Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Rais 'Aam PBNU: Peninggalan Syekh Kholil Bangkalan Perlu Dihidupkan Kembali

Rais 'Aam PBNU: Peninggalan Syekh Kholil Bangkalan Perlu Dihidupkan Kembali
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. (Foto: dok. NU Online)
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. (Foto: dok. NU Online)

Jakarta, NU Online

Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menuturkan bahwa peninggalan-peninggalan Syekh Muhammad Kholil Bangkalan perlu dihidupkan kembali. Hal tersebut bertujuan agar mendorong kesadaran generasi saat ini yang memiliki amanat ilmiah. 


“Itu amanah tertinggi terutama di era kebingungan dan era ketidakmenentuan ini. Terutama sanad-sanad yang muttashil ulama-ulama nusantara karena ada kesamaan. Kesamaan di dalam transfer ilmu,” tutur Kiai Miftach dalam Seminar Nasional Sejarah dan Turats Syekh Kholil Bangkalan yang disiarkan langsung TVNU, pada Senin (7/6). 


Ia menjelaskan, jika umat Islam Indonesia mampu membedah turats atau peninggalan para ulama, termasuk Syekh Kholil Bangkalan, maka akan mengetahui dan mudah mengungkap berbagai hal yang disenangi serta dasar-dasar keagamaan yang digunakan Syekh Kholil.


“Tentu peninggalan-peninggalan itu berupa tulisan-tulisan manuskrip yang menjadi amanah ilmiah yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita, terutama almarhum almaghfurlah al-waliyyul kabir Sayyidina Kholil Bangkalan,” tutur Kiai Miftach.


Berbagai manuskrip yang menjadi peninggalan para ulama terdahulu itu ditulis sebelum adanya percetakan. Namun saat ini, kata Kiai Miftach, berbagai percetakan dan teknologi digital sudah beredar luas sehingga mampu menyimpan berbagai ribuan kitab sebagai upaya menyebarkan ilmu. 


“Alhamdulillah sekarang percetakan-percetakan ada di mana-mana. Ini sebuah hadiah besar bagi generasi zaman, untuk bisa menggali dan mempelajari makhtutat (tulisan) para ulama sehingga bisa menjadi jembatan penghubung antara mutaakhirin dengan mutaqaddimin. Pada akhirnya kita bisa meniru kebaikan para mutaqaddimin,” ujar Kiai Miftach.


Sebelumnya, Katib Syuriyah PBNU KH Afifudin Dimyathi menjelaskan bahwa Syekh Kholil Bangkalan memiliki peran di bidang agama, pesantren, dan negara. Di bidang agama, Syekh Kholil menjadi rujukan para ulama Indonesia dan dunia. Bahkan menjadi penghubung antara ulama Indonesia dan Haramain. Syekh Kholil juga mampu ‘melahirkan’ ulama di berbagai keahlian.


Beberapa di antara murid Syekh Kholil Bangkalan adalah KH Hasyim Asy’ari di bidang hadits, KH Wahab Chasbullah pada pergerakan politik dan negara, KH Bisri Syansuri di bidang fiqih, serta Kiai Romli di bidang tasawuf. 


Selain itu, Syekh Kholil pun telah menghubungkan jaringan intelektual Indonesia dan Haramain seperti Syekh Khatib Sambas. Kemudian, ilmu-ilmu yang didapat dari guru-guru di Haramain itu disebarkan di Indonesia. 


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya