Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Keistimewaan Beribadah pada Malam Lailatul Qadar

Keistimewaan Beribadah pada Malam Lailatul Qadar
Muyassarotul Hafidzoh. (Foto: tangkapan layar Swara Rahima)
Muyassarotul Hafidzoh. (Foto: tangkapan layar Swara Rahima)

Jakarta, NU Online

Anggota Majelis KUPI, Muyassarotul Hafidzoh menyebutkan dalam keterangan Syekh Ibrahim Al Bajuri bahwa Lailatul Qadar adalah keistimewaan yang hanya diturunkan kepada umat Nabi Muhammad. Hal senada juga termaktub dalam tafsir Syekh Sulaiman bin Umar Al Jabbar, bahwa barang siapa yang beribadah ketika turun Lailatul Qadar maka ibadahnya dinilai seperti ibadah 83 tahun 4 bulan.


"Lailatul Qadar sendiri adalah suatu malam yang mulia dan di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan dari Allah kepada makhluk-Nya," kata Muyassaroh, Selasa (4/5).


Pengajar Asrama Bil Qolam Yogyakarta ini, menjelaskan adapun ibadah yang dilakukan adalah sebagaimana ibadah yang dilakukan sehari-hari, seperti, memperbanyak berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan lainnya. Hanya saja ritual ibadah tersebut apabila dilaksanakan bertepatan dengan turunnya Lailatul Qadar akan bernilai istimewa karena pahala yang diberikan berlipat ganda. 


"Hal ini berdasarkan Al-Qur'an surat Al Qadar ayat 2 dan 3 yang berarti, Dan tahukah kamu apa itu malam kemuliaan? Malam kemuliaan adalah malam lebih baik dari 1.000 bulan. Artinya Lailatul Qadar adalah malam yang luar biasa," jelas penulis novel Hilda itu.


Ia juga mengungkapkan, sebagaimana yang tertuang dalam Tafsir Al-Misbah karya Prof Quraish Shihab, bahwa Al-Qur'an tidak menggunakan kata wa maa adroka kecuali pada peristiwa-peristiwa yang besar, mulia, dan hebat.


"Oleh karena itu, betapa beruntung dan bahagianya ketika kita bisa mendapatkan dan bertemu dengan Lailatul Qadar. Lantas apa tanda-tanda Lailatul Qadar?" kata dia. 


Dikatakan pula oleh sebagian ulama, lanjut Muyassaroh, di antara tanda-tanda Lailatul Qadar adalah matahari terbit tanpa sinar yang memancar sehingga tidak menyengat dan terasa nyaman. Diiringi malam yang tidak terlalu dingin dan bernuansa hening sampai tidak ada satupun suara yang ditimbulkan oleh binatang-binatang malam. 


"Maka ketika seseorang melakukan ibadah di malam itu, ibadahnya akan terasa lezat dan khusyu," ungkapnya. 


Pada kesempatan lain, pengampu Halaqah Majelis Taklim, Ustadzah Hj Nuryati Murtadho, mengajak dengan suka cita untuk berlomba-lomba dan menghidupkan 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an sembari mentadaburi hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. 


"Mari kita ambil kesempatan yang Allah berikan kepada kita, jangan sampai disia-siakan karena waktu yang akan datang belum tentu kita dapat menemuinya kembali," ajaknya. 


Kemudian, Hj Nuryati melanjutkan keterangannya, bahwa pada 10 malam terakhir yang diyakini turunnya Lailatul Qadar Allah tugaskan malaikat untuk turun ke bumi menebar keberkahan dan membawa kedamaian kepada makhluk yang berada di muka bumi. 


"Maka, manusia yang menghidupkan Lailatul Qadar ia akan meraih keselamatan sampai terbit Fajar," terangnya. 


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad

Posisi Bawah | Youtube NU Online