Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tak Sekadar Tempat Shalat, LTM PBNU: Masjid Harus Jadi Pusat Peradaban

Tak Sekadar Tempat Shalat, LTM PBNU: Masjid Harus Jadi Pusat Peradaban
Wakil Ketua LTM PBNU, KH Maman Abdurrahman dalam Halaqah Kemasjidan di Bogor, Jawa Barat, Senin (31/5). (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Wakil Ketua LTM PBNU, KH Maman Abdurrahman dalam Halaqah Kemasjidan di Bogor, Jawa Barat, Senin (31/5). (Foto: NU Online/Aru Elgete)

Bogor, NU Online
Fungsi masjid tidak hanya sekadar tempat shalat tetapi harus pula menjadi pusat peradaban. Sebagaimana yang telah dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW yang menjadikan Masjid Nabawi di Madinah sebagai lembaga pendidikan pertama umat Islam.
 

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maman Abdurrahman dalam Halaqah Kemasjidan, di Resort Prima Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (31/5). 

 

“Rasulullah itu di masjid membuat halaqah Al-Quran, ada pelajaran sastra Arab. Bahkan di selasar masjid itu dipakai untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu yaitu memintal benang, belajar menenun. Anak-anak juga belajar naik kuda dan panahan. Ini disebut dengan pusat peradaban Islam. Jadi masjid tidak hanya sekadar tempat shalat,” tutur Kiai Maman.

 

Ditegaskan, LTM PBNU saat ini memiliki kewajiban untuk mengembalikan masjid menjadi pusat peradaban umat Islam. Misalnya, diundang guru mata pelajaran umum seperti matematika atau Aljabar dan ilmu statistik untuk mengajar anak-anak di masjid. 
 

“Tentu, masjid juga perlu ada internet yang biayanya diambil dari kas masjid. Kalau anak-anak belajar di rumah belajar kehabisan kuota internet, bisa lanjut belajar ke masjid. Setelah itu mereka diajarkan untuk i’tikaf. Jadi benar-benar masjid itu sebagai pusat peradaban,” tegasnya.

 

Kiai Maman menyayangkan fenomena masjid saat ini yang secara fisik megah tetapi isinya justru kosong. Ia lantas berpesan kepada seluruh pengurus LTMNU se-Indonesia agar jangan sampai seperti itu dalam pengelolaan masjid. 

 

“Jangan lupa juga, kotak amal masjid yang diterima dari jamaah jangan disimpan lama-lama. Orang memasukkan uang ke dalam kotak amal itu ingin agar segera dimanfaatkan dan yang penting dipertanggungjawabkan. Itulah yang disebutkan akuntabilitas,” tegas Kiai Maman.

 

Senada, Wakil Sekretaris LTM PBNU H Muiz Ali Murtadho yang bertindak sebagai moderator diskusi menuturkan bahwa masjid harus dijadikan sebagai pusat kemakmuran Indonesia, bahkan dunia. Menurutnya, masjid adalah rumah Allah sehingga mesti selalu mencerminkan sinar ilahiah (ketuhanan) yang tidak lepas dari sifat rahman-rahim Allah.

 

“Itu harus kita implementasikan dalam kehidupan kita, seperti yang sudah kita yakini bahwa Islam harus rahmatan lil alamin. Ini pesan penting agar bisa menjadi perilaku dan karakter bangsa kita sehingga menjadi modal utama dalam pembangunan nasional,” katanya.

 

Ia menegaskan bahwa menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang menghadirkan sinar ketuhanan itu merupakan pekerjaan rumah bagi LTMNU saat ini. Terutama di tengah dinamika sosial yang semakin tajam karena terdapat polarisasi kehidupan beragama.

 

“Islam adalah spirit. Sesuai dengan diutusnya Nabi Muhammad yakni sebagai rasul yang untuk menyempurnakan akhlak manusia. Inilah pekerjaan rumah kita dan harus dicatat penting,” pungkasnya.

 

Sebagai informasi, Halaqah Kemasjidan ini dihadiri pula oleh dua narasumber lain yakni Ketua PBNU Bidang Dakwah dan Masjid KH Abdul Manan Ghani serta Wakil Sekretaris Jenderal H Imdadun Rahmat. Beberapa jajaran pengurus harian LTM PBNU pun turut hadir di lokasi acara dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. 

 

Selain itu, acara bertajuk Islam Rahmatan Lil Alamin sebagai Modal Utama Membangun Bangsa ini dihadiri oleh seluruh pengurus LTMNU se-Indonesia secara virtual melalui aplikasi zoom. 

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online