Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Pesan Gus Muwafiq: Manusia Punya Peran Masing-masing

Pesan Gus Muwafiq: Manusia Punya Peran Masing-masing
Mahasiswa STAN mengaji bersama Gus Muwafiq. (Foto: istimewa)
Mahasiswa STAN mengaji bersama Gus Muwafiq. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Penceramah kondang KH Ahmad Muwafiq atau yang kerap dipanggil Gus Muwafiq mengatakan dirinya tidak mengerti ilmu keuangan, tapi bisa jadi mempunyai uang. Sedangkan para mahasiswa dan alumni STAN mengerti ilmu keuangan, tapi bisa tidak mempunya uang.

 

Hal itu disampaikan Gus Muwafiq menanggapi pertanyaan peserta Pengajian Akbar menyambut Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan oleh Mahasiswa dan Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin PKN STAN, Ahad (25/4).

 

Acara ini diselenggarakan dengan tema Implementasi Perintah Iqro’ di Tengah Zaman yang Serba Instan. Pada acara tersebut, salah satu peserta yang merupakan alumni STAN mengungkapkan keresahannya tentang perannya sebagai seorang Muslim.

 

"Kami ini telah dididik dengan alur untuk menjadi birokrat, Gus. Sudah tidak terpikirkan lagi untuk memperdalam Al-Qur'an atau menjadi seorang mufassir. Kalau sudah seperti ini, bagaimana cara paling baik untuk menjadi pembelajar Al-Qur'an sementara katanya banyak sekali terjemahan yang bersifat letterlijk saja?" tanya salah satu peserta.

 

Atas pertanyaan itu, Gus Muwafiq menjawab bahwa setiap orang tidak harus menguasai semua ilmu. Hal yang terpenting adalah orang tersebut dapat menempati ruang kemanfaatannya masing-masing. Keahlian-keahlian tersebut akan saling melengkapi satu sama lain.

 

"Bagi yang komplit (alim) disebut mujtahid, bagi yang tidak komplit (disebut) muqollid yang bisa taqlid. Jika Sampean di STAN, kemanfaatan Sampean di STAN. Jadi tidak ada masalah," kata Gus Muwafiq.

 

Dalam mauidloh hasanahnya, Gus Muwafiq juga menyampaikan bahwa perintah "Iqro" dalam Al-Qur'an mengandung tafsir bahwa terdapat dua misi dalam membaca. Pertama adalah membaca ayat-ayat kauniyah. Kedua, membaca ayat-ayat Qouliyah. Membaca Qouliyah berarti membaca dengan arti sesungguhnya, yakni memaknai apa yang terdapat pada lafadz atau kalimat. Sedangkan membaca kauniah bisa diartikan sebagai membaca alam dan membaca kesempatan.

 

Dalam tuturnya tentang membaca kauniah, Gus Muwafiq menyampaikan makna dari Al-Qur'an Surah Ali Imron ayat 190, yakni "Membaca pergerakan dan perputaran bumi ini adalah tanda orang-orang yang berakal."

 

Gus Muwafiq menjelaskan, ruang-ruang bacaan pada era sekarang ini terbuka dengan sangat lebar. Namun, kita harus memiliki guidance (panduan) berupa seberapa besar kebutuhan bacaan yang kita butuhkan. Hal ini menjadi penting untuk membentengi paham kita seiring dengan minat membaca.

 

Kegiatan pengajian ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Ramadhan yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahasiswa NU di Kampus Politeknik Keuangan Negara STAN. Selain acara ini, terdapat acara lain yang dibuka untuk umum seperti pengajian rutin kitab kuning, bakti sosial, dan webinar. Rangkaian kegiatan Ramadhan yang diselenggarakan oleh IMAN PKN STAN ini diharapkan dapat menjadi ikhtiar untuk terus mencari ilmu dan menebar kemanfaatan.

 

Kontributor: Arief Rahman Hakim
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya