Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Miftah: Urusan Dunia dan Akhirat Harus Seimbang

Gus Miftah: Urusan Dunia dan Akhirat Harus Seimbang
KH Miftah Maulana Habiburrahman (Foto: NU Online/Suwitno)
KH Miftah Maulana Habiburrahman (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

KH Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah menjelaskan, antara urusan dunia dan akhirat harus ada keseimbangan.

 

Keseimbangan, kata Gus Miftah, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur'an Surat Al-Qashash Ayat 77, Wabtaghi fimaa atakallahud-daaral-akhirata wa laa tansa nasibaka minad-dun-ya wa ahsing kamaa ahsanallahu ilaika wa laa tabghil-fasaada fil-ard, innallaha laa yuhibbul-mufsidin.

 

Artinya, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

 

Berbicara mengejar akhirat, Gus Miftah mengatakan, umat Islam sering membaca satu doa yang disebut dengan sapu jagat. Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban nar.

 

"Dalam doa tersebut, yang diminta pertama ialah fid dunya hasanah," tutur Gus Miftah dalam acara halal bi halal Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan, Ranting Taichung, pada Ahad, (6/6) malam.

 

Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji itu melanjutkan, kejarlah dunia tapi jangan melupakan akhirat. 

 

Gus kelahiran Lampung, 5 Agustus 1981 itu juga mengutip sebuah syair; "Rugi di dunia tidak menjadi apa-apa, rugi di akhirat bakal celaka".

 

Dalam memaknai syair tersebut, Gus Miftah menjelaskan bahwa rugi yang dimaksud bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, tidak berusaha sama sekali; dan hanya terfokus pada urusan akhirat.

 

"Maka ada keseimbangan antara keduanya. Barangsiapa memperbaiki akhiratnya maka Allah akan memperbaiki dunianya. Jadi, jangan dibalik," tegas Gus Miftah.

 

Gus Miftah mengatakan, hal tersebut juga sejalan sebagaimana Rasulullah pernah berkata "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok."

 

"Keduanya harus seimbang, utamakan akhirat lalu dunia, jangan dibalik. Kalau kita hanya sibuk mengejar dunia maka belum tentu akhirat akan kita dapatkan, namun jika kita mengejar akhirat maka dunia akan mengikuti kita, insyaallah kita dapatkan juga," pungkas Gus Miftah.

 

Kontributor: Disisi Saidi Fatah
​​​​​​​Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online