Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Waspada, Penularan Covid-19 di Kerumunan Pasar Susah Dilacak

Waspada, Penularan Covid-19 di Kerumunan Pasar Susah Dilacak
Ilustrasi: Penularan Covid-19 di pusat perbelanjaan seperti pasar sangat sulit untuk dilakukan pelacakan karena orang yang di pasar bergerak dari daerah yang berbeda-beda.
Ilustrasi: Penularan Covid-19 di pusat perbelanjaan seperti pasar sangat sulit untuk dilakukan pelacakan karena orang yang di pasar bergerak dari daerah yang berbeda-beda.

Jakarta, NU Online
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dr Makky Zamzami mengatakan kerumunan yang terjadi di Pasar Tanah Abang beberapa waktu lalu, diprediksi dapat membuat lonjakan kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

 

Menurutnya, jika terjadi penularan Covid-19 di pusat perbelanjaan seperti pasar akan sangat sulit untuk dilakukan tracing atau pelacakan. Sebab, orang-orang yang datang untuk berbelanja itu selalu bergerak dari daerah yang berbeda-beda. 

 

"Penularan di pasar itu sama sekali sangat susah untuk di-tracing, karena bergerak dari daerah mana saja. Apalagi Pasar Tanah Abang menjadi reseller dari beberapa tempat lainnya. Pada intinya, kita harus selalu berikhtiar untuk menjaga agar tidak terjadi penularan," ujar dr Makky, Kamis (6/5).

 

Lebih lanjut dijelaskan, Indonesia saat ini sedang dikepung oleh mutasi Covid-19 dari beberapa negara seperti India, Inggris, dan Afrika Selatan. Mutasi virus tersebut dikabarkan sudah masuk atau tersebar ke dalam negeri. 

 

"Indonesia saat ini dikepung dengan mutasi dari beberapa negara dan sudah masuk. Ada dari India B1617, dari Inggris 117, dan juga dari Afrika Selatan. Penyebaran mutasi ini belum terlacak secara intens. Dengan adanya kerumunan seperti di pasar, akan memungkinkan penyebaran yang lebih masif," jelas Makky.

 

Pola masyarakat, lanjutnya, pada setiap tahun menjelang lebaran Hari Raya Idul Fitri pasti akan memenuhi pusat-pusat perbelanjaan seperti di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat yang beberapa waktu lalu terjadi kepadatan pengunjung. Hal ini seharusnya bisa diantisipasi atau dicegah sebelumnya oleh pihak pengelola pasar. 

 

"Perlulah dari pengelola pasar ini bisa lebih bijak untuk bisa memperketat dan dengan membatasi jumlah keluar-masuk dari masyarakat yang akan melakukan transaksi di pasar," kata Makky.

 

Makky menegaskan, sekalipun sebagian besar pedagang di Pasar Tanah Abang sudah menjalani vaksinasi, tetapi proses penyebaran Covid-19 yang dikhawatirkan justru akan terjadi pada pembeli yang membludak. 

 

"Bisa jadi yang menularkan bukan pedagang tapi antarpembeli. Kita juga tidak bisa menjamin para pembeli menjalani protokol kesehatan dengan ketat. Seperti bisa menjaga jarak dengan ketat dan memakai masker," tuturnya.

 

Ia kembali mengingatkan bahwa orang yang sudah divaksinasi bukan berarti terbebas dari Covid-19. Hanya saja, akan cenderung lebih kuat karena telah memiliki daya tahan tubuh yang baik. Artinya, tetap saja akan ada potensi penularan jika terjadi kerumunan di pasar.

 

"Jadi tetap ada beberapa persen potensi penularan, tergantung dia vaksinasinya sudah berapa lama, sudah muncul antibodi atau belum? Jadi definisi vaksin ini perlu dipahami, bukan berarti jika sudah divaksinasi lalu menyelesaikan segalanya," terang Makky.

 

Karena itu, untuk mencegah kerumunan dan menekan angka penularan virus, masyarakat diimbau agar belanja keperluan menjelang Idul Fitri, secara online. 

 

"Saya pikir masyarakat sudah semakin bagus dan mengenal bahwa kita sudah banyak alternatif (berbelanja) seperti secara online, sehingga tidak menimbulkan keramaian," ujarnya.

 

 

Sementara itu, Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu telah menegaskan bahwa prioritas nomor satu adalah keselamatan dan kesehatan masyarakat. Ia meminta agar semua pihak tetap menaati protokol kesehatan.

 

"Taatilah prokes jangan lengah, jangan menganggap remeh, dan tetap waspada. Bersama-sama insyaallah kita mampu mengatasi ujian dan cobaan yang berat ini," kata Jokowi.

 

Menurutnya, situasi saat ini di Indonesia masih belum bisa dikatakan aman dari Covid-19. Berbagai upaya untuk menekan kasus aktif harus terus dilakukan. Bahkan, upaya tersebut sangat bergantung pada kedisiplinan semua pihak dalam menjalankan protokol kesehatan.

 

"Ya, kita semua. Baik yang sudah divaksinasi maupun yang belum, baik yang ada di zona merah, kuning, hijau, harus tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan," pungkas Jokowi.

 

Pewarta:  Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya