Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Sejak Rampas Tanah Palestina, Israel Terus Lakukan Penjajahan

Sejak Rampas Tanah Palestina, Israel Terus Lakukan Penjajahan
Habib Husein Ja'far Al-Hadar. (Foto: Instagram/@husein_hadar)
Habib Husein Ja'far Al-Hadar. (Foto: Instagram/@husein_hadar)

Jakarta, NU Online

Pendakwah Habib Husein Jafar Al-Hadar menyebut, persoalan yang terjadi antara Israel dan Palestina bukanlah peperangan tetapi pembantaian dan penjajahan, bahkan genosida. Ia menegaskan bahwa dalam perang sekalipun, warga sipil harus tetap dilindungi.

 

“Tapi ini warga sipil pun dihabisi. Gaza seolah menjadi penjara terbesar di dunia hingga saat ini, karena diisolasi dan diboikot. Warganya terus diteror dan hidup dalam ketakutan,” tuturnya dalam Webinar bertajuk Membasuh Luka Palestina yang ditayangkan TVNU. Kamis (27/5).

 

Habib Husein menuturkan bahwa sampai saat ini, Palestina terluka. Sebab bangsanya dijajah, tanahnya dirampas, dan manusianya disakiti hingga dibunuh. Disebutkan, penjajahan yang dilakukan atas negeri Palestina telah berlangsung sejak 1948 oleh zionisme. Terhitung sejak mereka mendeklarasikan Israel sebagai negara menurut mereka sendiri.

 

“Perampasan tanah Palestina dimulai dari satu dusun damai yang bernama Deir Yassin, pada Jumat subuh 9 April 1948 yang dalam waktu beberapa jam diubah menjadi kuburan massal bagi 280 orang Palestina yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa,” terang Habib Husein.

 

Dilansir dari Republika, masyarakat Desa Deir Yassin sangat dikenal dengan komitmennya untuk cinta damai. Desa itu diserang dengan bantuan tentara elit Palmach dari Haganah, kelompok militan Yahudi yang lain.

 

Dilaporkan, sekitar 200 orang tewas dan 40 pria, wanita, serta anak-anak ditawan lalu diarak di Yerusalem. Mereka dibawa ke sebuah tambang yang berada di antara Givat Shaul dan Deir Yassin dan ditembak mati secara brutal.

 

Tragedi yang terjadi di Deir Yassin menjadi awal pengusiran orang-orang Arab dari tanah Palestina. Insiden itu menandakan awal dari An-Nakba atau Catastrophe, yang mengusir 80 ribu orang Arab Palestina.

 

Dalam Pasal II dan III Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Genosida 1948, disebutkan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Israel adalah bagian dari genosida. Pada konvensi itu, genosida dibagi menjadi dua unsur yaitu unsur mental dan fisik.

 

Penduduk Desa Deir Yassin memang mengalami penderitaan secara fisik akibat pembantaian yang dilakukan itu, sehingga warga Arab-Palestina yang tersisa merasa takut dengan serangan genosida secara mental.

 

Habib Husein lantas menjelaskan bahwa Sejarawan Israel Benny Morris pernah menyebutkan, kebiadaban Israel yang mengusir warga Arab-Palestina di Desa Deir Yassin itu sebagai tragedi pembantaian.

 

“Sejarawan Israel sendiri bernama Benny Morris menyebut, hal itu sebagai tragedi pembantaian yang menerabas etika dan kemanusiaan,” tutur Habib Husein.

 

Sejak 1948 sampai saat ini, kata Habib Husein, rakyat Palestina terus disakiti dan dibunuh oleh tentara Israel. Ia menyebutkan, pada serangan di Gaza beberapa waktu lalu saja tercatat sudah ratusan warga Palestina yang tidak berdosa tewas, termasuk di dalamnya adalah anak-anak.

 

“Jelas itu bukan peperangan dan konflik, tapi ini pembantaian, ini genosida. Sebab, 800 ribu orang terputus dari akses air, 17 ribu rumah hancur, 53 sekolah rusak, dan 6 rumah sakit hancur, serta 50 persen infrastruktur di Gaza rusak karena serangan kemarin selama 11 hari saja,” tuturnya.

 

Habib Husein mengatakan bahwa meskipun saat ini Palestina sedang terluka tetapi justru dapat mengumpulkan umat Muslim Indonesia untuk saling bersilaturahim sehingga tidak perlu ada pertanyaan lagi untuk berkontribusi bagi kebebasan, kemerdekaan, dan kesejahteraan Palestina.

 

“Dari sini saja, Palestina yang sedang terluka masih bisa memberikan kontribusi bagi kita yaitu mengumpulkan untuk saling bersilaturahim satu sama lain, maka luka Palestina adalah luka kita,” pungkas Habib Husein.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Aiz Luthfi

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya