Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Dosen STAINU Temanggung Bagikan Resep Hadapi Stres Saat Kuliah Daring

Dosen STAINU Temanggung Bagikan Resep Hadapi Stres Saat Kuliah Daring
Kampus STAINU Temanggung (Foto: Istimewa)
Kampus STAINU Temanggung (Foto: Istimewa)

Temanggung, NU Online 
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung Hamidulloh Ibda mengatakan, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berkepanjangan selama masa pandemik Covid-19 hampir semua pendidik mengalami stres akademik berkepanjangan.  

 

"Dari temuan yang ada akibat PJJ, 250 dari 262 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lebih dari 12 kali mengalami tingkat stres tinggi. Mahasiswa di kampus saya pun sama. Dampak stres ringan dan berat terjadi pada mahasiswa di delapan kelas yang saya ampu. Analisis saya, dampak itu terjadi pada stres ringan sampai stres berat," tegasnya. 

 

Disampaikan, jika 1 SKS atau 1 jam KBM dilakukan secara daring selama 50 menit, maka 1 minggu mahasiswa melakukan PJJ selama 18-20 jam. Apalagi ini sudah berjalan 1 tahun lebih. Mereka belajar dengan moda PTM saja tidak semuanya paham materi perkuliahan dan masih ada fenomena stres akademik. 

 

"Lalu, bagaimana jika PJJ seratus persen dalam waktu 18-20 jam tersebut,” sambung penulis buku Dosen Penggerak Literasi tersebut.

 

Atas fenomena itu, kepada NU Online dirinya menawarkan solusi dari fenomena stres akademik dengan resiliensi akademik. “Resiliensi akademik intinya kemampuan individu untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit dan penuh tekanan dalam bidang akademik. Resiliensi akademik menjadi jawaban atas fenomena stres akademik,” tegas Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM), Selasa (11/5).

 

Dari konsep itu, Ibda menawarkan sejumlah solusi atas stres akademik. Pertama, pendekatan personal untuk mengembalikan kemampuan personal, harga diri, dan rasa percaya diri. Kedua, pendekatan dengan keluarga dan teman dekat mahasiswa. 

 

"Ketiga, membuat koordinator kelas, organisasi kemahasiswaan (Dema, Sema, dan UKM), serta membuat orang tua asuh yang terdiri atas guru-guru mereka saat SMA. Keempat, menerapkan sentuhan rohani lewat beberapa kegiatan keagamaan. Beberapa langkah ini sudah dilakukan dan hasilnya sangat signifikan,” pungkasnya.

 

Salah satu mahasiswa STAINU Temnggung Muhammad (20) mengaku senang atas resep yang diberikan dosennya untuk mengatasi kuliah daring. Baginya, selain biaya lebih mahal dibanding dengan tatap muka, kuliah daring sangat membosankan.

 

"Saya berharap, pemerintah segera membuat regulasi untuk bisa kuliah dengan tatap muka," ucapnya.

 

Kontributor: Samsul Huda
Editor: Abdul Muiz
 

Posisi Bawah | Youtube NU Online