Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Ma'arif NU: Pembelajaran Tatap Muka 2021 Dapat Digelar di Zona Hijau dan Kuning

Ma'arif NU: Pembelajaran Tatap Muka 2021 Dapat Digelar di Zona Hijau dan Kuning
Ilustrasi: Pembelajaran tatap muka di sekolah sudah seharusnya dilakukan, karena berdasarkan evaluasi, PJJ selama pandemi Covid-19, tidak berjalan efektif sebagai bagian dari proses pendidikan.
Ilustrasi: Pembelajaran tatap muka di sekolah sudah seharusnya dilakukan, karena berdasarkan evaluasi, PJJ selama pandemi Covid-19, tidak berjalan efektif sebagai bagian dari proses pendidikan.

Jakarta, NU Online

Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, Arifin Junaidi mengusulkan sekolah tatap muka pada Juli 2021 mendatang digelar di daerah zona kuning dan hijau penyebaran Covid-19.

 

"Sejak pembukaan tahun ajaran 2020/2021 LP Ma'arif NU PBNU sudah mengusulkan agar dibuka Pembelajaran Tatap Muka, dengan syarat antara lain sekolah tersebut berada di zona hijau dan kuning," kata Arifin Junaidi, Senin (8/6).

 

Hal itu menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Makarim yang mengatakan pembelajaran tatap muka tetap akan digelar pada Juli 2021. Mendikbud beralasan dengan kebijakan prioritas vaksin untuk para guru, sudah waktunya pembelajaran kembali dilakukan di sekolah. 

 

Seperti diketahui, terdapat empat kategori wilayah terkait penyebaran Covid-19. Wilayah dengan risiko tinggi yang ditandai dengan zona merah, risiko sedang ditandai dengan zona oranye, risiko rendah dengan zona kuning. Adapun zona hijau adalah daerah yang tidak atau belum terdampak.

 

Penegasan syarat PTM 2021, sambung H Arifin Junaidi, selain dengan syarat sekolah tersebut berada di zona hijau dan kuning; Pembelajaran Tatap Muka dilaksanakan 50% dari kapasitas kelas dan selebihnya tetap pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kemudian, tatap muka dilaksanakan dengan shifting yakni harinya bergantian untuk 50% murid lainnya; PTM tetap menerapkan prokes (protokol kesehatan) yang ketat.

 

"Karena itu pemerintah harus membantu sarpras untuk prokes, baik sekolah negeri maupun swasta," tegas Kiai Arjuna panggilan akrab H Arifin Junaidi.

 

Selain itu, Kiai Arjuna menyampaikan bahwa pelaksanaan PTM di sekolah yang seluruh tenaga didik dan kependidikan telah divaksinasi. "LP Ma’arif NU PBNU meminta pemerintah sebagaimana pernyataan Menteri Pendidikan Kebudayan dan Ristek RI terkait kebijakan prioritas Vaksin bagi guru dan tenaga kependidikan harus segera dituntaskan vaksinasinya," imbunya.

 

Dijelaskan, pembelajaran tatap muka di sekolah/madrasah sudah seharusnya dilakukan. Hal tersebut berdasarkan evaluasi, PJJ selama pandemi Covid-19, tidak berjalan efektif sebagai bagian dari proses pendidikan.

 

"Dalam ranah kognitif saja, PJJ tak bisa berlangsung dengan baik, apalagi dalam ranah psikomotorik. Banyak sekolah dan madrasah yang tak dapat melaksanakan praktikum dan preaktek baik (karakter) di lingkungan sekolah dan madrasah," kata Kiai Arjun.

 

Lebih dari itu, dalam ranah afektif PJJ tak dapat mewujudkan tujuan pendidikan. TIK tak dapat menggantikan guru, lebih-lebih untuk pengembangan afeksi untuk anak didik. "Hal ini diakui Kemendikbud sejak awal sehingga Kemendikbud tidak menuntut ketuntasan kurikulum dalam PJJ," pungkas Kiai Arjun.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Alhafiz Kurniawan

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya