Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Yenny Wahid Ungkap Praktik Kesetaraan dalam Keluarga Gus Dur

Yenny Wahid Ungkap Praktik Kesetaraan dalam Keluarga Gus Dur
Direktur Wahid Foundation, Hj Yenny Wahid. (Foto: dok. istimewa)
Direktur Wahid Foundation, Hj Yenny Wahid. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Hari Kartini 21 April diperingati sebagian besar orang sebagai awal mula bangkitnya emansipasi wanita yang memperjuangkan kesetaraan. Terkait praktik kesetaraan, Direktur Wahid Foundation Hj Yenny Wahid mengatakan bahwa hal itu sudah biasa dilakukan dalam keluarga besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).


"Tidak ada perbedaan tugas-tugas domestik maupun aktualisasi diri di ranah publik," ujar Yenny Wahid ketika mengisi acara Shihab & Shihab, Rabu kemarin.


Menurut Yenny, dalam keluarganya konsep kesetaraan gender tidak dibicarakan tetapi langsung dipraktikkan. "Jadi, kami anak-anak ini, terbiasa melihat bapak itu ikut bantu cuci piring. Apalagi kalau kita lagi ke luar negeri, lalu tinggal di apartemen keliatan itu pembagian peran, dan bapak tidak sungkan melakukan itu.


Habituasi itu Yenny sebut sebagai Norma dalam berkeluarga, untuk saling mendukung tanpa ada dikotomi dan itu sangat normal dilakukan oleh setiap keluarga.


"Kata Ibu saya. Waktu saya bayi kalau misalnya saya nangis malam-malam yang bangun dari tempat tidur untuk mengambil bayi Yenny ini dalam boks itu bapak. Diambil bayinya lalu dikasih ke mama untuk disusui, nanti dikembalikan lagi, gitu," ungkap Yenny. 


Namun, pertanyaan-pertanyaan orang, mengapa dan kenapa Gus Dur tidak mempunyai putra laki-laki, kata Yenny, masih sering memayungi keluarga Gus Dur.


Hal yang sama, kerap kali ditujukan pula kepada Yenny karena ketiga anaknya adalah perempuan. "Gak mau nambah lagi supaya dapat cowok? Saya cuma bilang, enggaklah alhamdulillah kalau dapat tiga anak perempuan ini kan syarat surga," terangnya.


Mendengar jawaban tegas Yenny, Prof Quraish Shihab dalam kesempatan yang sama mengamini dengan menyampaikan satu riwayat soal kehadiran anak perempuan.

 

"Kalau anak laki itu lahir, malaikat berucap kepadanya, lahirlah bantu ayahmu. Tapi, kalau perempuan, apa ucapan itu? Lahirlah, Tuhan bantu ayahmu. Anda mau dibantu oleh Tuhan atau dibantu oleh anak?" terang Prof Quraish. 


"Jadi, itu hal-hal yang mendorong seseorang untuk tidak membedakan lelaki dan perempuan. Kalau pun ada yang berbeda itu hanya pada kodrat yang memang berbeda dan kecenderungan masing-masing. Kesalahpahaman lahir karena dia tidak paham Islam," tambahnya. 


Selanjutnya, perempuan yang didapuk sebagai Young Global Leader oleh World Economic Forum ini juga membagikan tips membangun kepercayaan diri dan ketahanan kaum perempuan dalam menghadapi stigma-stigma publik dengan mengadakan program peace village (desa damai) bekerja sama dengan PBB melalui tiga pendekatan. 


"Pertama, pendekatan ekonomi jadi kita melakukan training ekonomi memfasilitasi pelatihan-pelatihan. Kedua, pendekatan pelatihan tentang toleransi, perbedaan dan pemikiran damai. Ketiga, merupakan komponen utama ini adalah tentang penguatan perempuan, penguatan hak-hak, dan penyadaran perempuan akan potensi yang mereka miliki," ujarnya. 


Berdasarkan penelitian, dikatakan Yenny, apabila perempuan berdaya secara ekonomi, maka dia akan lebih banyak menginvestasikan uangnya bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari pendidikan anak, makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak, lingkungan yang lebih baik, dan lainnya. 


"Perempuan itu sebetulnya punya tugas peradaban yang luar biasa. Karena tanpa perempuan manusia tidak ada kelanjutannya. Artinya kebutuhan manusia untuk terus ada di muka bumi sangat tergantung kepada perempuan," imbuh Yenny. 


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online