker Masjidil Haram. (Foto: Arab News)

Makkah, NU Online
Ada beberapa masyarakat di wilayah Timur Tengah, termasuk warga Makkah, yang menggunakan suara meriam sebagai tanda bahwa waktu sahur dan buka puasa telah tiba. Lebih dari itu, dahulu di Makkah suara meriam juga digunakan untuk menandai datang dan berakhirnya bulan suci Ramadhan, serta Shalat Shubuh. 


Namun sejak enam tahun terakhir, tradisi menembakkan meriam di Makkah sudah tidak lagi dilakukan. Pasalnya, suara meriam kalah dengan teknologi modern, terutama speaker yang ditempelkan di menara Masjidil Haram. Hal itu membuat tembakan meriam menjadi ketinggalan zaman. 


“Dahulu, tidak mungkin mendengar suara muadzin Masjidil Haram, jadi meriam melakukan tugas itu atas nama mereka. Itu tetap menjadi tradisi yang dipegang teguh,” kata Direktur Center of Makkah History, Fawaz al-Dahas. 


Meski sudah tidak lagi ditembakkan, seperti diberitakan Arab News, Sabtu (17/4), suara meriam itu masih terekam dalam ingatan banyak orang Makkah. Karena tradisi itu sudah berlangsung selama ratusan tahun. Meriam itu sudah berdiri di Gunung Abu Al-Madafaa setidaknya selama satu abad.

 

“Warga Makkah menghubungkan cinta mereka pada bulan suci dengan keduanya (meriam dan Gunung Abu Al-Madafaa),” kata al-Dahas.


Walikota Ray Zakhir dekat Gunung Abu al-Madafaa, Fahad al-Harbi, mengatakan, meriam Ramadhan bertahan dari perubahan teknis selama beberapa dekade hingga akhirnya pensiun. Bagi dia, meriam Ramadhan mewakili sejarah kuno Makkah


“Ledakan meriam dengan segala kepentingan dan keindahannya menjadi suara adzan bagi penduduk Makkah,” katanya. 


Selama bertahun-tahun, orang-orang yang tinggal di dekat Gunung Abu al-Mudafaa akan mendaki ke puncaknya untuk melihat meriam ditembakkan ketika Ramadhan tiba. Selama Ramadhan, meriam itu ditembakkan untuk menandai dimulainya sahur dan buka puasa. 


Juru bicara Kepolisian Makkah yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menembakkan meriam, Abdul Mohsin al-Maimani, menceritakan bahwa meriam itu begitu populer di tengah-tengah masyarakat ketika meriam tersebut masih aktif dulu.  


“Ketika Kepolisian Makkah didirikan pada 75 tahun lalu, mereka dipercaya untuk pemeliharaan dan perawatan meriam ini. Setelah Idul Fitri, meriam dikembalikan ke departemen khusus. Beberapa hari sebelum Ramadhan, meriam dikirim kembali ke gunung (Abu al-Madafaa). Serbuk meriam ditangani oleh tim khusus agar tidak ada yang terlukai,” kata al-Maimani.


Penembakan meriam di bulan Ramadhan sudah ada sejak abad ke-15 dan era Dinasti Mamluk.   


Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad

Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya