Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Moderasi di Pesantren, Dirpontren Kemenag: Tidak Dikit-dikit Qur’an dan Hadits

Moderasi di Pesantren, Dirpontren Kemenag: Tidak Dikit-dikit Qur’an dan Hadits
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI H Waryono Abdul Ghafur (Foto: Kemenag)
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI H Waryono Abdul Ghafur (Foto: Kemenag)

Bandarlampung, NU Online
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI H Waryono Abdul Ghafur mengatakan bahwa dalam tradisi pesantren NU, untuk sampai pada pemahaman Qur’an dan Hadits dibutuhkan washilah atau tangga keilmuan yang tidak sedikit. Tidak hanya sekedar membaca terjemah Qur’an saja. Oleh karenanya, pesantren mengawali semuanya dari ilmu-ilmu dasar terlebih dahulu.


“Berbeda dengan orang hari-hari ini. Dikit-dikit Qur’an, dikit-dikit hadits. Tapi kalau orang NU itu bertanya dulu kepada ulama melalui karya-karya mereka,” jelasnya.


Sehingga kalangan pesantren NU pun heran jika ada seseorang melakukan praktik pemahaman yang tidak moderat dan cenderung ekstrem sehingga tega menyakiti orang lain. Apalagi menggunakan slogan kembali kepada Qur’an dan Hadits untuk melegitimasi perilaku dan tindakannya.  


Nilai-nilai moderat dalam tradisi pesantren NU juga bisa dilihat dari tidak adanya praktik dan pandangan yang mengingkari nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga ketika berbicara tentang maqashidu syar’i, maka yang pertama adalah hifdzun nafs (menjaga nyawa). Sehingga dalam konteks kekinian bisa dilihat bahwa orang-orang pesantren patuh pada protokol kesehatan yang ditujukan untuk hal itu.


“Coba cek yang viral hari ini, itu orang pesantren apa bukan. Yang, mohon maaf, mentolol-tololkan dan membodoh-bodohkan orang yang pakai masker (di masjid). Kemudian bahwa di masjid itu Tuhan melindungi meskipun tidak pakai masker. Nggak ada orang pesantren seperti itu,” tegasnya.


Kasus ini menjadi contoh bagaimana pesantren tidak mengajarkan pemahaman yang ekstrem. Di pesantren diajarkan inklusifisme, bukan eksklusifisme, tidak ada segregrasi, yang ada integrasi. Sehingga orang-orang pesantren itu selalu ditunggu kehadirannya dalam masyarakat karena menjadi faktor integratif yang mampu menyatukan.


Waryono juga menjelaskan bahwa pesantren sangat identik dan tidak bisa terlepas dari ulama. Sementara definisi ulama dalam lingkup pesantren adalah mereka yang melihat manusia lain dengan pandangan kasih sayang.


“Maka dalam pesantren tidak ada tradisi bullying, kekerasan, apalagi mengatasnamakan agama, karena melihat orang itu bi ainir rahmah dengan kacamata kasih sayang,” katanya dalam Kajian Virtual Moderasi Beragama dalam Dimensi Pondok Pesantren yang digelar oleh UIN Raden Intan Lampung, Kamis (6/5).


Namun seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat harus bisa memilih pesantren dengan baik karena keberadaan pesantren saat ini tidak bisa disamakan. Saat ini sudah bermunculan pesantren yang mengusung kurikulum dan nilai-nilai berbeda dari konsep pesantren yang sudah ada.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online