Home Nasional Keislaman English Version Baru Fragmen Internasional Risalah Redaksi Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Dampak Orang Tak Tahu tapi Merasa Tahu dalam Agama

Dampak Orang Tak Tahu tapi Merasa Tahu dalam Agama
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Metro, Lampung KH Jamal Idrus Assyafii . (Foto: NU Online/Faizin)
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Metro, Lampung KH Jamal Idrus Assyafii . (Foto: NU Online/Faizin)

Pringsewu, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Metro, Lampung KH Jamal Idrus Assyafii merasa prihatin di zaman sekarang banyak orang yang dengan serampangan menafsirkan Al-Qur’an tanpa disertai dengan ilmu.


Hal ini diperburuk dengan banyaknya konten-konten agama di media sosial yang disampaikan bukan oleh para ahlinya. Kondisi ini menurutnya berbahaya karena akan dapat merusak pemahaman umat dalam beragama.


“Yang membuat rusak umat itu adalah orang yang tidak tahu tapi merasa tahu. Seharusnya yang bukan di bidangnya tidak ikut-ikut berbicara,” kata Kiai Jamal di Kabupaten Pringsewu, Ahad (13/6).


Dalam memahami Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum dalam Islam lanjutnya, diperlukan berbagai disiplin ilmu. Bukan hanya bermodalkan Qur’an terjemah, seseorang bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Allah SWT. Tanpa ilmu yang mendalam, maka ilmu-ilmu yang ada dalam Al-Qur’an pun tidak bisa dikeluarkan dan dikembangkan.


“Al-Qur’an itu seperti mutiara yang di laut dalam. Diperlukan berbagai macam ilmu dan cara untuk mendapatkannya. Jangan coba mendapatkannya tanpa ilmu karena sangat berbahaya,” katanya saat memberikan mauidzah hasanah pada Haflah Akhirussanah Pesantren Madinatul Ilmi Kecamatan Pagelaran, Pringsewu.


Sebelum memahami Al-Qur’an, dibutuhkan berbagai disiplin ilmu yang butuh dipelajari dalam waktu yang tidak sebentar. Menafsirkan Al-Qur’an tanpa bermodal kedalaman ilmu menurut Kiai Jamal merupakan tindakan gegabah dan mengakibatkan hal yang fatal.


“Kata yang sama dalam Al-Qur’an bisa berbeda makna atau maksudnya karena beda tempat dan waktu turunnya. Sehingga perlu kecerdasan dan keluasan ilmu dalam memahami,” ia mengingatkan.


Ia mengibaratkan jika yang bukan ahli dalam bidang mesin maka jangan sekali-kali menawarkan diri untuk memperbaiki mobil yang rusak. Bukannya akan bisa kembali normal, kondisi mobil malah bisa dipastikan akan bertambah rusak.


Lebih lanjut ia pun menjelaskan bahwa keunggulan manusia dari makhluk ciptaan Allah lainnya di muka bumi ini adalah ilmu. Ilmu jugalah yang menjadi wahyu atau pesan pertama yang disampaikan oleh Allah SWT kepada para nabi dan rasulnya mulai dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad SAW.


Dengan adanya perkembangan ilmu yang dimiliki manusia ini, peradaban dunia pun ikut berkembang. Perubahan zaman yang terjadi dari masa ke masa ini tidak bisa terlepas dari penemuan ilmu-ilmu baru. Bukan hanya dalam bidang umum, perkembangan ilmu agama juga terjadi dan terus berkembang.


Sehingga ia mengingatkan bahwa ilmu menjadi hal yang penting dalam kehidupan. Termasuk dalam beragama, setiap orang harus memiliki ilmu sehingga beragama bukan hanya bermodal semangat saja.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online