Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Gus Muwafiq Jelaskan Takdir dan Ikhtiar

Gus Muwafiq Jelaskan Takdir dan Ikhtiar
KH Ahmad Muwafiq (Foto: dok NU Online)
KH Ahmad Muwafiq (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Takdir merupakan sesuatu yang kompleks, antara sesuatu yang memang melekat dan sesuatu yang dilekatkan yaitu usaha manusia. Oleh sebab itu, sesuatu yang melekat dapat bertambah, juga dapat berkurang, dan itulah yang dinamakan ikhtiar.

 

Hal itu dikatakan KH Ahmad Muwafiq Yogyakarta dalam Talk Show Peci dan Kopi edisi Kamis (22/4).

 

Menurut Kiai yang akrab disapa Gus Muwafiq itu, ikhtiar tidak pernah melampaui takdir. Hal ini dikarenakan seluruh ikhtiar berawal dari takdir.

 

"Orang bisa berusaha dan bekerja, ya dikarenakan dia ditakdirkan memiliki tangan. Begitu pun orang yang diberi akal maka dia akan bisa berpikir," jelas Gus Muwafiq.

 

Menurut kiai kelahiran 2 Maret 1974 itu, antara yang melekat dan yang dilekatkan, itulah antara takdir dan ikhtiar. Ia mengambil contoh, umur panjang atau mati itu disebabkan karena adanya nyawa dan ruh. Jika tidak ada ruhnya maka tidak akan ada takdirnya, tidak ada yang diperpanjang dan didoakan. 

 

Menurtunya, itulah sesungguhnya takdir, ia bukan sesuatu yang secara tiba-tiba berdiri sendiri. Dan, begitu pula dengan ikhtiar, ia pun tidak independen.

 

"Ikhtiar tidak akan pernah ada, jika tidak adanya takdir. Kita bisa berikhtiar karena ditakdirkan menjadi manusia. Logikanya begini, kita bisa berlari kemana saja untuk menghindari kejaran singa. Ikhtiar karena kita ditakdirkan memiliki kaki. Bayangkan jika kita tidak memiliki kaki, apa kita bisa berlari?" ujarnya.

 

Lebih lanjut, Gus Muwafiq memaparkan, mengapa para ulama terdahulu selalu mengatakan, bahwa semua itu sudah ditentukan oleh Allah. Hal itu agar di dalam hati kita yang liar dan di dalam akal kita yang tidak terbatas, tidak timbul suudzon. Dan, tidak timbul perasaan hilangnya terima kasih kepada Allah.

 

Jika orang yang di dalam dirinya sudah ada perasaan bahwa ikhtiar yang menentukan segalanya, dan ia lupa bahwa yang membuat orang bisa berikhtiar itu dikarenakan ketentuan dari Allah maka akan hilang rasa syukur darinya. Jika rasa syukur hilang maka akan sombong dirinya.

 

"Dan, jika sudah sombong, maka hal ini akan bermasalah, yang akhirnya, seolah-olah semuanya yang dilakukan itu adalah ketentuan darinya, bukan ketentuan dari Allah," imbuhnya.

 

Karena itu, amal ibadah manusia itu bersifat physically, sebab Allah kasih takdir. "Kita bisa sedekah karena Allah kasih tangan, dan kita bisa bekerja. Jadi, takdir bukan sesuatu yang mengikat manusia agar tidak melakukan apa-apa. Semua tinggal dia tunggu, bukan seperti itu, takdir itu adalah hak manusia untuk bergerak karena dia bisa berikhtiar. Tapi jangan lupa, semua yang diikhtiarkan berasal dari apa yang disampaikan oleh Allah," demikian Gus Muwafiq.


Kontributor: Disisi Saidi Fatah
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya